Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Sequel INDA. MCI. Episode 7


__ADS_3

"Kakak hanya akan menjadi Kakak bagiku. Nggak lebih dari itu. Jadi jangan memintaku mengulang masa lalu" sambung Sakia. Kalimat yang dulu Fattan lontarkan kini Sakia kembalikan pada Fattan.


Jleb!! Fattan tertegun mendengar sindiran istrinya. Kalimat itu seperti tamparan baginya. Membuatnya kembali kembali mengingat masa lalunya. Masa dimana dia meminta Sakia untuk tidak berharap lebih darinya.


Flashback On


Mata Sakia menyusuri kerumunan orang yang berlalu lalang di pantai losari. Gadis cantik itu mencari seseorang yang akan datang menjemputnya. Seulas senyum lebar tersungging manis di bibirnya, saat pria yang dia cintai telah datang menjemputnya.


"Kak Farhan, Kia di sini" Sakia melambaikan tangannya dengan senyumnya yang masih terukir indah.


Fattah menghampiri Sakia dan mengajaknya pulang. Pria itu kesal karena dibohongi adiknya, Fadila. Fadila meminta Fattan menjemput Sabila di losari namun nyatanya Sakia yang di losari, bukan Sabila.


"Cepat!" ketus Fattan.


"Kak Fattan" panggil Sakia dengan pelan.


Fattan menghentikan langkahnya berbalik menatap Sakia. "Kenapa? Ada apa?" pertanyaan beruntun Fattan lontarkan membuat Sakia menunduk sambil menarik bagian bawah bajunya.


Fattan mendekati Sakia yang menunduk. "Sudah Kakak katakan, jangan berharap lebih. Kia hanya akan menjadi adik Kak Fattan, nggak lebih dari itu" kata Fattan menekan kalimatnya.


Netra mata Sakia mulai berkaca-kaca. Namun wanita itu menahan bulir bening yang mulai menumpuk. Tidak mungkin dia menangis di tempat keramaian. Dengan luka yang tak berdarah, Sakia melewati Fattan dan keluar dari area pantai untuk mencari Taxi.


Flashback Off


"Sudah seminggu aku bersikap cuek pada Kak Fattan. Ya Allah, maafkan aku ya Allah. Aku hanya masih kesal padanya. Dia mencintai Kak Sabila tapi saat keluarga membuat keputusan yang harusnya dia bantah, tapi dia hanya diam" batin Kia setelah menyindir suaminya.


"Kak Fattan, izinin Kia pergi ya. Kia bosan di rumah. Dan kalau Kakak bosan Kakak bisa ikut Kia ke butik" kata Sakia mengesampingkan egonya yang seminggu ini meluap dalam dirinya.


"Kakak ikut" kata Fattan. Pria itu melewati istrinya yang sedari tadi berdiri di samping tangga.


Sakia mengerutkan keningnya. "Kakak yakin mau ke butik dengan penampilan seperti itu?" tanya Sakia memastikan.


Fattan menghentikan langkah. Menatap baju dan celana yang dia pakai. Hanya celana pendek dan baju kaos putih. "Hehehehe" cengir Fattan dan kembali naik. "Tunggu sebentar" ujarnya.

__ADS_1


Sakia mengulas senyum indah di bibirnya saat suaminya sudah berada di dalam kamar. "Seperti anak-anak" gumamnya.


Tak membutuhkan waktu lama, Fattan keluar dari kamar. Pria itu mengenakan baju kemeja dan celana panjang chino merek zara. "Ayo" ajak Fattan.


Fattan dan Sakia mengendarai motor ke butik. Sakia begitu mencintai motor matic nya yang sudah tiga tahun menemaninya kemanapun dia pergi. Jika biasanya pria selalu membonceng wanita maka tidak dengan Sakia. Wanita itu tidak mau dibonceng oleh suaminya. Mau tidak mau Fattan harus duduk di belakang istrinya. Dalam perjalanan, Fattan kembali mengingat masa-masa indah bersama Sakia. Masa dimana mereka masih sekolah. Sakia masih SMP dan Fattan sudah SMA.


Flashback On


Hujan begitu deras di sore hari. Fattan masih berada di rumah temannya, begitu juga dengan Sakia. Entah suatu kebetulan atau memang jodoh, rumah teman Fattan dan Sakia berdekatan. Saat Sakia menstarter motornya, tiba-tiba Fattan keluar dari rumah temannya dan melihat Sakia.


