Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 21


__ADS_3

Perumahan Hertasning


Sesuai janjinya, Amrita memasak makanan yang sangat enak. Ada sayur, ikan bakar bumbu rica-rica dan beberapa menu lainnya. Di dalam kamar, Aziz mencium bau harum ikan bakar bumbu rica-rica. Dengan segera, ia ke luar dari kamar menuju dapur.


"Wah... pasti rasanya sangat enak" ujar Aziz. Ia tidak sabar untuk mencicipi ikan bakar buatan istrinya.


"Iya dong. Om, bagaimana jika kita buat kesepakatan?" pintah Amrita dengan senyum sembari mengedipkan matanya berulang ulang.


Aziz menaikkan sebelah alisnya. "Kesepakatan apa?" tanyanya.


"Jika Om meminta tambah ikan bakar yang aku masak, maka itu tandanya Om memberiku izin untuk pergi mendaki. Namun, jika Om tidak meminta tambah ikan bakar, maka aku siap untuk tidak pergi mendaki" jelas Amrita.


"Oke siap. Sajikan semua makanan yang kamu masak" balas Aziz tersenyum miring. Ia berencana mengerjai istri nakalnya.


Amrita menyajikan makanan di atas meja. Ada ikan bakar bumbu rica-rica, sayur kol yang dicampur dengan wortel, tempe, tahu goreng dan nasi tentunya.


Aziz menelan salivanya saat melihat makanan yang tersaji di atas meja. Terlebih lagi ikan bakar bumbu rica-rica yang sangat ia gemari. Ingin rasanya ia melahap semua makanan yang ada di atas meja.


Amrita mengambilkan nasi untuk suaminya. "Om, untuk lauknya Om ambil sendiri saja. Ingat kesepakatan kita" kata Amrita sembari menyerahkan piring yang berisi nasi.


Aziz menerima makanan yang diberikan oleh istrinya. Ia pun mengambil lauk sendiri. Ikan bakar, tahu, tempe dan sayur. "Apa kamu tidak makan?" tanya Aziz saat melihat istrinya hanya duduk santai di kursi.


"Setelah Om makan baru aku makan" balas Amrita.


"Aku yakin, Om pasti akan meminta tambah. Dan tidak mungkin Om Aziz akan memakan semua ikan bakar yang aku buat" batin Amrita.


Aziz melahap makanan yang ada dipiringnya. Satu ekor ikan panggang telah ia habiskan. Setelah ikannya habis, Aziz kembali mengambil ikan yang ada di piring. Bukan hanya sekali atau dua kali Aziz meminta tambah, justru ia menghabiskan 4 ekor ikan yang dimasak oleh istrinya.


Amrita mendengus kesal saat ia tidak mendapatkan bagian. Ia mengira, bumbu pedas akan membuat Aziz memakan 1/2 dari jumlah ikan yang ia masak. Tapi nyatanya tidak, Aziz justru menghabiskan semua ikan yang ada di atas meja.


"Doyan atau kelaparan?" tanya Amrita menaikkan sebelah alisnya.


"Dua duanya, Amrita. Ikan dan sayurnya sangat enak, garamnya juga pas. Tidak asin atau pun tawar" balas Aziz.

__ADS_1


"Hahahahaha. Rasain istri nakal" batin Aziz. Sejujurnya, Aziz sudah berniat untuk memberi izin pada istrinya. Namun, saat ia mendapatkan tawaran dari istrinya, ia kembali mengurungkan niatnya. Ia yakin, ikan bakar buatan istrinya pasti enak.


"Dasar suami tidak sayang istri! Semua lauk dihabiskan!!" ketus Amrita.


"Harusnya kamu bersyukur karena aku menghabiskan semuanya. Dengan begitu, kamu bisa pergi mendaki. Amrita sayang, sesuai kesepakatan, aku, suamimu yang ganteng ini memberimu izin untuk pergi mendaki" jelas Aziz tersenyum. Ia melirik istrinya yang sedang memasang wajah masam karena ulah Aziz yang seenak jidatnya menghabiskan lauk.


"Hmmmm..." balas Amrita. Hanya itu yang ke luar dari mulutnya. Ia menyesal telah membuat kesepakatan bersama suaminya.


Aziz berlalu pergi meninggalkan Amrita seorang diri di meja makan. Ia tersenyum bahagia saat berhasil mengerjai istrinya.


