Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 49


__ADS_3

Fakultas Mipa/Parkiran motor


Amrita terlihat lesuh, semalam ia tidak tidur nyenyak. Ia dan Aziz mengerjakan tugas pendahuluan hingga jam satu malam, saat Amrita hendak tidur, Aziz justru meminta haknya. Mau tidak mau, Amrita harus melayani suaminya.


"Kenapa matamu seperti itu?" tanya Hanin saat melihat mata panda sahabatnya.


"Biasa, kurang tidur" balas Amrita lesuh.


"Sudah, jangan lemas seperti itu. Cepat turun, sebentar lagi Pa Agus akan masuk mengajar" kata Hanin sembari merapikan rambutnya.


Hanin dan Amrita berjalan menuju kelas, langkah mereka terhenti saat seseorang memanggil mereka, dan ternyata itu Fakri. Fakri bergabung dengan kedua sahabatnya, ketiganya pun berjalan masuk ke dalam kelas lalu duduk di kursi masing-masing. Sambil menunggu Pa Agus, Amrita, Hanin dan Fakri memilih membaca materi hari ini.


"Assalamualaikum" Pa Agus masuk sambil memberi salam.


"Waalaikumsalam" balas semua mahasiswa bersamaan.


"Materi hari ini tentang Ruang lingkup kewirausahaan" kata Pa Agus. Pa Agus mulai menjelaskan apa itu Kewirausahaan dan apa-apa saja ruang lingkup kewirausahaan. Setelah selesai menjelaskan bagian-bagian dari ruang lingkup kewirausaan, Pa Agus mengakhiri materi dengan memberi tugas pada Mahasiswa.


"Tugas kalian yaitu, sebutkan dan jelaskan hal penting ketika ingin membuka usaha Apotek. Ingat! Tugasnya ditulis tangan bukan print out" kata Pa Agus sebelum ke luar dari ruangan.


"Iye Pa..." balas semua mahasiswa bersamaan.


Pa Agus ke luar dari ruangan setelah memberi salam. Tinggalah para mahasiswa di dalam, semua mahasiswa nampak lesuh saat tugas mereka semakin hari semakin banyak. Melihat teman-temannya banyak yang mengeluh, Amrita pun memberanikan diri untuk memberi usulan pada teman-temannya.


"Teman-teman, bagaimana kalau kita semua bekerja sama untuk mengerjakan semua tugas yang diberikan dosen. Nanti kita bagi soalnya di group kelas. Itupun kalau kalian setuju" kata Amrita.


"Ide bagus tuh. Kalau aku sih setuju" timpal Ade, laki-laki ganteng di dalam kelas. Bahkan, Fakri pun kalah ganteng.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Amrita.


"Setuju..." balas semua mahasiswa bersamaan.

__ADS_1


Berhubung hari ini keluarga Pa Adis dan keluarga Pa Sam datang, maka Amrita berniat pulang cepat ke perumahan untuk memasak. Dan kini, Amrita sedang berada di parkiran kampus bersama kedua sahabatnya.


"Fakri, aku sudah menghubungi Ibu dan Papa. Nanti malam mereka akan datang ke rumahku. Jika kamu mau, kamu dan Hanin bisa ke sana juga" kata Amrita sembari mengenakan helemnya.


"Ada acara apa sih di sana?" tanya Fakri, juga mengenakan helemnya.


"Jangan bilang kalau kamu hamil" timpal Hanin menatap sahabatnya.


"Bukan itu. Keluarga Pa Sam dan Pa Adis akan datang hari ini di Makassar dan mereka akan bermalam di rumahku. Jadi, aku mau kita makan malam bersama di sana" jelas Amrita.


Hanin dan Fakri mengangguk paham. "Oke, nanti kami datang" balas Hanin.


Perumahan Citraland Hertasning


Amrita sedang sibuk di dapur, banyak sayur dan daging yang ia beli. Menu yang akan ia buat hari ini adalah ayam palekko, ikan bakar sambal, dan ikan goreng. Tak lupa ia memasak buncis cambur telur dan sayur sup. Hampir dua jam Amrita berkutak di dapur, dan kini, makanan sudah matang dan sudah siap di atas meja makan.


