
Berhubung Sakia sedang keluar bersama Nada dan Nurin, maka Fattan berinisiatif menyiapkan malam. Pria itu menghias ruangan seindah dan seromantis mungkin. Dia menggeser sofa, membawa kursi dan meja di ruangan tengah. Di sekeliling kursi dan meja makan ada lampu hias yang dibentuk love. Di dinding, ada tulisan Happy birthday istriku.
Setelah selesai menyiapkan makan malam dan membuat kue ulang tahun untuk istrinya, Fattan memilih membersihkan tubuhnya. Usai mandi, pria itu menunaikan shalat tiga rakaat. Setelah itu ia ke sofa menunggu istrinya pulang.
"Sudah mau isya dan Sakia belum juga kembali. Ya Allah, semoga dia baik-baik saja di jalan" batin Fattan. Pria itu tidak berpikiran jelek tentang istrinya melainkan cemas dan takut istrinya kenapa-napa di jalan.
Seulas senyum tersungging manis di bibir Fattan saat pria itu mendengar bunyi motor berhenti tepat di garasi ruko. Fattan yakin, itu pasti motor Sakia. Fattan menekan saklar lampu, membiarkan ruangan menjadi gelap gulita.
Di lantai satu, Sakia mengerutkan keningnya melihat lampu di lantai dua ruko tiba-tiba padam. "Bukannya lampu tetangga menyala. Kenapa di kami lampunya padam?" tanya Sakia pada dirinya sendiri.
Sakia menapakkan kaki di tangga, naik dengan sangat hati-hati. Ponsel wanita itu kehabisan daya hingga dia tidak mengabari Fattan. Dan tidak bisa menghubungi Fattan untuk menanyakan keberadaan Fattan.
"Kenapa pintunya nggak dikunci?" gumam Sakia bertanya-tanya. Lalu masuk ke dalam ruko hingga tiga langkah ke depan.
"Jangan-jangan ada pencuri di ruko. Ya Allah, jangan bilang mereka menculik Kak Fattan. Bagaimana ini, mana ponselku mati total. Aku harus meminta bantuan para tetangga" gumam Sakia pelan lalu berbalik menghadap pintu.
Tiba-tiba lampu hias menyala. Bentuk love terlihat indah mengelilingi meja makan dan di dinding. Di atas meja makan, ada kue ulang tahun bertulis "Happy birthday istriku"
Sakia meneteskan air mata haru. "Kak Fattan" panggil Sakia. Dia yakin, suaminya yang menyiapkan itu semua.
Fattan tersenyum kemudian keluar dari tempat persembunyiannya. "Selamat ulang tahun istriku. Semoga hatinya yang sekeras batu itu segera rapuh dan bisa menerima cinta suaminya. Semoga semakin sholehah dan semoga cita-citanya terkabul. Aamiin" ujar Fattan.
Sakia terisak menatap suaminya. "Kakak" panggilnya dengan pelan. Fattan menghampiri istrinya, menyeka bulir bening yang membasahi pipi istrinya.
"Kenapa menangis? Apa Kia nggak suka?" tanya Fattan.
Sakia menggeleng cepat lalu memeluk erat suaminya. "Terima kasih" ucapnya terisak. Untuk pertama kalinya, Sakia memeluk suaminya. Biasanya Fattan yang selalu memeluknya.
Fattan membalas pelukan istrinya. "Sekarang saatnya kita makan malam. Kakak sudah lapar" kata Fattan tersenyum.
Sakia melerai pelukannya. Wajahnya memerah saat menyadari sikapnya. "Kenapa aku memeluknya" batin Sakia.
__ADS_1
"Jangan malu-malu. Kak Fattan tahu, Kia pasti malu. Hehehehe" cengir Fattan.
Makan malam pun dimulai. Sakia makan makanan yang dimasak oleh suaminya. Lagi-lagi itu masakan pertama Fattan yang dicicipi oleh Sakia. Entah Fattan yang terlalu sibuk atau Sakia yang terlalu rajin hingga selama mereka menikah, selalu Sakia yang memasak, mencuci, bahkan menyiapkan pakaian untuk Fattan.
"Dek, Kakak punya hadiah untuk kamu. Tapi hadiahnya nggak bisa dibawa ke sini. Jadi besok baru kita lihat hadiahnya ya" kata Fattan.
