Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 58


__ADS_3

Aziz tiba di rumah pukul 5:21 PM. Dengan langkah cepat, ia masuk ke dalam rumah. Lagkahnya terhenti saat indra penciumnya menangkap aroma harum dari arah dapur membuat cancing-cancing di dalam perutnya ikut berdemo.


"Lebih baik aku ke dapur dulu" gumam Aziz sambil berjalan menuju dapur.


Seulas senyum tersungging di bibirnya saat melihat Amrita sedang memasak makanan kesukaannya. Apalagi kalau bukan ikan panggang rica-rica.


"Assalamualaiku, Sayang" Aziz mengucap salam dan berdiri disamping istrinya.


"Waalaikumsalam wr wb. Mandi dulu, Mas. Nanti jas dokternya bau amis" balas Amrita tanpa menatap suaminya.


"Iya istri nakalku. Semakin hari kau semakin cantik dan rajin saja. Tidak sia-sia aku menikahimu" puji Aziz tersenyum.


Amrita terkekeh. "Baru sadar ya, Mas. Atau baru bangun tidur" ledek Amrita.


"Dua-duanya" balas Aziz terkekeh kecil.


"Cepat mandi, Mas. Setelah itu temui aku di sini. Aku sengaja menyiapkan makanan kesukaanmu karena ada hal penting yang mau aku bicarakan. Ini mengenai Mbak Safira" jelas Amrita.


Jleb!! Aziz terdiam seketika. Dengan kuat ia menelan salinya. Kakinya seakan ringan untuk melangkah pergi dari dapur. "Mati aku, lebih baik aku ke kamar" gumam Aziz hampir tak terdengar.


"Jangan lama-lama, Mas... aku sudah siapkan es teh, es jeruk dan kopi untukmu..." teriak Amrita saat Aziz berlari menuju kamar.


Amrita tertawa kecil menyaksikan perubahan raut wajah suaminya. Dalam sekejap, senyumnya menghilang berganti dengan ekspresi sangar. "Apa kau pikir aku akan diam? Tidak akan! Aku akan memberimu pelajaran wanita tua" gumam Amrita tersenyum sinis.


Setelah memanggang ikan kakap rica-rica menggunakan happy cell, Amrita menyajikan makanan di atas meja. Ikan kakap rica-rica ditemani nasi putih, sambal kemangi dan sayur rebung santan pedas.


"Hanya pria bodoh yang mau berselingkuh, saat mendapatkan istri yang pandai memasak dan membersihkan rumah serta melayani suami" ujar Amrita lalu tersenyum menatap menu yang ada di atas meja.


Usai menyajikan makanan, Amrita membersihkan dapur dan pelatan memasak. Setelah semuanya sudah selesai, ia kembali ke ruang tengah melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


"Sepertinya itu Mas Aziz" batin Amrita. Entah ide dari mana, tiba-tiba ia bernyayi menyinggung suaminya.


🎶🎶


Aku mencintai kamu...


Sangat mencintai kamu.


Tapi kau berkhianat,


Kau berpelukan dengan wanita lain.

__ADS_1


Kau bilang cinta padaku...


Nyatanya kau diam-diam berselingkuh.


Kasih... teganya kau padaku...


Kubatasi jarakku dengan mereka (Pria)


Dan kamu dekati wanita lain... 🎶🎶


Di tangga, Aziz menghentikan langkahnya. Ia berpikir keras tentang judul lagu dan siapa pencipta lagu itu. Sepertinya lagu itu belum pernah ia dengar. Atau Aziz yang ketinggalan zaman. "Sepertinya dia sudah gila" guman Aziz lalu melangkah turun. Langkahnya kembali terhenti saat Amrita kembali melanjutkan nyanyiannya.


🎶🎶


Aku berusaha menggapai cita-cita


Demi masa depan kita dan keluarga kita


Nyatanya kamu keenakan dengan wanita tua🎶


"Tunggu, sepertinya dia menyinggungku" batin Aziz.


"Mas, ngapain di situ. Ayo kita pergi makan, aku belum makan loh dari tadi pagi" ujar Amrita cemberut.


Aziz menghampirinya istrinya lalu duduk di sofa. "Bukannya Mas memberimu uang jajan. Kenapa kamu tidak beli makanan?" tanya Aziz.


"Selera makanku hilang setelah melihat foto romantis, Mas" jawab Amrita cemberut.


