
Pukul 20:11 PM
Satu bulan kemudian
Aziz meringkuk memeluk gulingnya. Mata sendu itu pun enggan untuk terpejam karena luka dihatinya. Semua masa-masa indah bersama Amrita membuat pria itu semakin hanyut dalam luka. Andai bukan karena kedua anaknya, mungkin saja pria itu sudah mengakhiri hidupnya.
"Amrita, aku rindu padamu istriku. Anak kita sudah baik-baik saja dan hanya aku yang belum baik-baik saja. Tak dapat kupungkiri rasa rinduku padamu yang semakin hari semakin menggorogotiku"
Aziz menangis dalam sunyi. Bulir bening tak henti-henti membanjiri pipinya dan rindu semakin hari semakin menyiksa. Berharap, setiap kali ia membuka mata, apa yang terjadi adalah mimpi buruk saja.
"Papa" panggil Fadila. Dia dan Kakaknya berdiri di depan pintu kamar Papanya. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sang Papa menangis karena rindu.
Aziz menyeka air matanya. Lalu beranjak dari pembaringan menghampiri kedua anaknya. Menarik senyum agar putranya tidak ikut sedih. "Kenapa belum tidur?" tanya Aziz berusaha mengukir senyum.
"Jangan berpura-pura kuat, Papa" ucap Fadila menyeka bekas air mata Papanya.
"Maafkan Papa" ucap Aziz kembali memeluk kedua anaknya. Lalu menggendong keduanya membawanya di atas tempat tidur. Aziz membaringkan keduanya. Menyelimuti sebagian tubuh keduanya dan tak lupa mencium puncak kepala keduanya. Lalu ia ikut berbaring di samping anaknya.
"Apa kalian rindu Mama?" tanya Aziz menatap langit-langit kamar.
"Rindu. Sangat rindu. Tapi kata Nenek dan Kakek Mama sudah bahagia di surga. Aku senang Mama di surga. Mama tidak akan masuk dalam penggorengan yang panas" balas Fadila tersenyum juga menatap langit-langit kamar.
"Iya Papa. Aku juga nggak mau masuk dalam penggorengan. Aku mau seperti Mama. Kita akan berkumpul di surga kan Pa?" timpal Fattan menjawab lalu bertanya dengan serius.
Aziz kembali mengukir senyum. Ia masih ingat kata penggorengan yang istrinya gunakan untuk menakuti Fattan dan Fadila saat keduanya tidak mau belajar shalat. "Tentu saja Sayang. Kita berempat akan berkumpul di surga. Kita akan bermain dan makan obat di sana" balas Aziz.
"Aku meridhoi segala makan minum mu. Semoga Allah juga meridhoi apa yang aku ridha. Amrita, istriku. Kamu istri tercintaku. Wanita satu-satunya yang akan menempati hati ini hingga ajal menjemput ku" batin Aziz lalu memejamkan mata.
Pukul 04:01 AM
__ADS_1
Aziz dan kedua anaknya menggeliat. Mengucek mata mereka agar rasa kantuk menghilang. "Ayo turun, nanti kita terlambat jamaahnya" ajak Aziz.
Fattan dan Fadila turun dari ranjang, begitu juga Aziz. Mereka bertiga masuk ke dalam kamar mandi mencuci muka dan menggosok gigi. Lalu mengambil air wudhu. Usai wudhu, ketiganya keluar dari kamar mandi.
"Papa, aku mau mukena putih" ucap Fadila.
"Aku mau baju koko yang putih" ucap Fattan.
Aziz tersenyum kemudian membuka lemari. Lemari khusus untuk menggantung mukena dan tempat baju kokoh miliknya dan Fattan. Sorot mata Aziz terhenti pada satu mukena putih yang dikenakan Amrita saat wanita itu shalat malam. Karena mukena putih adalah warna mukena kesukaan istrinya.
"Papa. Nanti kita terlambat" tegur Fattan mengingatkan. Mereka tahu ke mana tatapan Papa Aziz saat membuka lemari.
