
Amrita pulang di sore hari, dalam perjalanan pulang, ia melihat dua orang pria mengendarai motor ninja mengikutinya dari belakang. Amrita menepikan motornya di tempat ramai, tepatnya di depan rumah makan. Lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seniornya.
"Assalamualaikum Kak" Amrita mengucap salam saat seniornya menjawab panggilan darinya.
"Waalaikumsalam Dek. Kau di mana? Kenapa ribut sekali?" tanya Saiful.
"Aku di depan RM Sari Bundo kak. Ada empat pria mengikutiku sejak aku melewati jalan Urip. Mereka menggunakan motor ninja. Aku sengaja berhenti di sini karena kecepatan motorku tak sebanding dengan kecepatan motor ninja" jelas Amrita.
"Kamu tunggu di situ, kakak dan teman-teman yang lainnya akan mengantarmu pulang" ujar Saiful lalu memutuskan panggilan.
Di depan RM Sari Bundo, Amrita melirik orang-orang yang mengikutinya. "Sepertinya itu orang bayaran Mbak Safira. Jika benar begitu maka kita lihat saja nanti, aku akan membuat Mbak mendekam dipenjara" gumam Amrita.
Amrita kembali menatap ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya. Panggilan pertama tak dijawab oleh suaminya hingga panggilan kedua. Untuk yang ketiga kalinya, Aziz menjawab panggilan telepon darinya.
"Assalamualaikum Mas. Mas di mana?" tanya Amrita dengan santai agar suaminya tidak cemas.
"Mas baru saja mau pulang. Kau di rumah atau di mana?" tanya Aziz.
"Aku di depan RM Sari Bundo. Bisa Mas ke sini jemput aku?" balas Amrita lalu bertanya lagi pada suaminya.
"Bisa. Kamu tunggu di situ ya. Ini Mas baru mau keluar dari rumah sakit. Assalamualaikum" balas Aziz, mengucap salam lalu memutuskan panggilan.
12 menit telah berlalu namun Aziz maupun Saiful belum juga datang. Sedangkan keempat pria yang sejak tadi mengikuti Amrita masih berada di atas motor. Mereka masih setia mengikuti Amrita. Seulas senyum tersungging di bibir manis Amrita saat melihat seniornya datang bersama empat orang senior lainnya.
"Mana orang yang mengikutimu?" tanya Saiful setelah mematikan motor ninja yang dikendarainya.
"Yang sana" balas Amrita dengan ekor matanya.
Saiful dan keempat senior lainnya menoleh ke arah yang Amrita lihat. Dan benar saja, keempat pria itu adalah anak buah Johan. "Itu anak Buah Johan" ujar Saiful.
"Kak Johan yang ketua geng di Makroah itu?" tanya Amrita.
"Iya" balas Saiful.
__ADS_1
Biiiiip!! Aziz menekan klakson mobil membuat Amrita dan kelima seniornya terperanjat kaget.
"Apa suami kamu sudah gila!" umpat Haidir.
Haidir melotot menatap Aziz yang baru saja keluar dari mobil. Aziz yang mendapatkan tatapan mengerikan itu bergidik lalu menghampiri istrinya.
"Kalian siapa?" tanya Aziz menatap tak suka pada pria yang kini bersama istrinya.
"Kami teman Amrita. Kau jangan cemburu bodoh-bodoh" balas Saiful yang tak suka dengan tatapan Aziz padanya.
"Mas, mereka semua seniorku. Mereka ke sini karena aku yang menghubungi mereka. Coba Mas lihat empat pria di sana, mereka mengikuti sejak tadi. Itu sebabnya aku berhenti di sini" jelas Amrita.
"Jangan bilang mereka suruhan Safira" ujar Aziz.
"Lah memang mereka suruhan Safira" timpal Farid.
Aziz menghela napas kasar sambil mengusap wajahnya. Lalu menatap satu persatu pria yang kini duduk di atas motor. "Sekarang kalian pulang. Aku pastikan, Safira akan berurusan dengan polisi. Dan terima kasih karena kalian sudah mau membantu Amrita" ujar Aziz.
"Sama-sama Kak. Izinkan kami mengantar kalian pulang. Sekalian kami membawa motor Amrita ke rumah" balas Haidir.
