
Teriakan Tante Eka dan Pa Sofyan begitu nyaring seakan memecah gendang telinga Aziz. Hingga Aziz yang sementara menemani istrinya berjemur di bawah terik matahari, berlari menghampiri pintu rumah.
Cek--lek... (Pintu terbuka lebar)
"Assalamualaikum. Mana menantu Ibu?" tanya Tante Eka setelah mengucap salam.
"Ibu, aku di sini" teriak Amrita dengan kuat.
Tante Eka menghampiri menantunya tanpa mengajak suaminya. Langkahnya terhenti menyadari suaminya masih berdiri di depan pintu. "Hehehe. Ibu lupa mengajak Papa" kata Tante Eka lalu menarik tangan suaminya.
"Waalaikumsalam" Aziz baru menjawab salam sari ibunya. "Apa itu yang dinamakan romantis? Kemana mana harus berdua, bergandengan tangan pula" sambungnya menatap Ibu dan papanya.
"Ibu... Papa... aku kangen kalian" rengek Amrita. Pa Sofyan yang dulu sangat ia takuti, kini menjadi Pria yang sangat ia rindukan. Setelah menikah dengan Aziz, barulah Amrita tahu sifat asli kepala sekolahnya itu.
"Ibu dan Papa juga kangen kamu Sayang" balas Tante Eka mengambil tempat di kursi yang disamping menantunya.
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kamu sudah cek up?" tanya Pa Sofyan mengambil tempat di samping istrinya.
"Alhamdulilah sehat Pa, Bu. Sudah cek up kemarin. Kata Dokter harus perbanyak makan makanan yang bergizi" balas Amrita tersenyum.
"Sudah tahu jenis kelamin cucu kami?" tanya Tante Eka penasaran.
"Sudah, Bu" balas Amrita tersenyum lebar.
"Apa? Perempuan apa laki-laki?" tanya Tante Eka dan Pa Sofyan bersamaan.
"Jangan beritahu mereka Amrita. Kau akan menyesal nantinya" ujar Aziz yang tiba-tiba menghampiri mereka.
Dalam sekejap, Pa Sofyan dan Tante Eka menatap tajam putranya. Aziz terkekeh mendapatkan tatapan yang menakutkan itu. Namun dia tetap berpura pura tak takut. "Percaya padaku, Sayang" sambungnya sembari duduk di kursi kolam.
"Jangan percaya padanya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana suami kamu" ujar Tante Eka.
"Aku mengenalnya, Bu. Dan Mas Aziz selalu jujur padaku" balas Amrita.
__ADS_1
Tante Eka dan Pa Sofyan menepuk jidat mereka masing-masing, sambil mengucap istighfar. Aziz kembali tertawa melihat mimik wajah Ibu dan papanya yang begitu tak sabar mengetahui jenis kelamin cucu mereka.
"Ya sudah. Ibu dan Papa pulang saja. Ibu tidak janji, tapi Ibu tidak mau datang lagi di sini" kata Tante Eka berpura-pura sedih.
"Iya. Ibu, ayo kita pulang. Anak dan menantu kita sudah berubah. Kita minta Fakri menikah saja. Papa siap menangggung biaya kuliah Hanin dan Fakri" sambung Pa Sofyan lalu menggandeng tangan istrinya.
"Pasti Ibu dan Papa beracting" batin Aziz.
Tante Eka dan Pa Sofyan beranjak dari duduknya. Berjalan melewati Aziz yang tengah duduk. "Kenapa dia tidak mencegah kami" batin Tante Eka bersamaan.
Aziz melirik Ibu dan papanya yang kini sudah berada di ruang tengah. Sementara Amrita menatap bingung suaminya yang biasa-biasa saja. Bukan biasa-biasa saja, Aziz juga merasa takut menjadi anak durhaka. Tapi kata hatinya berkata bahwa orang tuanya sedang beracting.
Bunyi motor terdengar nyaring di halaman rumah. Siapa lagi kalau bukan ulah orang tua Aziz. Keduanya sengaja memanaskan motor scoopy agar Aziz percaya jika Ibu dan papanya benaran pulang dan tak mau kembali.
