Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 31


__ADS_3

Setibanya di restoran sedekah, Sakia langsung mengumpulkan semua karyan dan menyerahkan gaji mereka masing-masing. Setelah itu ia pamit dan kembali ke butik menemui Nada yang menunggunya sejak tadi.


"Hati-hati ya, Kak" kata seorang pegawai restoran saat Sakia hendak mengendarai motornya.


"Iya, Dek" balas Sakia tersenyum.


Dalam perjalan menuju butik, Sakia nampak bahagia. Usaha yang mereka bangun menghasilkan banyak pundi-pundi uang. Dengan keberhasilan itu, mereka bisa membantu orang-orang tidak mampu. Enam belas menit kemudian, Sakia sampai di Butik Sakia Fashion.


"Kak Kia, tadi Kak Ferri menelepon, katanya mereka sudah berada di pangkalan speed boat tujuan Desa Tiber" ujar Nada tersenyum lebar.


"Alhamdulilah" gumam Sakia senang.


"Kakak, aku telepon keluargaku dulu" kata Nada. Nada mencari nomor telepon orang tuanya lalu melakukan panggilan telepon. Tak menunggu lama, terdengar seseorang mengucap salam di seberang telepon.


"Waalaikumsalam, Dek. Oh ya, Kak Alif dan Kak Ferri sudah di pangkalan speed boat. Jangan lupa tunggu mereka di pantai nanti sore" kata Nada pada adiknya.


"Iya, Kakak. Mama dan Papa lagi beresin kamar untuk teman Kakak itu" kata adik Nada.


"Oke, Dek. Tolong berikan ponselnya pada Mama atau Papa" pinta Nada. Tak lama menunggu, terdengar suara wanita paruh baya.


"Mama... aku kangen Mama" ungkap Nada dengan netra mata berkaca-kaca.


"Kamu itu sudah besar tapi masih cengeng. Pantas saja nggak ada pria yang datang melamar mu. Hehehe" sanggah Mama Nada lalu terkekeh.


Sakia memperhatikan Nada, bagaimana keakraban dia dan adik serta Mama Papanya. Sungguh, Sakia merasa iri. Dia juga ingin memiliki keluarga yang saling merindukan. Menangis lewat telepon karena rindu yang tak berujung. Apakah semua orang kampung seakrap itu? Itulah yang ada dibenak Sakia.


"Kak Kia, kenapa Kakak menangis?" tanya Nada dengan bingung, setelah dia melakukan panggilan telepon, dia melihat Sakia menyeka air matanya.


"Kakak terharu mendengar mu berbicara dengan adik-adikmu. Mereka sangat menyayangimu. Bahkan adikmu sampai menangis minta kamu pulang" jelas Sakia.


"Itu adik bungsuku. Dia memang seperti itu, orangnya manja jadi dikit-dikit nangis" jelas Nada.


Restoran Sedekah

__ADS_1


Nurin mengedarkan pandangannya. Mencari-cari keberadaan Alif. Terakhir kali Alif mengirim pesan padanya saat Alif ke ruko dan memperhatikan Nurin di balkon bersama Nada. Hingga pagi ini, Alif tak pernah mengirim pesan pada Nurin lagi.


"Kenapa Kak Alif nggak ke restoran. Apa Kak Alif ke kampus? Apa Kak Alif marah padaku?" batin Nurin.


"Nurin, kamu kenapa?" tanya Nina, seorang pegawai restoran.


"Lihat Kak Alif nggak?" Nurin balik bertanya.


"Kak Alif nggak masuk kerja hingga pekan depan. Katanya sih ada urusan pribadi. Kak Alif hanya minta doa, agar urusannya berjalan lancar" jelas Nina.


"Kenapa aku malah merindukan Kak Alif" batin Nurin.


......🍁🍁......


Sakia sudah berada di rumah menunggu suaminya pulang dari rumah sakit. Wanita cantik yang selalu mengenakan gamis itu, tersenyum bahagia di ruang tamu. Impian kecilnya yang dulu sempat ia ukir dalam ingatannya sudah bisa ia aplikasikan. Apalagi kalau bukan menunggu suaminya pulang, membantunya melepas baju suaminya, menyiapkan air hangat, menyiapkan pakaian ganti dan tentunya menyiapkan makan malam juga sarapan pagi.


"Ya Allah, setelah banyaknya perjalan yang berliku-liku, kini impianku menjadi kenyataan" gumam Sakia mendekap wajahnya sendiri.


"Kak Fattan sudah pulang" gumam Sakia setelah mendengar mobil berhenti di garasi rumah.