Amrita menyerahkan kunci motornya pada Haidir lalu masuk ke dalam mobil suaminya. Mobil perlahan bergerak menuju perumahan. Selang beberapa belas menit, mereka pun sampai di perumahan.
"Kak, makasi ya. Kakak hati-hati di jalan" ucap Amrita tersenyum.
"Sama-sama Dek. Kami pulang dulu ya. Hubungi kami jika kau perlu bantuan. Ingat! Kakak siap menjadi saksi jika kau mau melaporkan. Dan teman-teman di beskem juga siap menjagamu jika kau perlu penjagaan yang ketat" jelas Saiful.
"Iya kak" balas Amrita tersenyum.
"Mas Aziz, kami pamit pulang. Kami titip adik kami pada Mas. Kami minta, bersikaplah selayaknya seorang suami" ujar Saiful tersenyum lalu menghidupkan motornya.
Saiful, Haidir, Farid dan dua seniornya lainnya meninggalkan perumahan. Sedang keempat pria yang tadi mengikuti Amrita sudah bubar sejak Aziz dan Amrita serta yang lainnya menuju perumahan.
"Sayang, ayo kita masuk" ajak Aziz sambil menggandeng tangan istrinya. Dia dan Amrita duduk menyandarkan tubuh mereka di sofa.
__ADS_1
"Sekarang kamu mandi ya, setelah itu istrahat" ujar Aziz tersenyum seraya mengelus pipi istrinya.
"Mas, aku mencintaimu" ucap Amrita lalu mengecup pipi suaminya kemudian lari ke lantai dua.
"Aku suka Amrita..." teriak Aziz di ruang tengah sembari memegangi bagian yang di kecup oleh istrinya.
"Hahahaha" Amrita tertawa lepas di dalam kamar. Ia yakin, suaminya itu akan sulit tidur malam ini.
Di lantai satu. Nampak Aziz tersenyum sumringah. "Aku tidak bisa tidur malam ini. Ini kali pertama Amrita menciumku. Aduuuuh, rasanya aku tidak mau membilas wajahku dengan air" gumam Azis tersenyum.
"Aku harus bersikap selayaknya suami. Aku harus menjaga istriku. Jika mereka bisa menjaga Amrita, kenapa aku tidak. Aku yang harusnya menjaga istriku bukan mereka" gumam Aziz sambil megambil ponselnya dan mencari nomor Safira. Lalu menghubungi wanita itu.
Perumahan Spindleswood Mansion
Safira menatap nama di layar ponselnya. Seulas senyum tersungging di bibirnya saat nama pria yang ia cintai tertera di panggilan masuk. Dengan senyum bahagia wanita itu menjawab panggilan masuk.
"Hallo Aziz" sapa Safira dengan suara manjanya.
"Aku tidak mau berbasa basi, Safira. Sudah berulang kali kau berusaha membuat rumah tanggaku hancur tapi aku diam karena istriku. Namun, kali ini perbuatanmu sudah terlalu jauh. Apa kau pikir aku tidak tahu kalau kau membayar orang lain untuk mencelakai istriku! Ingat Safira, kesabaranku ada batasnya. Dan malam ini ku peringatkan padamu! Jauhi keluargaku atau kau akan menyesali perbuatanmu" ucap Aziz, nada bicaranya terdengar kasar.
"Aziz, aku melakukan ini karena aku mencintaimu" ujar Safira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Hahahaha" tawa Aziz pecah lalu diam. "Itu bukan cinta Safira, tapi ambisi! Jika kau mencintaiku maka kau akan bahagia melihatku bahagia dengan pilihanku! Bukan sebaliknya!" bentak Aziz.
"Anak yatim itu tidak pantas bersamamu Aziz!" seru Safira.
"Lalu siapa yang pantas bersamaku? Kau? Kau lebih-lebih tidak pantas bersamaku!!" hardik Aziz. Menggertakan giginya yang rata.
"Kau menghina Amrita sama halnya dengan kau menghina orang tuaku!!" bentak Aziz.
"Aku tidak bermaksud begitu Aziz. Hiks, hiks, hiks..." ucap Safira sambil menangis.
Tut tut tut... Aziz memutuskan panggilan telepon. Ia tidak suka mendengar tangisan yang dibuat-buat.
__ADS_1
"