"Ibu... " panggil Aziz.
Panggilan Aziz membuat Tante Eka dan Pa Sofyan tertawa bahagia. Namun tawa itu hanya dalam hati. Mereka tidak mau Aziz tahu, jika Ibu dan papanya sedang beracting.
"Bukannya sebelum ke sini Ibu dan Papa sudah memanaskan motor itu" ujar Aziz dengan santai.
"Iya, lebih baik kita pulang. Nanti kita tanya Hanin atau Fakri saja" balas Tante Eka berbisik.
"Ehem!! Memang sih, tapi lebih bagus jika dipanaskan lagi" balas Tante Eka dengan santai. Tante Eka naik di atas motor. Dan Pa Sofyan pun mulai mengendarai motor Scoopy milik putra bungsunya.
"Mas sudah jadi anak durhaka loh. Mas telah melukai perasaan orang tua" ujar Amrita yang melihat Ibu dan Papa mertuanya pergi.
"Ibu... Papa... aku hanya bercanda..." teriak Aziz mengejar Ibu dan papanya.
Pa Sofyan dan Tante tersenyum bahagia di atas motor. "Pa, pura-pura tidak tengar saja Pa" ujar Tante Eka yang dibalas senyum oleh suminya.
"Papa... Ibu... aku hanya bercanda...!!" teriak Aziz sambil melambaikan tangannya ke atas.
Pa Sofyan berhenti di depan perumahan. Bertepatan dengan penjual pentolan lewat. Karena doyan, Tante Eka turun dan membeli pentolan dan tahu. Setelah itu, mereka kembali ke rumah Aziz.
__ADS_1
"Hahahahaha. Kasihan ya, kena tipu lagi" ledek Tante Eka melewati Aziz yang ngos-ngosan.
Aziz membulatkan mata. lagi-lagi ia masuk dalam jebakan orang tuanya. "Dasar tua-tua bikin diri ABG!!" umpat Aziz.
---
Fakri dan Hanin baru saja sampai di perumahan sahabat mereka. Keduanya menekan bel rumah sebanyak dua kali. Selang beberapa puluh detik, terlihat Amrita membuka pintu rumah dan mempersilahkan kedua sahabatnya untuk masuk.
"Berhubung hari ini akhir pekan, Ibu dan Papa mau traktir kalian makan di luar" ujar Tante Eka saat semuanya duduk diruang keluarga.
"Siapa yang bayar Bu?" tanya Aziz. Pertanyaan yang harus ia tanyakan memang sebelum dia masuk dalam jebakan lagi.
"Kan Ibu yang traktir ya berarti Ibu yang bayar" balas Tante Eka tersenyum. Tante Eka tahu apa yang dipikirkan putranya.
"Alhamdulilah. Sayang, jangan bawa dompet ya. Cukup kamu bawa tas kecil untuk ponselmu" kata Aziz. Amrita terkekeh. Ia tahu apa maskud suaminya.
---
Berhubung sekarang sudah siang, Tante Eka mengajak keluarganya untuk makan siang diluar. Rumah makan yang mereka pilih adalah rumah makan yang berada di pinggiran jalan. Hitung-hitung membantu pedagang kecil. Dan kini, mereka sudah berada di dalam rumah makan.
"Aku dan Hanin nasi goreng komplit" kata Fakri pada ibunya.
"Papa nasi goreng hati ampela" kata Pa Sofyan.
"Aku penyet" kata Aziz.
"Kamu apa Sayang?" tanya Tante Eka pada menantunya.
"Aku ayam lalapan Bu. Minumannya lee mineral biasa" balas Amrita.
Sebelum pesanan mereka matang, keluarga kocak itu masih sempat sempatnya mengambil gambar bersama. Tak menunggu lama, pesanan mereka pun disajikan di atas meja. Mereka membaca doa dan mulai makan siang. Setelah makan, mimik wajah Tante Eka mulai berbeda. Entah apa lagi yang direncanakan wanita paruh baya itu.
Aziz mengerutkan keningnyan. Perasaannya mulai tidak enak. "Ya Allah, jangan bilang Ibu lupa bawa dompet" gumam Aziz dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh Tante Eka.
__ADS_1