"Kok senyam-senyum sih" tegur Fattan saat melihat istrinya tersenyum menatapnya lalu menunduk saat tatapan keduanya bertemu. "Lagi bahagia ya, Dek" sambungnya sambil mengacak acak rambut istrinya yang kebetulan wanita itu tidak mengenakan jilbab.


"Kakak, terima kasih" ujar Sakia tersenyum menunduk.


Fattan terkekeh. Dia gemes melihat sikap Sakia yang seperti dulu lagi. Sakia yang pemalu dan selalu salah tingkah berada di dekat Fattan. Namun untuk soal perasaannya terhadap Fattan, dia tidak bisa seperti orang lain yang suka memendam. Tanpa diungkap pun, orang-orang yang mengenal Sakia bisa menebak bagaimana perasaan Sakia pada Fattan. Waktu itu Sakia masih berada di bangku SMP, namun rasa mengagumi mulai tertanam dalam dirinya, hingga rasa kagum itu menjadi cinta dengan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia.


"Ayo" Fattan meraih tangan istrinya. Keduanya pun ke lantai dua.


Sesampainya di kamar, Fattan berdiri menghadap istrinya. "Dek, silahkan" kata Fattan.


Sakia mengerutkan keningnya. "Maksudnya?" tanya Sakia dengan bingung.


"Bantu Kakak melepas baju ini. Bukankah ini salah satu impian Kia" jelas Fattan menatap wajah istrinya.

__ADS_1


Sakia menelan saliva nya. "Dari mana Kakak tahu?" tanya Sakia. Wajahnya bersemu merah merona.


Fattan terkekeh. "Kakak tahu semuanya. Ayo bantu Kakak" kata Fattan tersenyum senang.


Sakia menjulurkan tangannya, melepas satu persatu kancing kemeja suaminya. Berulang kali dia menelan kuat saliva nya. Sementara Fattan tersenyum menatap lekat wajah istrinya yang jaraknya sangat dekat.


"Kenapa suasananya canggung seperti ini. Bukankah waktu lalu semuanya berjalan biasa saja tanpa ada rasa canggung. Bahkan aku sendiri yang berkata siap menyerahkan segalanya, bahkan mahkotaku sekali pun. Lalu kenapa aku kembali malu seperti dulu. Akhh!! Cinta ini membuat terlihat bodoh" batin Sakia mengumpati dirinya sendiri.


"Terima kasih, Dek" kata Fattan mengelus kepala istrinya. "Tetap menjadi Sakia ku. Yang pemalu juga kuat. Jangan cengeng lagi dan jangan menyimpan beban seorang diri" kata Fattan, setelah Sakia usai membantunya melepas baju kemejanya.


Sakia tertegun malu. Membuat Fattan semakin ingin menerkam istrinya. "Kia sudah mandi?" tanya Fattan.


Sakia menggeleng. Kembali membuat Fattan tersenyum. Fattan melepas celana yang dia kenakan meninggalkan celana boxer coklat. Tanpa izin, pria itu langsung menarik tangan istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Keduanya pun mandi sore bersama.


Beberapa puluh menit kemudian, Fattan keluar mengenakan handuk lalu mengenakan pakaian yang sudah disiapkan istrinya. "Dek, ayo sini" panggil Fattan.


Sakia keluar dari kamar mandi mengenakan jubah mandi. Rambutnya terlihat masih basah. "Ada apa, Kak?" tanya Sakia menghampiri suaminya.


"Duduk" titah Fattan.


Sakia mengerutkan keningnya namun ia juga menurut. Wanita itu duduk di kursi depan meja rias. Seulas senyum tersungging manis saat Fattan-suaminya mengeringkan rambut Sakia menggunakan hair dryer.


"Setelah ini gantian ya, Kia yang keringkan rambut Kakak" kata Fattan sambil mengeringkan rambut istrinya.


"Ini" Fattan menyerahkan hair dryer setelah selesai mengeringkan rambut istrinya.


Sakia mengambil hair dryer lalu mengeringkan rambut suaminya. "Kak Fattan" panggil Sakia.


"Ya" sahut Fattan menatap istrinya lewat bayangannya di cermin.


"Jika nanti lamaran Alif diterima, kita ke kampung Nurin dan Nada ya. Kia mau bertemu keluarga Nurin dan Nada" ujar Sakia.


"Iya, Dek. Nanti kita ke sana. Sempat di sana ada wanita yang mau jadi istri kedua" ujar Fattan.

__ADS_1


Sakia menatap tajam Fattan lewat cermin. Membuat Fattan terkekeh dan berdiri lalu berbalik menatap istrinya. "Kia hanya akan menjadi istri Kak Fattan satu-satunya. Kini dan selamanya" ujar Fattan tersenyum.


__ADS_2