"Ah i-ya" balas Aziz terbata-bata. Lalu mengeluarkan mukena kecil untuk putrinya dan baju kokoh untuk putranya. Setelah mereka bersiap-siap. Ketiganya menuruni anak tangga untuk ke masjid dan shalat berjamaah di sana. Setelah shalat subuh, Aziz dan kedua anaknya langsung kembali ke rumah.
Pukul 08:11 AM
"Papa, besok kita jenguk Mama ya" pinta Fadila seraya mendongak menatap Papanya.
"Iya, Sayang. Nanti besok kita ke makam Mama" balas Aziz tersenyum.
Bel rumah berdentang berulang kali. Menandakan ada orang datang. Mbak Ima yang sementara ada di dapur, wanita itu bergegas membuka pintu rumah. Di depan pintu, ada Pak Sofyan dan Tante Eka.
"Di mana Aziz dan si kembar?" tanya Tante Eka sambil melangkah masuk.
Mbak Ima menutup pintu setelah Pak Sofyan dan Tante Eka masuk. "Ada di balkon Bu" balas Mbak Ima.
Tante Eka dan Pak Sofyan naik ke lantai dua menemui putra dan cucunya. Seulas senyum tersungging di bibir manis keduanya saat melihat Aziz kembali ceria sekalipun belum terlalu seceria dulu. Tapi setidaknya ada perubahan.
"Nenek... Kakek..." Fattan dan Fadila berlari menghampiri Tante Eka dan Pak Sofyan.
__ADS_1
Tante Eka yang sementara masih di ruang keluarga, wanita paruh baya itu berjongkok menunggu kedua cucunya. "Apa Fattan dan Fadila baik-baik saja?" tanya Tante Eka memeluk keduanya.
Fattan dan Fadila melepas pelukan Neneknya. "Kami baik-baik saja, Nek. Nenek, kami tidak menangis lagi" ungkap Fattan tersenyum.
"Anak yang pintar. Ayo kita ke sofa" ajak Tante Eka yang dibalas anggukan oleh Fattan dan Fadila.
Pak Sofyan mengambil tempat di samping istrinya. Keduanya merasa senang melihat Fattan dan Fadila yang mulai ceria lagi. "Apa Papa masih menangis?" bisik Tante Eka di telinga Fattan.
"Iya. Papa suka menangis sendiri. Nenek, apa benar Mama sudah bahagia di surga?" tanya Fattan.
"Iya Sayang. Mama sudah bahagia di surga" balas Tante Eka.
"Kapan kita akan bertemu Mama? Kenapa Mama tidak mengajak kita?" tanya Fadila. Tante Eka dan Pak Sofyan terdiam. Mereka saling tatap.
"Ada saatnya di mana kita akan bertemu Mama" balas Aziz yang tiba-tiba masuk dan duduk di sofa.
"Nenek, besok kami mau jenguk Mama. Mama pasti senang" lapor Fadila tersenyum lebar.
"Sekarang Fattan dan Fadila masuk ke kamar ya. Papa mau bicara penting sama Kakek dan Nenek" titah Aziz.
"Iya, Pa" balas Fattan dan Fadila bersamaan lalu turun dari sofa. Kedua anak itu melangkah masuk ke kamar mereka.
"Aziz, apa kamu baik-baik saja Nak?" tanya Tante Eka menatap sendu putranya.
"Aku baik-baik saja, Bu. Amrita nggak meninggalkanku seorang diri. Aku punya Fattan dan Fadila. Sekalipun aku belum sepenuhnya menerima kenyataan ini tapi aku harus kuat dan berusaha terima demi si kembar. Aku nggak mau Amrita sedih. Aku mau dia bahagia" jelas Aziz.
"Bu, Amrita sudah bertemu Ibu dan Papa mertuaku. Dia pasti bahagia di surga" sambung Aziz. Netra matanya mulai berkaca-kaca.
"Kamu jangan sedih lagi. Oh ya, tidak lama lagi acara wisuda. Kamu bisa datang mewakili Alm istrimu. Undangan wisuda sudah dibagikan dan punya Amrita ada di rumah sudah diambil oleh Fakri" jelas Tante Eka.
__ADS_1