Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 18


__ADS_3

2 hari kemudian


Malam hari


Amrita sedang duduk di kamarnya sembari menonton televisi. Terdengar tawa dari dalam kamar saat ia menonton filem Tomi dan Jeri. Saat sedang nonton, terdengar dering telepon. Amrita meraih ponselnya lalu menjawab panggilan telepon dari sahabatnya.


"Apa? Kirim alamatnya sekarang!" titah Amrita saat mendengar apa yang dikatakan lawan bicaranya. Setelah selesai menerima panggilan telepon, Amrita mengganti pakaian tidurnya dengan memakai celana jins sobek sobek warna silver serta baju kous lengan pendek warna hitam yang dilapisi jaket jins warna hitam.


"Om Aziz sedang di kamarnya, cukup aku mengunci pintu kamarku maka dia tidak akan tahu kalau aku ke luar rumah" batin Amrita.


Amrita berjalan mengendap endap, ia membuka pintu utama lalu menutupnya dengan pelan. Sesampainya di luar, ia menyalakan mesin motornya lalu ke luar menuju jalan raya.


Satu jam telah berlalu. Di dalam kamar, Aziz sedang membaca buku. Tiba-tiba ponselnya berdering. "Fakri" gumam Aziz. Aziz menjawab panggilan telepon dari adiknya.


"Kakak, di mana Amrita?" tanya Fakri dengan panik.


Aziz menautkan keningnya. "Kenapa kamu mencari istriku?" tanya Aziz dingin.


"Ada bentrok antara dua organisasi. Aku takut Amrita ke sana" jelas Fakri.


Tanpa menjawab, Aziz berlari menuju kamar istrinya yang berada disamping kamarnya. Ia membuka pintu namun terkunci. Aziz mengambil kunci cadangan di kamarnya lalu membuka pintu kamar istrinya. Dan benar saja, Amrita sedang ikut tawuran.


"Dasar istri nakal!!" teriak Aziz. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Fakri. Tak membutuhkan waktu lama, Fakri menjawab panggilan telepon dari kakaknya.


"Kakak, Amrita sedang bersamaku. Kakak jangan takut, dia baik-baik saja" kata Fakri lalu memutuskan panggilan.


Di perumahan, Aziz mengepal kuat tangannya. "Apa untungnya ikut tawuran, apa dia tidak takut mati!!" umpat Aziz. Ia mengambil kunci mobilnya sembari menghubungi Fakri. Hampir 30 menit Aziz mencoba menghubungi adiknya namun hasilnya nihil, nomor Fakri diluarjangkauan.


Aziz membuka aplikasi Facebook untuk mencari informasi mengenai tawuran dari kedua organisasi tersebut. Dan benar saja, ia melihat video yang dimana ada Amrita.


"Astagfirullah!! Apa dia sudah gila!" pekik Aziz. Aziz melajukan mobilnya menuju tempat kejadian. Berhubung kejadian tersebut terjadi di depan kampus ternama di Kota Makassar maka tak membutuhkan waktu lama, Aziz sampai di tempat kejadian. Ia melihat banyak bank motor yang dibakar, 1 mobil Avanza yang sudah hancur dan dua sepeda motor yang dibakar.


"Om" Amrita membulatkan matanya saat melihat suaminya. Terdengar dering ponsel miliknya, Amrita melihat ponselnya lalu menjawab panggilan tersebut.


"Baik Om, aku akan segera pulang" kata Amrita saat menjawab panggilan dari suaminya.


Amrita pamit pulang pada teman-temannya. Ia mengeluarkan kunci motornya lalu memberikan kunci tersebut pada Fakri. "Tolong bawa pulang motorku" pintahnya.

__ADS_1


Fakri mengangguk paham. "Baiklah" balas Fakri.


Amrita menyebrangi jalan menghampiri suaminya. Ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping suaminya. Mobil perlahan bergerak meninggalkan tempat bentrok.


Perumahan Hertasning


Amrita sedang berdiri di depan sofa sembari memegang kedua tangannya dengan pandangan ke lantai.


"Apa kamu sudah gila!!" bentak Aziz menatap tajam istrinya. "Apa kamu tidak sayang nyawamu!" lanjutnya.