"Selamat ulang tahun Kakak" ucap Sakia tersenyum lebar.
"Kia ingat ulang tahun Kakak" tanya Fattan tak percaya.
"Kan Kia lahir di hari ulang tahun Kakak" jawab Sakia.
Berhubung keduanya berulang tahun di tanggal dan di bulan yang sama, maka mereka merayakan ulang tahun bersama. Menghabiskan malam di ruang tengah sambil menikmati kue ulang tahun buatan Fattan yang lumayan enak, menurut Sakia.
...🍁🍁...
Usai shalat subuh. Fattan tak seperti biasanya lagi. Jika biasanya dia hanya tahu ada, maka sekarang dia membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Itulah tips yang disarankan Papa Aziz. Kata Papa Aziz. "Wanita akan merasa jauh lebih bahagia bila pekerjaannya dibantu" Entah suami sendiri yang bantu atau suami mencarikan ART untuk mengerjakan pekerjaan rumah agar istri bisa bersantai.
"Di mana?" tanya Sakia sambil mencuci piring.
"Kalau diberitahu sekarang berarti nggak surprise dong" balas Fattan.
Setelah menjemur pakaian, Fattan menyapu lantai. Sementara Sakia memasak dan menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Setelah selesai, mereka berdua sarapan. Usai sarapan, Fattan masuk ke kamar mandi sementara Sakia menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya.
Sejam telah berlalu, Fattan pamit untuk pergi kerja. Seperti biasa, Sakia akan mencium tangan suaminya. Dan lagi-lagi ada kemajuan dalam rumah tangga Sakia dan Fattan. Jika biasanya Fattan tidak mencium istrinya, maka kali ini Fattan mulai mencium istrinya sebelum dia berangkat kerja dan Sakia tidak menolak.
"Hati-hati, Kak" ujar Sakia melambaikan tangannya.
"Iya. Kalau kerja jangan sampai lelah" kata Fattan sebelum masuk ke dalam mobil.
Setelah kepergian Fattan, Sakia naik ke lantai dua untuk mandi. Sepanjang menapakkan kaki di tangga, Sakia terus tersenyum. "Apa aku mulai jatuh cinta lagi pada Kak Fattan? Kenapa aku bahagia" gumam Sakia.
__ADS_1
...---...
Terik matahari mulai terasa panasnya. Adzan dzuhur mulai bergema. Di rumah sakit, Fattan sedang beristirahat di ruangannya. Pria itu mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk istrinya.
"Assalamualaikum, Dek. Udah makan?" Fattan.
Ting!! Satu notifikasi pesan masuk setelah hampir dua menit Fattan menunggu balasan pesan dari istrinya.
"Waalaikumsalam. Belum, Kak. Kia masih menunggu Nada shalat, setelah itu baru Kia dan Nada makan. Kakak udah makan?" Sakia.
"Jangan telat makan, nanti sakit. Jangan sampai cape juga. Kakak udah makan sama rekan kerja" Fattan.
"Iya, Kak. Kia makan dulu ya, Nada udah selesai shalat" Sakia.
Fattan kembali bekerja setelah berbalas pesan dengan istrinya. Pria itu sudah tidak sabar menunggu waktu sore. Di mana di sore nanti, dia akan membawa istrinya ke suatu tempat. Tempat di mana mereka berdua akan menua bersama.
...🍁🍁...
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, Sakia sedang berdiri di depan ruko menunggu Fattan pulang dari rumah sakit. Wanita itu sengaja menunggu suaminya di depan ruko karena Fattan sudah dalam perjalanan pulang dan tinggal beberapa menit lagi sampai di ruko.
"Itu Kak Fattan" gumam Sakia tersenyum.
"Hih! Kenapa aku bahagia Kak Fattan datang!!" ketusnya dalam hati.
"Ayo naik" ajak Fattan.
Sakia memasang ekspresi wajah biasa saja. Dia tidak mau menampakan rasa bahagianya. Dia malu, takut Fattan tahu kalau wanita itu sedang bahagia. "Apa aku sudah jatuh cinta" batin Sakia melirik suaminya.
Sembilan belas menit telah berlalu. Fattan dan Sakia hampir tiba di tempat tujuan. "Tutup mata" titah Fattan.
"Loh, kenapa harus tutup mata?" tanya Sakia.
__ADS_1
"Tutup saja" titah Fattan.