"Foto, maksud kamu foto apa?" tanya Aziz dengan bingung.


"Tunggu aku ambil ponselku" balas Amrita lalu meraih ponselnya dan membuka aplikasi watshap.


"Ini, Mas. Romantis sekali ya Mas" ucap Amrita sembari memperlihatkan foto wanita berpelukan dengan seorang pria.


Jleb!! Lagi-lagi Aziz menelan kuat salivanya. "D--dari mana kau mendapatkan foto itu?" tanya Aziz terbata bata.


"Dari wanita yang di foto ini" balas Amrita dengan santai.


"Amrita, bukannya tadi Mas sudah menjelaskan semuanya padamu. Mas ngak berniat berselingkuh. Mas mencintaimu dan akan selalu mencintaimu Sayang" ujar Aziz mencoba meyakinkan istrinya.


"Jangan bahas itu lagi. Ayo kita makan, anak-anakku (cacing) sudah berdemo sejak tadi" ucap Amrita sambil berdiri dan berjalan ke meja makan.

__ADS_1


Aziz menghela napas legah. "Alhamdulilah, Amrita memahami kejadian pagi tadi" batin Aziz kemudian mengikuti langkah kaki istrinya.


Aziz menggeser kursi kemudian duduk. Rasanya ia tak sabar lagi menyantap makanan yang ada di atas meja. "Sayang, tolong ambilkan aku nasi" pintah Aziz tersenyum.


Amrita tak menjawab namun ia menuruti perintah suaminya. Setelah mengambilkan beberapa sendok nasi. Ia mengambilkan lauk dan juga sayur. "Itu, Mas. Selamat menikmati masakan istrimu yang kau hianati ini" ujar Amrita.


Aziz hanya terkekeh. "Dia pasti cemburu" batin Aziz.


Amrita dan Aziz mulai makan malam di pukul 6:01 PM. Saat makan, keduanya tak saling berbicara. Entah karena cita rasa makanan atau karena salah satu dari mereka sedang tidak baik-baik saja. Setelah makan, terdengar adzan magrib di masjid.


"Mas, nanti aku yang bereskan piringnya" ujar Amrita saat suaminya hendak merapikan piring kotor di meja.


"Terima kasih istriku yang lagi cemburu" ujar Aziz lalu lari ke lantai dua sebelum Amrita meninjunya.


"Aku tunggu kamu pulang dari masjid Mas..." teriak Amrita. Ada sesuatu yang ia rencanakan untuk memberi pelajaran pada istrinya.


Usai membereskan piring kotor, Amrita bergegas ke kamar. Mencuci muka dan menyikat giginya. Lalu mengganti baju yang ia kenakan dengan baju kous lainnya. Kemudian ia masuk ke kamar mandi mengambil wudhu.


"Mukenaku di mana" gumam Amrita sembari mencari mukenanya di tempat biasa tapi tidak ada.


"Mungkin di lemari" gumamnya lagi lalu berjalan membuka pintu lemari. Dan benar saja, mukena dan sajadah serta Al-Qur'an ada di dalam lemari.


Dengan cepat Amrita mengenakan mukenanya dan memulai sholat Magrib. Setelah selesai, ia mengaji hingga waktu isya tiba.


--


Usai sholat isya, Amrita kembali ke lantai satu mengerjakan tugas tugasnya. Rasa kantuk membuatnya tertidur dengan pulpen yang masih digenggam erat.


"Assalamualaikum" Aziz masuk ke dalam rumah sambil mengucap salam.


"Dia pasti kelelahan" gumam Aziz menghampiri istrinya.


Seperti biasa, Aziz akan mengecek tugas kampus istrinya. Dan kali ini, masih ada empat nomor yang belum terjawab. Dengan pelan, Aziz mengambil pulpen istrinya dan mulai menjawab soal yang belum terjawab.


"Tidak sia-sia aku memiliki kelebihan yang bisa meniru tulisan orang lain" gumam Aziz.


Pukul sepuluh malam, empat nomor yang belum terjawab telah dijawab dan ditulis oleh Aziz. Aziz membereskan buku istrinya kemudian meletakannya di atas meja. Lalu ia menggendong istrinya dan membawanya ke kamar.


"Nyamannya di gendong suami" batin Amrita yang sadar satu menit yang lalu.


"Apa dia pikir aku tidak tahu kalau dia sudah bangun" batin Aziz namun ia bersikap seakan akan tidak tahu.

__ADS_1


__ADS_2