
Fattan mengukir senyum lebar setelah mendengar ungkapan hati istrinya. Ungkapan cinta yang keluar dari mulut wanita yang dia kejar cintanya beberapa bulan belakangan ini. Tak hanya senyum bahagia, Fattan meletakkan piring yang dipegangnya lalu memeluk erat istrinya.
"Kia, Kakak nggak akan sia-siakan kesempatan kedua yang Kia berikan pada Kakak. Kakak nggak akan mengulang kesalahan yang lalu. Terima kasih karena Kia mau membuka hati lagi untuk Kakak" ujar Fattan.
Sakia meneteskan air mata bahagia. Kepala yang tadinya sakit seakan sembuh setelah ia berhasil mengungkapkan perasaannya yang mulai tumbuh kembali. Kembali mencintai pria yang pernah dicintai adalah suatu kebahagiaan bagi Sakia. Terlebih lagi pria itu sudah menjadi suaminya. Pria yang dulu ia idamkan, menjadi imam dan ayah dari anak-anaknya. Haruskah Sakia berterima kasih pada Sabila? Karena rencana bodoh wanita itu, sehingga Fattan menyadari perasaannya. Dan Sakia bisa menikah dengan pria pernah yang dia impikan dulu.
Drt drt drt...
Fattan dan Sakia melerai pelukan mereka, saat mendengar ponsel Fattan berdering berulang kali. Fattan mengambil ponselnya lalu menjawab panggilan telepon dari Tante Hanin.
"Waalaikumsalam, Tante"
"Subhnallah. Iya Tante, nanti Fattan dan Kia ke rumah Tante"
"Iya, Tante. Assalamualaikum"
Setelah menerima panggilan telepon. Fattan tersenyum menatap istrinya. "Ada kabar bahagia dari Tante. Tante hamil. Alif bakalan punya adik kecil" jelas Fattan.
"Subhanallah. Itu rezeki, Kak. Allah masih memberi kepercayaan pada Tante. Boleh dikata umur Tante sudah tua" ujar Sakia.
"Tante panggil kita ke rumahnya tapi sepertinya kita nggak bisa ke sana. Kia masih sakit. Kakak nggak mau Kia kenapa-napa" kata Fattan.
Sakia beranjak dari tempat tidur lalu berdiri. "Lihat, Kia sudah sehat sekarang. Hehehehe" cengir Sakia. "Kakak, ayo kita ke rumah Tante. Kia nggak sabar lihat ekspresi Alif saat tahu Mamanya hamil" sambungnya tersenyum lebar.
Fattan cemberut. "Kita di rumah saja" kata Fattan menegaskan.
"Loh, kok gitu sih Kak" ujar Sakia cemberut.
"Kak Fattan cemburu. Memang sih Alif sudah move on, tapi masa iya Kia ke sana hanya untuk melihat ekspresi Alif" jelas Fattan.
"Hehehehe" kekeh Sakia.
...--...
__ADS_1
Kediaman Fakri
Keluarga besar Hanin dan Fakri sedang berkumpul. Mereka turut bahagia mendengar kabar kehamilan Hanin di usianya yang tua. Memang sangat berisiko tapi mau di apa, anak adalah rezeki dari Allah.
"Cie Alif, bakalan punya adik kecil nih" ledek Fadila menyenggol lengan adik sepupunya.
"Aku bahagia, Kak. Tapi aku juga sedih saat ini" kata Alif cemberut.
"Kenapa sedih?" tanya Mama Hanin.
"Mama, wanita yang kemarin aku ceritain ke Mama dan Papa, dia nggak mau nikah sama aku. Katanya sih keluarga kita dan keluarganya itu seperti langit dan bumi. Kita orang berada dan mereka orang nggak mampu. Katanya sih, lebih baik mencegah penghinaan sebelum terlambat" jelas Alif.
"Mama, Papa, tolong ke kampungnya dan lamar dia untuk aku" pinta Alif.
"Kasihan sekali cucu Kakek ini. Andai Kakek masih muda, Kakek pasti akan ke kampung nya dan melamar nya untukmu" ujar Kakek Sofyan.
"Opa juga sudah tua. Yang pasti, Opa dan Oma setuju bila kamu menikah dengan wanita yang kamu cintai" timpal orang tua Hanin.