"Dek" panggil Fattan.


Sakia mengusap air hujan yang membasahi wajahnya. Lalu menoleh ke arah suara. "Kak Fattan" gumam Sakia.


"Ada apa dengan motornya?" tanya Fattan berhenti di samping Sakia.


"Nggak tahu, Kak. Dari tadi di stater tapi nggak jadi" jelas Sakia.


Setelah memasukan motor Sakia di garasi rumah temannya, Fattan kembali menghampiri Sakia yang mulai kedinginan. "Cepat naik" titah Fattan.


"Aku nggak mau dibonceng. Kakak saja yang dibelakang" kata Sakia yang memang pada dasarnya tidak suka duduk dibelakang.


"Ya sudah. Kamu saja yang bawa" kata Fattan mengalah.


Dalam perjalan pulang, Sakia mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Wanita itu ingin berlama lama dengan pria pujaan hatinya. Sekalipun hujan deras tapi tak membuatnya menambah kecepatan motor.


Flashback Off


"Kia, kamu masih ingat nggak waktu kita terjebak hujan?" tanya Fattan.


"Udah nggak ingat. Dua tahun belakanagn ini Kia seperti orang hilang ingatan. Semua tentang masa lalu sudah Kia kubur jauh-jauh" jawab Sakia.


Fattan cemberut mendengar jawaban istrinya. "Ya sudah" kata Fattan dan langsung diam.

__ADS_1


Sakia memarkirkan motor matic nya di depan Butik Sakia Fashion. Di depan butik, ada mobil Alif terparkir dengan indah. Sakia nampak biasanya saja melihat mobil Alif tapi tidak dengan Fattan. Pria itu mengepal tangannya saat melihat mobil adik sepupunya.


"Assalamualaikum" Sakia mengucap salam lalu masuk ke dalam butik yang disusul oleh Fattan.


"Waalaikumsalam" balas Alif, Nurin dan Nada. Nurin dan Nada saling tatap dan tersenyum. Kedua wanita itu senang melihat Sakia akrab dengan Fattan. Nurin dan Nada tahu, dulu Sakia sangat mencintai Fattan.


"Kamu nggak ke kampus, Lif?" tanya Sakia sambil meletakkan tas selempang nya di atas meja.


"Jam satu baru ke kampus. Oh ya, barang yang sudah di packing mau langsung di kirim atau bagaimana?" tanya Alif. Pria itu mengabaikan keberadaan Fattan.


"Langsung di kirim. Costumer sudah pada chat menanyakan resi" balas Sakia. Lalu menghampiri suaminya.


"Kak Fattan, Kakak bisa duduk di situ. Kakak mau Kia pesankan apa?" kata Saki menunjuk sofa.


Fattan duduk di sofa yang Sakia tunjuk. "Apa saja" balas Fattan tanpa ekspresi.


Setelah membantu Nurin dan Nada packing barang, Alif menghampiri Fattan. Sementara Sakia menunggu pesanan datang. Wanita itu memesan pisang coklat dan beberapa minuman dingin.


"Nggak kerja?" tanya Alif mendudukkan bokongnya di sofa.


"Nggak. Kamu ngapain di sini?" tanya Fattan.


"Seperti yang Kakak lihat. Aku ke sini setiap hari sejak butik ini dibangun. Kalau nggak percaya Kakak bisa tanya Nurin dan Nada atau Sakia" jawab Alif memanas manasih Fattan.


"Jadi Sakia dan Alif setiap hari selalu bersama" batin Fattan.


Sakia masuk ke dalam butik sambil membawa beberapa minuman dingin dan dua kotak pisang coklat keju. Wanita itu duduk di sofa bersama dengan Alif namun berjarak.


"Silahkan Alif, Kak Fattan. Silahkan menikmati minuman dan pisangnya" kata Sakia tersenyum sambil meletakkan minuman dingin dan pisang coklat di meja.


"Nurin, Nada, ayo sini Dek" panggil Sakia.


"Dia mempersilahkan Alif lebih dulu daripada aku. Bahkan dia duduk di samping Alif. Haiss!! Apa ini yang dinamakan cemburu buta?" batin Fattan mendengus kesal.

__ADS_1


__ADS_2