"Itu balasan karena kamu berani mengunciku dari luar kamar" gumam Aziz.


Rumah Sakit Awal Bros


Di ruang kelas 2. Hanin masih setia menemani senior Hendri. Selang beberapa puluh menit, beberapa senior lainnya pun datang menggantikan Hanin.


"Hanin, sekarang kamu pulang dan istrahat. Besok pagi baru kamu datang lagi" ujar Haidir, senior Hanin dan Amrita.


"Baik Kak Haidir" balas Hanin.


"Kamu dari mana dan mau ke mana?" tanya Hanin.


"Dari Mall, temani ibuku dan mau antar kamu pulang" balas Fakri dengan pelan dan santai.


"Ciee... yang lagi shoping bersama ibu-ibu" ledek Hanin sembari duduk di atas motor.


"Kamu pilih mana, aku shoping dengan ibuku atau shoping dengan wanita lain?" tanya Fakri.


"Tak perlu aku jawab, aku yakin kamu pasti tahu jawabannya" balas Hanin. Saat diperjalanan, ponsel Hanin berdering. Hanin mengambil ponselnya di dalam tas lalu menjawab panggilan dari Amrita.


"Salam dulu baru bicara!!" ketus Hanin saat Amrita main nyosor aja kalau bicara.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu" Amrita mengucap salam.

__ADS_1


"Waalaikumsalam" balas Hanin.


"Aku mendoakanmu panjang kali lebar dan kamu hanya mengucap "waalaikumsalam". Apa kamu lupa apa yang diucapkan ustat saat kita ikut kajian?" ketus Amrita.


"Astagfirullah, aku lupa beb" balas Hanin.


"Beb nenekmu!" ketus Amrita. "Hanin, aku punya kabar baik juga kabar buruk" ujarnya cemberut.


"Kamu kenapa lagi?" tanya Hanin dengan serius.


"Kabar baik yaitu, Om tampan memberiku izin untuk pergi mendaki. Dan untuk kabar buruknya aku sangat ingin makan ikan bakar. Tadi aku memasak tapi Om tampan menghabiskan semuanya" jelas Amrita dengan suara lesuh.


"Datang ke rumahku, nanti aku buatkan makanan kesukaanmu" kata Hanin.


Perumahan Hestasning


Amrita bersorak girang, ia memutuskan panggilan lalu bersiap siap untuk menemui Hanin di rumahnya. Setelah selesai, ia berjalan mengendap endap karena kamar suaminya terbuka lebar. Secara otomatis, Aziz akan melihat Amrita saat Amrita berjalan ke luar.


Amrita mengintip ke dalam kamar suaminya, ia menyunggingkan senyum saat suaminya tidak ada di dalam kamar. "Pasti Om Aziz di dalam kamar mandi. Hahahahaha" gumam Amrita disertai tawa yang begitu pelan.


"Apa yang kamu lakukan di situ?" tanya Aziz menautkan keningnya. Ia berdiri dibelakang istrinya.


Amrita berbalik, ia tersenyum kikuk saat ketahuan oleh suaminya. "Tidak, aku tidak melakukan apa-apa" balas Amrita. Dengan segera ia berlari ke dalam kamarnya.


Aziz terkekeh melihat tingkah istrinya. "Berani beraninya dia mau ke luar tanpa izin" gumam Aziz mengeleng gelengkan kepala.


----------


Malam hari, Aziz sedang duduk di kursi yang terletak di ruang keluarga. Ia terlihat sedang membaca buku. "Amrita..." panggil Aziz.


Amrita yang sedang duduk di sofa menatap aneh suaminya. "Ada apa, Om? Apa Om sedang mengigau?" tanyanya.


"Buatkan aku kopi, usahakan jangan terlalu pahit dan jangan terlalu manis" kata Aziz tanpa memalingkan pandangannya.

__ADS_1


Amrita mendengus kesal namun menurut. Ia berjalan menuju dapur. Dengan lihai, Amrita membuat kopi untuk suaminya. Tak membutuhkan waktu lama, kopi kurang pahit dan kurang manis pun siap untuk diminum. Amrita berjalan menghampiri suaminya. Meletakan segelas kopi di atas meja kerja sang suami. Kemudian Amrita kembali ke tempatnya.


"Pandai juga dia membuat kopi" gumam Aziz tanpa mencoba rasa kopi buatan istrinya.


__ADS_2