
"Kau kenapa Sayang?" tanya Aziz sambil menghampiri istrinya.
"Mas, ayo kita foto bersama" ajak Amrita.
Aziz mengerutkan keningnya, ini kali pertama Amrita mengajaknya foto bersama saat keduanya di rumah. "Tumben" ujar Aziz.
"Sekali kali, Mas. Ayo cepat" ucap Amrita lalu mengambil ponsel suaminya.
Cekrek... Amrita mengambil gambar dirinya dan suaminya. Lalu membuka aplikasi Watshap dan memasang story di Watshap suaminya. Dalam postingannya ia menuliskan caption. "Sekuat apapun kamu berusaha, maka semua itu akan sia-sia saja. Aku bukan wanita awam yang menyimpulkan segala sesuatu dengan emosi. (Bajak Watshap suami)"
"Apa mbak pikir aku akan memarahi suamiku. Aku mengenalnya sekalipun pernikahan kami belum cukup setahun" batin Amrita.
"Amrita, apa Mas membuat kesalahan?" tanya Aziz sambil mengambil gorengan.
"Iya, Mas" balas Amrita tanpa menyimpan kebenaran.
Degh! Aziz meletakkan gorengan yang tadi diambilnya. "Apa kesalahan yang Mas perbuat?" tanya Aziz dengan serius.
"Mas menyimpan foto Kak Anaya di dompet" balas Amrita lalu mengambil tahu isi dan memakannya tanpa sisa.
"Astagfirullah. Mas berani bersumpah, Mas tidak menyimpan foto Anaya di dompet. Hanya foto pernikahan kita yang Mas simpan" jelas Aziz dengan serius.
"Oke. Mas, izinkan aku bertemu dengan Mbak Safira. Aku ingin memberi pelajaran pada wanita itu" izin Amrita.
"Tidak, Mas tidak memberimu izin" balas Aziz.
"Oh ya, apa Mas suka Mbak Safira berbuat sesukanya! Atau jangan-jangan Mas dan Mbak Safira bekerja sama untuk mempermainkan aku!!" tuduh Amrita.
"Amrita, Mas tidak---"
"Aku tidak mau mendengar penjelasan darimu Mas!!" potong Amrita lalu pergi meninggalkan suaminya.
Aziz mengusap wajahnya dengan kasar. "Sial!" umpat Aziz. "
--
Sementara di tempat lain, tepatnya di Perumahan Spindleswood Mansion, Safira menggeram kuat membaca caption pada story watshap milik Aziz. "Apa kau pikir aku akan diam begitu saja" gumam Safira tersenyum licik lalu mengirimkan pesan pada Amrita.
__ADS_1
"Temui aku di Fireflies Hertasning"
"Oke"
Safira bersiap-siap lalu mengambil kunci mobilnya. "Aku akan memberimu pelajaran karena telah melawanku" gumam Safira tersenyum sinis. Lalu keluar dari perumahan dan masuk ke dalam mobilnya.
Empat belas menit setelahnya, Safira pun sampai di Fireflies Hertasning. Ia duduk lalu memesan minuman sambil menunggu Amrita. Tak lama menunggu, Amrita masuk ke dalam Fireflies menghampiri Safira.
Amrita mengenakan baju kous lengan pendek warna hitam dan celana jins longgar serta spatu kets warna putih. Dan tak lupa tas selempang bahu kecil berwarna hitam.
"Penampilannya saja terlihat kampungan" gumam Safira tersenyum menghina.
"Kenapa Mbak memintaku bertemu di sini?" tanya Amrita mengambil tempat di depan Safira.
"Jangan terburu-buru. Kita minum bersama dulu" balas Safira tersenyum sembari memutar mutar sedotan yang ada di dalam gelas es cappucinonya.
"Aku tidak terbiasa duduk berlama-lama dengan wanita ganjen seperti Mbak" ujar Amrita tersenyum.
"Oke. Aku peringatkan padamu untuk tidak berharap lebih pada suamimu. Jika aku tidak bisa memiliki Aziz maka akan ku pastikan, rumah tanggamu tidak akan bertahan lama" jelas Safira mengancam Amrita.
"Hahahahaha. Baru kali ini aku bertemu seorang Dokter cantik yang mau menjadi pelakor" ujar Amrita tertawa lalu mengejek Safira.
Amrita terkekeh. "Oh ya, setahu aku Mas Aziz hanya memiliki satu mantan yaitu Kak Anaya. Itu buktinya selama ini Mbak Safira sudah menjadi wanita yang tak laku. Uppsss, aku tak bermaksud menyinggung kok, Mbak" ucap Amrita tersenyum.