"Jang sok kalem di situ! Jawab pertanyaanku!!" hardik Aziz saat Amrita hanya diam saja. Amrita mengangkat wajahnya, ia menatap tajam suaminya. Tatapan itu membuat Aziz semakin dilanda emosi.


"Kamu yang salah tapi kamu juga melotot!" kata Aziz menjewer kuping istrinya.


"Sakit tahu!!" ketus Amrita, ia memegang lengan suaminya.


"Kamu bilang sakit! Bagaimana jika kamu luka atau kenapa napa!" ujar Aziz geram, ia semakin memperkuat jeweran telinga istrinya.


"Mulai malam ini kamu tidur di kamarku. Aku tidak akan membiarkanmu tidur di kamarmu" kata Aziz melepas tangannya dari telinga istrinya.


Amrita memberontak, ia lari ke dalam kamar.


Selang beberapa menit, Amrita membuka pintu kamarnya. Ia melihat suaminya berkacak pinggang di depan pintu kamar.


"Ada apa lagi?" tanya Amrita.


"Ayo tidur" Aziz menarik tangan istrinya membawanya masuk ke dalam kamar miliknya.


"Om..." rengek Amrita.


"Kamu mengimpikan surga tapi sifatmu membawamu menuju neraka" kata Aziz membuat Amrita terdiam. Aziz melepas tangan istrinya, ia berbalik menatap istri nakalnya.


"Mulai malam ini kita tidur di kamar yang sama. Apapun yang ingin kamu lakukan maka rundingkan terlebih dahulu denganku" ujar Aziz.


"Om, aku ingin ke kamar mandi" kata Amrita saat Amarah Aziz mulai meredah.


"Lapor pada Pa RT!" ketus Aziz. Yang benar saja Amrita melapor saat ia ingin ke kamar mandi.

__ADS_1


"Loh, bukannya Om yang berkata harus merundingkan semua apa yang ingin aku lakukan" kata Amrita menaik turunkan alianya.


"Astagfirullah Amrita!!" Aziz mengusap wajahnya dengan kasar.


Amrita terkekeh, ia berlari masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Amrita tertawa terbahak bahak. Ia merasa puas mengerjai suaminya.


"Rasain kamu Om tampan" ujar Amrita pelan. Selang beberapa menit, Amrita ke luar dari kamar mandi. Ia melihat suaminya sedang duduk di meja kerjanya.


"Om, apa yang Om lakukan?" tanyanya sembari menghampiri suaminya.


"Lagi kerja" balas Aziz santai.


"Om, ini sudah larut malam. Besok baru dilanjutkan" kata Amrita. Entah apa yang membuatnya menjadi baik hingga ia berani mengajak suaminya tidur.


Aziz menghentikan kegiatannya. Ia menoleh menatap istrinya. "Apa kamu sedang---" Aziz menghentikan kalimatnya saat Amrita menggeleng lebih dulu.


"Apa kamu tahu apa yang akan aku tanyakan?" tanya Aziz mengangkat alisnya sebelah.


Amrita mengangguk cepat. "Aku tahu" balasnya.


"Apa yang aku katakan?" tanya Aziz.


Amrita terkekeh. "Apa kamu sedang merayuku" balas Amrita dengan senyum.


"Kamu mulai dewasa sekarang, aku sangat suka" ujar Aziz, ia tersenyum menyeringai menatap istrinya.


"Ayo kita tidur" ajak Aziz, ia menarik tangan istrinya.


Amrita berbaring disamping suaminya. Menatap langit-lagit kamar. "Om, boleh aku bertanya" kata Amrita dengan pelan.


Aziz mematikan lampu kamar, tinggalah lampu tidur yang samar samar. "Tanya apa?" tanya Aziz.


Amrita menoleh menatap suaminya. "Apa Om masih mencintai Kak Anaya?" tanya Amrita.


Hening, Aziz tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia memilih tidur dibandingkan menjawab pertanyaan istrinya.


Pukul 03:02 A.M. Amrita mengerjap, ia melihat suaminya tertidur pulas. Jari lentiknya menelusuri tiap inci wajah suaminya. Tanpa sadar, air matanya menetes membasahi pipinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Om Aziz. Bukan maksudku untuk menjadi istri durhaka. Aku hanya takut Om pergi meninggalkanku seorang diri disaat aku tak bisa hidup tanpa Om" gumam Amrita, ia menatap lekat wajah suaminya.


__ADS_2