
Perumahan Citraland Hertasning
Bel rumah berdentang di pukul sepuluh malam. Aziz yang sedang berada di lantai satu, memilih beranjak dari duduknya dan membuka pintu rumah. Dilihatnya Aher terlihat berantakan. Rambutnya mulai tak terurus. Bahkan baju kameja yang ia kenakan pun terlihat kusut.
"Ayo masuk" ajak Aziz.
Aher tak menjawab, ia langsung masuk dan duduk di sofa. "Malam ini aku bermalam di rumah kalian" ujar Aher sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
"Iya. Lalu bagaimana? Apa lamaranmu di terimah?" tanya Aziz.
Amrita yang baru saja dari dapur membuatkan kopi untuk suaminya, sejenak mengerutkan keningnya melihat Aher yang berantakan. "Apa yang terjadi pada Om Aher" gumam Amrita.
"Mas, Om Aher kenapa lagi. Apa lamarannya di tolak?" tanya Amrita berbisik sembari menyenggol lengan suaminya.
"Aku juga tidak tahu. Ayo kita kerjakan tugasmu" balas Aziz lalu duduk melantai. Aziz mulai membantu istri tercintanya, mengerjakan tugas kampus yang tak berujung. Mulai dari tugas Anfisman, Fisika, Botani, TSP, kewirausahaan dan mata pelajaran lainnya.
"Sayang, kamu kerjakan tugas fisika. Untuk laporan biar aku yang kerjakan" ujar Aziz sambil mengambil alih mesik ketik dan kertas HVS dari hadapan istrinya.
"Iya, Mas. Terima kasih obatku" sahut Amrita tersenyum.
"Hiks, hiks, hiks... kenapa kalian bermesraan di depanku... bukankah kalian tahu kalau aku sedang putus cinta" ujar Aher sesegukan.
"Hahahahaha. Om, apa aku tidak salah dengar dan tidak salah melihat? Ya Allah, Om... Baru kali ini aku melihat laki-laki dewasa menangis. Apa putus cinta sesakit itu" tawa Amrita pecah dan berucap sesuka hatinya. Tentu saja Amrita tertawa. Baru kali ini dia melihat orang dewasa menangis sesegukan. Layaknya anak wanita yang galau karena cinta.
"Sayang" panggil Aziz menyenggol istrinya dan menggelengkan kepala. Meminta istrinya untuk tidak tertawa.
"Amrita, hatiku sakit Amrita... sia-sia aku mengumpulkan uang untuk bisa menikahinya. Apa yang harus aku lakukan, Amrita, Aziz... aku bingung sekarang" ujar Aher. Rasa sakit membuat senyumnya yang selama ini nampak, entah menghilang ke mana.
"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi. Allah sudah memberimu kesempatan tapi kau menyia-nyiakannya. Jika kau ingin menangis maka menangislah. Jika kau ingin tertawa maka tertawalah. Keputusan ada ditanganmu, merelakan atau hanyut dalam penyesalan" jelas Aziz.
"Aku ingin mengakhiri hidupku, Aziz" gumam Aher tak berdaya.
__ADS_1
"Silahkan jika kau ingin bunuh diri. Tapi jangan bunuh diri di rumahku. Aku masih ingin tidur bersama istriku bukan tidur di dalam jeruji besi" ucap Aziz. "Sebelum kau bunuh diri, aku sarankan kau searching firman Allah surat An-Nisa ayat ke 29-30" sambung Aziz.
"Tidak perlu searching, biar aku saja yang baca" timpal Amrita.
اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِّنْكُمْ ۗ وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا"
Terjemahan
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu"
وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ عُدْوَانًا وَّظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا ۗوَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا
Terjemahan
"Dan barangsiapa berbuat demikian dengan cara melanggar hukum dan zalim, akan Kami masukkan dia ke dalam neraka. Yang demikian itu mudah bagi Allah"
"Aku mau tidur saja, aku tidak mau bunuh diri" ucap Aher lalu memejamkan mata.