"Nanti Om dan Papa kamu yang ke kampung wanita itu. Kasihan Mama kamu, usia kehamilannya masih sangat muda" ujar Papa Aziz.
Tik!! Fadila menyentil jidat Alif. "Sejak kapan keluarga kita suka menghina orang lain" kata Fadila yang dibalas kekehan kecil oleh Alif.
"Mana mungkin kami menghina wanita yang kamu cintai. Keluarga besar kita akan menerima wanita pilihanmu. Nanti Papa dan Om yang akan ke kampung wanita itu" ungkap Mama Hanin.
"Kamu tanya Nurin dulu. Kamu jelaskan padanya. Jika dia sudah memberi lampu hijau baru beritahu Papa kamu dan Om" ujar Fattan.
"Ehem!!" Nenek Eka berdehem. "Fattan, sudah isi apa belum?" tanya Nenek Eka.
Sakia yang sejak tadi diam, dia melirik suaminya. Dia menunggu jawaban Fattan. "Apa yang akan dijawab oleh Kak Fattan" batin Sakia.
Fattan tersenyum menanggapi pertanyaan Neneknya. "Mungkin belum rezeki, Nek" kata Fattan.
"Kia, jangan bersedih ya. Terus berdoa agar Allah memberi kalian kepercayaan. Sekalipun pernikahan kalian karena terpaksa, tapi coba bawa pernikahan itu karena Allah. Pernikahan yang diniatkan karena Allah nggak akan retak sekalipun tanpa kehadiran buah hati" ujar Nenek Eka.
__ADS_1
"Gimana mau punya anak kalau begituan saja belum. Jangankan begituan, ciuman saja belum" batin Sakia.
...--...
Alif langsung menemui Nurin di restoran. Sementara Fattan dan Sakia kembali ke ruko. Dan Fadila kembali ke rumahnya, karena suaminya memintanya langsung pulang. Dua jagoannya sangat nakal dan Farhan tidak mampu mengurus keduanya.
Ruko minimalis
Fattan duduk melantai di atas permadani. Sementara Sakia berbaring berbantalkan paha suaminya. Tanpa Fattan sadari, Sakia terlelap di siang hari. Mumpung Sakia masih kedatangan tamu, Fattan membiarkan Sakia tidur sekalipun adzan Dzuhur telah bergema di masjid.
"Akhir-akhir dia suka tidur" gumam Fattan.
"Terima kasih ya Allah. Akhirnya cintaku nggak bertepuk sebelah tangan lagi" batin Fattan.
...🍁🍁...
Waktu begitu cepat berlalu, tamu tak diundang sudah pulang. Fattan dan Sakia sedang berkemas-kemas ke rumah baru mereka. Kedua pasangan itu memutuskan untuk pindah ke rumah mereka sekalipun masa kontrak masih delapan 8 bulan lamanya.
Berhubung indekos yang ditempati Nada dan Nurin sudah sudah habis, maka Nada dan Nurin yang akan tinggal di ruko. Dan hari ini, kedua sahabat sekampung itu sedang membantu Sakia dan Fattan menurunkan koper mereka.
"Dek, bagaimana? Apa kamu sudah memberi lampu hijau pada Alif?" tanya Sakia sambil memasukkan koper ke dalam bagasi mobil.
"Kak Kia, aku takut. Kakak tahu sendiri kan bagaimana aku. Penampilanku saja masih terlihat kampungan sekalipun sudah beberapa tahun aku di Kota. Wajahku masih tanpa polesan bedak. Bibirku jarang bersentuhan dengan lipstik. Aku hanya takut diselingkuhin nantinya" jelas Nurin.
"Dek, Kak Kia rasa kamu sudah tahu apa yang membuat Alif jatuh cinta padamu. Pertahankan apa yang Alif suka darimu. Soal penampilan, kamu bisa mengubahnya" ujar Sakia.
"Pikirkan dengan matang. Jarang sekali ada pria yang seperti Alif" kata Sakia.
.
.
.
__ADS_1
.
Hai, Kak. Saya lagi pindahan kamar kos, jadi sibuk bersih-bersih kamar dan angkat barang, jadi nggak punya banyak waktu untuk menulis. Tadi mau menulis tapi tiba-tiba malas dan maunya tidur terus 🤣🤣