Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 89


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju rumah sakit tempat Aziz bekerja, terjadi tabrakan antara mobil dan motor hingga menewaskan sang pengendara motor. Kecelakaan maut itu membut jalan raya macet. Amrita menurunkan kaca mobil melihat korban yang di bawah masuk ke dalam ambulance. Lalu menutupnya kembali.


"Mas, hari ini aku pulang jam empat. Nanti aku jemput Mas di rumah sakit" jelas Amrita. Hari ini Aziz tidak mengendarai sepeda motornya karena ban dalam motornya bocor.


"Iya, Sayang. Bagaimana suasana kampus?" tanya Aziz.


"Suasan kampus masih seperti hari-hari sebelumnya. Namun mata kuliah yang ada praktikumnya, disemester ini habis. Tinggal beberapa minggu lagi kami akan Sarjana Lab" balas Amrita.


"Alhamdulilah. Itu berarti kamu tidak akan berkelut dengan mesin ketikmu lagi" ujar Aziz tersenyum lebar. Pria itu merasa legah mendengar jawaban istrinya. Jika istrinya sudah Sarjana Lab maka sang istri sudah memiliki banyak waktu untuk beristrahat.


Aziz menepikan mobilnya di depan rumah sakit, lalu turun dari mobil. "Sayang, hati-hati ya. Dan semangat belajarnya" katanya sembari tersenyum.


"Iya, Mas. Nanti aku jemput ya. Jam empat aku sudah di sini" balas Amrita.


--


Fakultas Mipa


Amrita baru saja memakirkan mobilnya diparkiran kampus. Tepatnya di depan Fakultas Mipa. Lalu turun menghampiri teman-temannya yang sementara duduk di parkiran motor. Mereka menunggu Asisten Laboratorium untuk meminta tanda tangan di kartu kontrol atau sering disingkat dengan katrol, serta meminta nilai laporan.


"Amrita, mana katrol mu?" tanya Hanin.


"Katrol mata kuliah apa?" Amrita balik bertanya. Disemester enam ada tiga mata kuliah yang ada praktikumnya. Yaitu Fitokimia Lanjutan, Analisis Farmasi Lanjutan, dan Teknologi Sediaan Steril.


"Fitokimia lanjutan dan Analisis Farmasi lanjutan" balas Hanin.


Amrita kembali ke mobil mengambil zipper bag kancing yang berisi laporan dan kartu kontrol. Lalu kembali menghampiri teman-temannya. "Hanin, ini" ujar Amrita sembari menyodorkan kartu kontrolnya.


Hampir satu jam mereka menunggu, Asisten Lab yang mereka tunggu kedatangannya baru saja datang. Amrita dan teman-temanya mengikuti asisten tersebut hingga ke lantai tiga. Semuanya menghela napas kasar saat sang asisten tak menghiraukan mereka dan malah masuk ke dalam Laboratorium.


"Ya Allah, ujian Asisten Laboratorium lebih berat daripada ujianmu ya Allah. Mana yang menguji kami adalah kekasih hati. Ingin rasanya aku meminta putus" gumam Maya menatap langit.


"Hahahaha" semua anggota kelompok Amrita tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Maya.

__ADS_1


Cek--lek... (Pintu Lab terbuka) Asisten yang dicari menatap satu persatu praktikan yang mencarinya. "Kumpul semua kartu kontrol kalian" titahnya dengan tegas dan tanpa ekspresi senyum


Hanin mendekat lalu menyodorkan semua kartu kontrol yang terkumpul, berdasarkan mata kuliah. "Ini, Kak" ucap Hanin.


"Tunggu di sini sebentar, nanti aku panggil jika sudah memberi kalian nilai" jelas Kak Nuki. Asisten tertampan di Laboratorium Analisis Farmasi Lanjutan.


"Baik, Kak" balas Hanin.


Kak Nuki masuk ke dalam Laboratorium. Tiga puluh menit setelahnya, Kak Nuki kembali membuka pintu Laboratorium. Pria itu menggeleng melihat beberapa wanita yang sedang cengar cengir.


"Kalian berlima" Kak Nuki menujuk Amrita, Hanin, Affi, Maya dan Safna. "Ganti foto kalian. Kalian sudah semester enam tapi masih saja melanggar aturan. Sudah diingatkan, untuk foto kartu kontrol harus seperti foto KTP! Kenapa kalian memajang foto model di sini? Mana lipstiknya merah merona lagi!" sambung Kak Nuki menatap kelima wanita yang ia sebut.


Fakri dan Ade tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya kedua pria itu yang tertawa, tiga teman kelompok mereka yang perempuan juga ikut tertawa.


"Kalian berlima bisa lihat di katrol Nafisa, Anggi dan Dea" sambung Kak Nuki lagi.


