
2 hari kemudian
Sepulang kerja, Amrita memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian, Ia keluar dengan pakaian yang sudah diganti. Seperti biasa, Amrita akan duduk dipojokan kamar sambil memeluk kedua lututnya, menenggelamkan wajahnya di sana lalu menangis terisak.
"Ibu, ayah, aku kangen kalian. Hiks hiks hiks" ujar Amrita disela sela tangisnya. Tiba-tiba saja ponsel Amrita berdering. Tanpa menunggu lama, Amrita menjawab panggilan masuk.
"Assalamualaikum. Bagaimana Om?" tanya Amrita sembari menyeka air matanya. Sikapnya tidak seperti dengan beberapa hari yang lalu. Sikap itu hadir disaat Amrita sedang menstruasi. Hormon estrogen dan progesteron yang ada di dalam tubuh meningkat secara drastis dan pada akhirnya turut berpengaruh pada seluruh sistem tubuh, termasuk perubahan sikap yang jadi lebih sensitif.
"Waalaikumsalam. Amrita, apa kamu sibuk malam ini?" tanya seseorang disebarang telepon yang tak lain adalah Dokter Aziz.
"Tidak Om, aku tidak sibuk. Kan aku sudah lulus sekolah jadi tidak ada tugas sekolah lagi" balas Amrita.
"Kirimkan alamat tempat tinggalmu, aku akan datang menjemputmu. Ibu memintaku untuk datang menjemput kamu" ujar Aziz.
"Kirim saja alamat rumahnya Om, nanti aku ke sana dengan menaiki grab" balas Amrita.
"Tidak Amrita, ini malam bukan pagi ataupun siang. Tidak baik seorang wanita ke luar malam-malam" kata Aziz, ia menceramahi Amrita.
Amrita menghela napas panjang. "Baiklah, nanti aku share lokasinya. Assalamualaikum" ujar Amrita, ia pun mengakhiri panggilan telepon. Amrita mencari aplikasi Watshap, ia membukanya lalu mencari nama Om Aziz di kontak. Kemudian mengirim lokasinya.
"Aku tidak mau berpura-pura baik untuk disanjung oleh keluarga Om Aziz" gumam Amrita. Ia mengambil celana jins sobek-sobek warna putih dengan baju kous Navi lengan panjang yang agak longgar.
"Pa Sofyan dan Fakri tahu aku orangnya seperti apa. Jikapun aku ke sana mengenakan gamis, maka yang ada Pa Sofyan dan Fakri akan pingsan melihatku. Mana ada, wanita yang suka ikut tawuran mengenakan gamis" gumam Amrita, ia terseyum kecut saat membayangkan reaksi Pa Sofyan saat melihatnya mengenakan gamis.
Terdengar bunyi kalakson mobil dari depan kos, Amrita tersadar dari lamunan gilanya. "Apa itu Om Aziz?" gumamnya. Dengan penasaran, Amrita memilih ke luar ke balkon menatap ke lantai satu. Dan benar saja, Om Aziz sedang berdiri bersandar di mobil honda jazz warna merah miliknya.
__ADS_1
"Om, tunggu sebentar" kata Amrita. Aziz mendongak ke atas lalu mengangguk.
Amrita mengambil tas selempang kecil warna navi, ia menguci kamarnya lalu turun ke lantai satu. Sandal Teplek Wanita ARTHA SHOES adalah sendal yang ia kenakan untuk ke rumah ibu calon mertuanya.
"Om, ayo" panggil Amrita.
Aziz menatap Amrita dari ujung kaki hingga ujung rambut. "Kamu yakin akan memakai celana itu ke rumah?" tanya Aziz memastikan.
"Kenapa, apa ada yang salah?" tanya Amrita. Menurutnya penampilannya itu sudah sopan.
"Celana kamu, kenapa kamu gunting-gunting seperti itu dan bagaimana jika ibuku dan papaku lihat" ujar Aziz.
"Om, sudah berulang kali Tante melihatku berpenampilan seperti ini. Dan aku rasa, Pa Sofyan serta Fakri tidak akan syok. Justru mereka akan tertawa jika melihatku memakai gamis" jelas Amrita.