Aziz melanjutkan ketikannya. Kali ini bukan lagi laporan yang dia ketik melainkan Tugas Pendahuluan Farmasetika Dasar yang tidak bisa ditulis tangan, melainkan diketik menggunakan mesin ketik. Itu semua bukan maunya mahasiswa ataupun mahasiswi, tapi itu aturan langsung yang dibuat oleh Asisten Laboratorium. Yang mau tidak mau harus dipatuhi oleh semua mahasiswa yang mengambil Jurusan Farmasi di Kampus itu.
"Mas, ini selimutnya. Mas saja ya yang selimutin tubuh Om Aher. Ngak baik jika aku yang melakukannya" ujar Amrita sembari menyerahkan selimut tebal untuk suaminya.
Aziz tersenyum lalu mengambil selimut dari tangan istrinya. Kemudian beranjak dari duduknya dan menutupi sebagian tubuh sahabatnya. Setelah selesai, Aziz kembali duduk di samping istrinya.
"Mas, apa kita kerjakan tugas dan TP (Tugas Pendahuluan) di kamar saja?" tanya Amrita. "Kalau di sini ribut, nanti Om Aher tidak bisa tidur" sambungnya.
"Di sini saja. Malam ini kau akan tahu sendiri bagaimana Aher saat sudah tidur" balas Aziz.
Setelah mendengar jawaban suaminya. Amrita melanjutkan tulisannya. Ia mulai menulis jawaban yang dikirim oleh teman-temannya di group watshap. Hanya melihat bukan berarti Amrita tidak membantu mengerjakan tugas, tapi bagiannya sudah dia kerjakan, dari nomor satu sampai nomor tiga. Dan jawaban itu sudah ia kirim sebelum teman-temannya mengirim jawaban nomor empat hingga nomor lima belas.
--
__ADS_1
Pukul satu malam, Aziz telah selesai mengetik tugas pendahuluan. Cukup lama untuk menyelesaikan tugas pendahulan Farmasetika Dasar. Lama karena bukan hanya jawaban yang diketik, tapi soalnya juga harus diketik.
"Sayang, apa kau sudah selesai menulis?" tanya Aziz sambil merapikan kertas HVS yang berisi jawaban dan soal.
"Belum, Mas. Ini satu nomor lagi" balas Amrita.
"Ya sudah. Kamu selesaikan itu dulu, setelah itu kita istrahat" ujar Aziz . "Semangat sayangku" sambungnya tersenyum.
"Hehehe. Siap obatku" balas Amrita tersenyum dan kembali menulis jawaban yang terakhir. Lima belas menit setelahnya, Amrita telah selesai menulis semua jawabab dari tugas-tugasnya.
"Mas, ayo kita tidur. Mataku mulai berat dan sangat sulit untuk dibuka lagi" ajak Amrita.
"Ayo" ajak Aziz. Aziz dan Amrita pun naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar.
...-----...
Kicauan burung mulai terdengar. Menandakan bahwa pagi telah menyapa. Dilantai satu, Aher masih tertidur pulas. Dia yang semalam tidur di sofa santai kini berpindah di sofa bed.
"Mas, aku bangun duluan ya. Aku mau memasak dulu" bisik Amrita di telingah suaminya.
"Tunggu aku, Sayang" pintah Aziz yang berusaha membuka matanya. Setelah mengumpulkan nyawanya, Aziz menggeser selimut yang menutupi tubuhnya.
"Ayo Sayang" ajak Aziz. Dia dan Amrita pun turun ke lantai satu. Aziz menghampiri Aher sedangkan Amrita memilih ke dapur untuk memasak.
---
Aziz, Amrita dan Aher sedang makan pagi bersama. Menu pagi ini hanya tempe, sayur kacang panjang campur tahu goreng yang ditaburi kecap, dan telur sos merah.
"Aziz, hari ini aku tidak ke rumah sakit. Tolong izinkan aku ya" jelas Aher sehabis mengunyah makanannya.
"Apa kau pikir kita sedang sekolah. Seenak jidatmu bilang izin" sahut Aziz mengomeli sahabatnya.
__ADS_1