"Semoga mereka suka dengan makanannya" gumam Amrita menatap makanan yang ia masak.


Beberapa menit kemudian, terlihat mobil berhenti tepat di depan perumahan. Amrita tersenyum saat melihat Aziz turun dari mobil, kemudian dua orang wanita, satu anak perempuan dan dua anak laki-laki juga turun dari mobil milik Aziz.


"Assalamualaikum" Miranti, istri Pa Sam memberi salam saat menghampiri Amrita.


"Waalaikumsalam. Mari masuk mbak" balas Amrita lalu menuntun keluarga Pa Sam dan Pa Adis untuk masuk.


Amrita menoleh ke arah pos satpam, namun Pa Adis dan Pa Sam tidak ada. "Mbak, nanti suami mbak yang akan mengangkat koper kalian ya" kata Amrita.


Berhubung kamar yang dilantai satu ada dua dan berseblahan, maka Amrita mengantar keluarga Pa Sam dan Pa Adis ke kamar mereka bersamaan.


"Mbak Miranti, ini kamar mbak dan putri mbak"


"Mbak Lisa, ini kamar mbak dan anak-anak"

__ADS_1


"Sekarang kalian mandi, setelah itu kita makan malam bersama" kata Amrita tersenyum.


"Terima kasih untuk tumpangannya Mbak" kata Lisa, istri Pa Adis.


"Sama-sama mbak" balas Amrita.


Amrita pamit ke depan untuk menghubungi Pa Adis dan Pa Sam. Tanpa dihubungi, Pa Sam dan Pa Adis sudah ada di pos satpam. Amrita menghampiri kedua scurty tersebut.


"Pa, cepat angkat koper keluarga Bapa. Mereka mau mandi" kata Amrita.


"Siap mbak..." balas Pa Sam dan Pa Adis bersamaan. Pa Adis dan Pa Sam berlari menghampiri mobil Aziz, membuka bagasi mobil lalu mengangkat koper dan karton yang ada di dalam mobil, membawanya masuk ke dalam rumah.


--


Karena ukuran meja makan terlalu kecil, maka Mbak Lisa memberi saran untuk melantai. Dan kini, mereka sedang duduk melantai. Tante Eka dan Pa Sofyan duduk berseblahan, begitupun dengan Hanin dan Fakri. Suasana makan malam begitu ramai, mereka seperti keluarga besar yang baru berkumpul.


"Mama, Beta mau makam ayam. (Mama, aku mau ayam)" kata Zian, putra mbak Lisa dan Pa Adis.


"Tunggu mama kasih ambil. (Nanti mama ambilkan)" balas Lisa lalu mengambilkan ayam untuk putranya.


Seusai makan malam, Mbak Lisa dan Miranti membantu Amrita dan Hanin. Mbak Miranti dan Mbak Lisa mengangkat piring kotor ke dapur sedangkan Amrita yang bagian mencuci, dan Hanin, dia yang merapikan piring bersih di meja makan. Seusai bersih-bersih, empat wanita itu bergabung dengan yang lainnya di ruang keluarga.


Miranti masuk ke dalam kamar, mengambil karton lalu membawanya ke ruang keluarga. "Mbak, ini oleh oleh dari kami" kata Miranti membuka karton lalu mengeluarkan semua yang ada di dalam karton. Ada kue serut, kue kering selei nanas, dan lima jenis kue kering lainnya.


"Ibu mau kue serut" kata Tante Eka mengambil dua bungkus kue serut.


"Bu, aku juga mau.." rengek Aziz. Ia belum pernah makan kue serut tapi dari penampilannya, sepertinya enak.


"Matamu!" ketus Tante Eka menunjuk kue serut yang masih ada di atas meja. Yang benar saja Aziz merengek sedangkan kue sarut masih ada.


Aziz terkekeh, membuat semua orang yang ada di dalam ruangan ikut tertawa. Itulah Tante Eka dan Pa Sofyan, mereka sangat baik terhadap orang lain, sehingga Aziz pun tidak canggung-canggung mengundang orang lain ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2