"Jaga mulut kotormu itu!" seru Safira lalu berdiri dari duduknya.
"Apa! Apa Mbak pikir aku takut pada Mbak? Aku tidak takut siapapun Mbak, apalagi sama orang yang seperti Mbak Safira" balas Amrita sedikit meninggikan suaranya.
"Kau!" pekik Safira sembari mengangkat tangannya dan hendak mendampar Amrita. Namun, Amrita lebih dulu melayangkan tamparan di pipi Safira.
Plak!!
"Itu tamparan karena Mbak sudah mengganggu rumah tanggaku" kata Amrita lalu berjalan keluar.
"Dasar anak yatim!" seru Safira.
Amrita menghentikan langkahnya lalu kembali menghampiri Safira. "Aku anak yatim, tapi aku tahu cara bersikap baik sekalipun Ibu bapakku tidak sempat mengajariku sopan santun. Aku tidak mendapatkan ajaran dari orang tua, tapi sifatku tak sekeji Mbak Safira. Mbak harusnya malu, Mbak punya orang tua tapi Mbak bersikap seperti anak yang kurang didikan" jelas Amrita lalu pergi meninggalkan Safira yang menahan kesal.
__ADS_1
Amrita menghidupan motornya lalu kembali ke rumah. Dalam perjalanan, ia tersenyum bahagia karena sudah memberi pelajaran pada Safira. "Dasar wanita tak tahu malu" gumam Amrita.
Amrita memakirkan motornya di garasi. Di depan pintu, ia melihat Aziz yang sedang berdiri menunggunya. Dengan santainya, Amrita melewati suaminya lalu masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam.
"Kamu dari mana?" tanya Aziz mengekor dibelakang istrinya.
"Memenuhi ajakan Mbak Safira" balas Amrita dengan santai dan duduk di sofa.
"Kau baik-baik saja kan? Dia tidak menamparmu kan?" tanya Aziz memeriksa wajah istrinya.
Amrita terkekeh. "Mas, aku bukan lagi wanita yang mudah ditindas. Delapan belas tahun aku jadi yatim piatu. Dicaci maki dan di tampar serta dipukul sudah aku alami sejak kecil. Aku sudah dewasa sekarang, aku tidak akan membiarkan orang lain menghakimiku" jelas Amrita.
Aziz terdiam menatap sayu istrinya. Ada rasa iba yang hadir menghampirinya. Menggerakkan hatinya untuk memeluk erat Amrita. "Mas tidak janji, tapi Mas akan berusaha untuk melawan Safira. Mas sudah cukup bersabar karena Mas pikir dia perempuan. Namun, kali ini perbuatannya sudah sangat keterlaluan" ujar Aziz.
Aziz melirik arlojinya. "Jam delapan" batin Aziz.
"Sayang, ayo kita kita makan malam di luar" ajak Aziz tersenyum.
"Ayo..." sorak Amrita dengan girang.
--
Perumahan Spindleswood Mansion
Safira mondar mandir di dalam perumahan. Ia sedang memikirkan cara untuk membalas tamparan Amrita. Seulas senyum licik kembali tersungging di bibirnya.
"Kenapa aku tidak membayar begal untuk membalas rasa sakitku" gumam Safira.
Safira mengambil ponselnya dan mencari cari nomor seseorang. Setelah kontak yang ia cari ditemukan, wanita itu melakukan panggilan telepon. Selang beberapa puluh detik, seseorang diseberang telepon menjawab panggilan darinya.
"Aku punya tugas untukmu. Soal bayaran jangan kau cemaskan. Aku bisa memberimu uang lebih asalkan kau kerjakan apa yang aku perintahkan" jelas Safira pada lawan bicaranya.
"Kau tenang saja Safira. Anak buahku bisa menyelesaikan masalah dalam sekejap" balas seseorang diseberang telepon.
"Aku mengirim foto wanita lewat pesan watshap. Aku minta padamu untuk memberinya pelajaran. Jika bisa kau habisi saja dia" ujar Safira.
"Oke Safira, kau tahu kan nomor rekeningku. Transfer dulu sebagiannya baru tugas dijalankan" jelas pria itu lagi.
__ADS_1
Safira memutuskan panggilan telepon lalu mentransfer uang pada orang suruhannya. Setelah selesai, ia tersenyum bahagia sambil memutar ponselnya.
"Kau salah mencari lawan Amrita" gumam Safira.