Aziz menutup pintu mobil, lalu berjalan ke pintu mobil sebelah bagian kemudi. Ia masuk lalu menyalakan mesin mobil. Mobil perlahan bergerak menuju jalan raja. Suasana malam membuat Amrita melamun, ia menatap jauh ke luar jendela, melihat kendaraan yang berlalu lalang disamping mobil mereka.
"Amrita, ada yang melakukan video call" kata Aziz saat melihat ada seseorang yang menelepon Amrita lewat panggilan video pada aplikasi watshap.
Amrita tersadar dari lamunannya. Ia melihat ponselnya dan nama Ajril terpampang di layar ponsel. Dengan segera Amrita menjawab panggilan video call dari seniornya.
"Amrita.. kamu di mana? Cepat ke beskem, teman-teman sudah berkumpul semua. Tinggal kamu yang ditunggu" ujar Ajril dengan suara lantang.
"Maaf Kak. Sepertinya aku tidak bisa datang sekarang. Aku lagi ada urusan mendadak. Inysa Allah, jam 1 aku kesitu" balas Amrita.
"Amrita... aku merindukanmu sayang. Cepat kesini. Teman-teman lagi masak ayam palekko, buras dan kapurung, dan ada mie titi juga" ujar Hanin yang tiba-tiba merampas ponsel kak Ajril.
__ADS_1
"Hanin sayang, kamu di situ juga..." seru Amrita. Ia nampak bahagia. Ia tidak sabar untuk ke beskem mapala UMI. Sekalipun Amrita dan Hanin masih berstatus pelajar, tapi keduanya sangat menyukai traveling hingga keduanya ikut bergabung di organisasi mapala UMI. Sebulan sekali, mereka akan mendaki gunung yang ada di Sulawesi Selatan, salah satunya gunung Bawakaraeng.
"Iya Hanin, Kak Fajril menjemputku di rumah. Cepat datang ya, aku tunggu di sini" ujar Hanin.
"Oke Hanin, aku usahakan untuk datang secepatnya. Assalamualaikum" balas Amrita lalu memberi salam dan mengakhiri panggilan video call.
"Siapa mereka? Kenapa banyak sekali laki-laki?" Aziz melontarkan dua pertanyaan sekaligus.
"Mereka temanku.Teman yang tak mengenal kasta. Aku senang bisa mengenal semua senior yang ada di sana" balas Amrita.
"Apa kamu tidak takut berteman dengan laki-laki?" tanya Aziz dengan mata yang terfokus di depan.
"Awalnya aku takut. Lambat laun, rasa rakut itu menghilang saat mereka menjagaku layaknya adik perempuan mereka. Om, Om pasti berfikiran kalau aku sok kaya. Aku anak yatim tapi penampilanku seperti orang berada. Aku akui itu" ujar Amrita.
"Kak Fajril membelikan aku ponsel untuk ku gunakan berjualan online. Jadi, semua yang aku punya, mulai dari tas, baju, celana, sepatu, aku membelinya dengan harga ribuan bukan puluhan. Aku punya trik menjual yang bisa memenuhi kebutuhanku" jelas Amrita panjang lebar.
"Ceritakan padaku bagaimana kamu menjalani hari-harimu" ujar Aziz.
"Aku menjalani hari-hariku seperti orang lain. Makan, minum, bermain, jalan-jalan dan juga tidur" balas Amrita dengan santai.
"Umurku baru delapan belas tahun tahun, tapi pikiranku sudah dewasa. Keadaan yang menuntunku seperti ini. Dan aku nyaman dengan duniaku yang seperti sekarang. Sekalipun aku nakal, aku tahu apa yang harus aku jaga. Kehormatanmu, kedua benda yang ada di dadaku dan bibirku. Dan Om, pria bedebah yang merenggut salah satu dari apa yang aku jaga" jelas Amrita.
Aziz tertegun, ia melirik Amrita sejenak.
"Aku bukan pria pengecut. Aku sudah berjanji untuk menikahimu maka aku akan menikahimu. Aku tahu kamu pasti marah karena kelancanganku malam itu, maafkan aku" ujar Aziz.
__ADS_1