"Lihat saja kamu Kak Nuki, jangan harap aku mau keluar malam denganmu" batin Maya, kekasih Kak Nuki.


"Baik, Kak. Nanti kami ganti" balas Amrita menahan tawa.


"Sudahla Maya. Kalian yang salah, bukan Kak Nuki. Memang aturan foto yang ditempel kartu kontrol adalah foto yang seperti foto KTP, bukan foto bergaya. Menurut aku sih benar kata Kak Nuki, lipstik kalian berlima terlalu ceriah. Merah merona seperti orang yang mau ke kondangan" ujar Ade menertawakan teman-temannya.


--


Pukul empat sore. Amrita sudah berada di depan rumah sakit. Dari kejauhan, Aziz terlihat tersenyum sambil mengedarkan pandangannya ke sana kemari memastikan kendraan yang berlalu lalang.


"Kamu dari tadi sampai?" tanya Aziz sambil membuka pintu mobil dan duduk disamping kursi kemudi.


"Belum lama, Mas" balas Amrita.


Amrita melajukan mobilnya menuju perumahan. Di perjalanan, ponselnya berdering tertera nama Ibu di sana. Dengan segera Aziz mengambil alih ponsel istrinya dan menjawab panggilan video call dari ibunya.


"Assalamualaikum anak Papa, Fattan dan Fadila" ucap Aziz melihat dua anaknya tersenyum menatap kamera.

__ADS_1


"Papa Aziz, jangan lupa belikan Nenek terang bulan ya" pintah Tante Eka tersenyum.


"Iya Bu. Nanti aku singga belikan. Ibu, apa tadi Fattan dan Fadila menangis?" balas Aziz, lalu bertanya.


"Tidak, Nak. Fattan mulai aktif sekarang. Sekarang dia yang selalu jagain adeknya kalau Ibu lagi ke kamar mandi. Kamu kan tahu sendiri Papa kamu. Kadang anak bayi yang jagain dia, bukan dia yang jagain anak bayi" jelas Tante Eka.


"Ibu ni, fitnah Papa terus!!" ketus Pa Sofyan.


Amrita dan Aziz terkekeh. "Ya sudah, Bu. Aku dan Amrita sebentar lagi nyampe rumah. Bye bye Fattan, Fadila" ujar Aziz.


Amrita menepikan mobilnya dipinggiran jalan. Ia menunggu di mobil sementara suaminya memesan terang bulan. Mata indah Amrita terus menatap suaminya. "Ya Allah. Akulah wanita beruntung yang mendapatkan suami sebaik Mas Aziz. Berbakti pada kedua orang tuanya, bertanggung jawab pada anak istri, dan begitu pandai dalam menjaga pandangannya" batin Amrita.


"Mas, kamu saja ya yang menyetir" pinta Amrita saat suaminya membuka pintu mobil. Rasa kantuk yang tak bisa ditahan, membuatnya takut untuk menyetir.


Tanpa menjawab, Aziz menutup pintu mobil setelah meletakkan kotak terang bulan di kursi belakang lalu membuka pintu mobil bagian depan dan duduk di kursi kemudi. "Sekarang kamu tidur, manti aku bangunin kalau sudah sampai" kata Aziz menoleh kaca spion lalu melanjutkan perjalanan mereka.


--


Perumahan Citralanda Hertasning


Aziz tidak tega membangunkan istrinya. Namun tak baik jika membiarkan istrinya tidur menjelang magrib. "Mas, aku tahu kamu sedang berpikir. Cepat gendong aku, aku malas jalan" ujar Amrita tanpa membuka mata.


Aziz tersenyum lalu menggendong istrinya, membawanya masuk ke dalam rumah. Fattan dan Fadila berdiri melebarkan tangan. Mereka juga minta digendong seperti Mama mereka.


"Turunkan aku, Mas. Sepertinya aku tidak mengantuk lagi" jelas Amrita saat melihat kedua anaknya.


Aziz menurunkan istrinya. Lalu dia dan istrinya menghampiri anak mereka. Saat Fattan dan Fadila hendak memeluk Amrita dan Aziz, kedua orang tua itu menolak.


"Mama dan Papa belum bisa memeluk Fattan dan Fadila. Papa bau obat, dan Mama bau keringat. Mama dan Papa mandi dulu, setelah itu main sama Fattan dan Fadila" jelas Amrita tersenyum. "Fattan dan Adek sama Nenek dulu ya" sambungnya yang dibalas anggukan oleh kedua anaknya.


"Aziz, mana terang bulannya?" tanya Tante Eka.


"Aku lupa di mobil, Bu. Tunggu aku ambil ya" balas Aziz.

__ADS_1


"Yes!! Makan terang bulan lagi!!" sorak Pak Sofyan dan Tante Eka bersamaan.


__ADS_2