Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDAH. Episode 9


__ADS_3

Di ruang keluarga, Amrita dan Aziz terlihat tegang. Keduanya duduk bersampingan tanpa menatap satu sama lain. Rasa takut menghampiri Amrita. Ia takut Tante Eka dan Pa Sofyan akan membencinya.


"Amrita, Aziz, kalian tahu apa kesalahan kalian kan" kata Pa Sofyan mengusap wajahnya dengan kasar. "Karena kalian sudah melanggar dan merusak mata kami maka dengan terpaksa. Dua hari ke depan, kalian akan melangsungkan pernikahan.


Amrita maupun Aziz terperanjat dengan mulut terbuka. Keduanya tidak menyangkah bahwa pria yang ada dihadapan mereka akan mengambil keputusan secepat itu.


"Jangan asal bicara Pa. Mana mungkin Amrita mau menikah secepat itu" kata Aziz membawa bawa nama Amrita.


"Uh... dasar pria tua cari muka. Bilang saja iya, tidak perlu berlagak sok. Apa dia pikir aku tidak tahu pikiran mesumnya" batin Amrita.


"Amrita. Saya tahu kamu tidak mau menikah dalam waktu dekat ini. Saya tidak punya pilihan lain, kalian berdua sudah tidur bersama dan bahkan kalian berdua---" Pa Sofyan tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kami berdua kenapa Pa?" tanya Amrita penasaran. Ia tidak tahu apa alasan Pa Sofyan sampai membuat keputusan secepat itu.


"Ibu, perlihatkan video mereka berdua" kata Pa Sofyan yang dibalas anggukan oleh Tante Eka. Tante Eka memperlihatkan video Aziz dan Amrita.


"Jadi bagaimana? Apa kalian berdua akan tetap pada pendirian kalian. Amrita, kamu seorang perempuan kan. Apa kamu nggak takut Aziz akan pergi meninggalkan kamu setelah apa yang sudah dia perbuat padamu" kata Pa Sofyan.


"Pa, jangan bergurau seperti itu" kata Aziz. Pria itu mengenal dirinya. Dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang merugikan wanita.


"Benar apa yang dikatakan Pa Sofyan. Sudah dua kali Om Aziz mencium ku dan menggendongku. Tidak!! Aku tidak akan membiarkan Om Aziz pergi sebelum dia menikahiku. Pria seperti dirinya pasti banyak wanitanya. Aku setujui saja keputusan ini, setidaknya aku menikah dengan pria yang tidur denganku" batin Amrita.


"Amrita. Bagaimana? Apa kamu sudah mengambil keputusan" tanya Pa Sofyan.


Amrita menghela napas panjang. "Iya Pa, aku setuju. Menikah hari ini pun aku siap" balas Amrita dengan serius.

__ADS_1


"Sekarang kalian berdua bersiap-siap untuk ke butik. Berhubung dua hari lagi kalian akan menikah maka hari ini kalian harus mencoba gaun pengantin" kata Tante Eka.


Aziz menarik tangan Amrita membawanya masuk ke dalam kamar. "Om, pelan-pelan. Kaki aku masih sakit!!" ketus Amrita dengan kesal.


Aziz menghentikan langkahnya. "Apa kamu butuh bantuanku?" tanyanya. Entah setan apa yang masuk dalam tubuhnya hingga dia bersikap baik.


"Tidak. Aku tidak membutuhkan bantuan Om" kata Amrita mendahuli Aziz yang tengah berdiri di anak tangga. Keduanya pun masuk ke dalam kamar. Sesampainya di dalam kamar, Aziz mendudukan Amrita di atas sofa.


Aziz menghela napas panjang. "Apa kamu tidak merasa aneh dengan sikap mereka? Aku rasa mereka sengaja ingin menjebak kita. Pikirkan baik-baik Amrita" ujarnya.


"Dasar laki-laki tua otak mesum. Apa dia pikir aku akan membatalkan keputusanku. Enak saja, dia membuat bibir suciku ternoda, membuatku tidur dengannya dan sekarang dia mencari alasan agar aku menunda dan nanti, saat dia mendapatkan wanita lain dia akan meninggalkanku begitu. Uh... jangan harap Om tua!" ucap Amrita dalam hati.


"Apa yang kamu pikirkan. Aku sedang bertanya padamu!" gerutu Aziz.


"Dan aku tidak meminta Om untuk bertanya. Kenapa malah Om yang kesal sekarang" kata Amrita dengan santai.


"Oke, tunggu sampai hari itu tiba. Aku akan membuat Om tersiksa menahan segalanya. Hahahahaha. Om salah jika ingin bermain-main denganku" batin Amrita.


"Jadi bagaimana? Kamu siap masuk dalam jebakan mereka?" tanya Aziz mengambil tempat disamping Amrita.


"Tidak baik menyalahkan orang tua, Om. Bilang saja kalau Om yang mau begitu. Jikapun kita dijebak, bukankah aku dan Om sudah masuk dalam jebakan. Lalu apa lagi yang mau dipermasalahkan?" kata Amrita.


"Apa katamu! Aku yang sengaja memelukmu? Ow... kamu salah besar. Aku tidak tertarik dengan tubuhmu yang tidak berisi itu" kata Aziz menatap sinis Amrita.


"Benarkah.. lalu siapa yang berkata padaku bahwa dia akan mengambil segalanya yang belum dia ambil. Apa pria itu hantu, pocong atau sejenis lainnya?" seru Amrita.

__ADS_1


"Apa katamu! Aku pocong ata sejenisnya" Aziz membulatkan mata menatap tajam Amrita.


"Selamat, Om masuk dalam perangkap. Lihatlah, Om mengakui jika Om yang berkata akan mengambil apa yang Om belum ambil. Itulah sebabnya, aku tidak percaya jika Om menuduh Tante dan Pa Sofyan yang melakukannya" ujar Amrita enteng.


Aziz kembali membulatkan mata saat mendengar apa yang baru saja ia dengar. Ia mendekatkan wajahnya hingga jarak ke duanya hanya beberapa senti saja. "Aku akan membuatmu salah tingkah" batin Aziz.


"Apa dia pikir aku akan salah tingkah. Oh tidak! Aku akan membuatmu tidak tahan godaan lalu aku akan membuatmu gila sendirian" batin Amrita.


"Om, aku mencintaimu" kata Amrita saat wajah keduanya sangat dekat.


"Ah sial! Kenapa jantungku berdetak dengan cepat saat mendengar kalimat kebohongannya" umpat Aziz dalam hatinya.


Amrita semakin mendekati wajah Dokter Aziz. Sedangkan wajah Dokter Aziz terlihat merah, entah karena apa. Malu mungkin, entahlah. Saat wajah Amrita mulai dekat, Aziz menatap manik mata Amrita yang indah menurutnya. Aziz mendudukan Amrita di atas pahanya. Dengan terpaksa Amrita melingkarkan satu tangannya di leher calon suaminya.


"Mati aku. Aku harus meminta bantuan" batin Amrita. "Tante... Om Aziz melecehkanku..." teriak Amrita saat Aziz mulai tergoda dengan tipu muslihat Amrita. Aziz membukam mulut Amrita. Amrita semakin memberontak membuat junior Dokter Aziz terbangun.


"Akkhh sial! Aku berencana mengerjainya tapi kenapa malah aku yang bernafsu" umpat Aziz di dalam hatinya. Dengan segera Aziz memindahkan tubuh Amrita.


Amrita tertawa terbahak-bahak saat melihat Dokter Aziz berlari masuk ke dalam kamar mandi. "Saat kita menikah nanti, aku akan membuat Om bolak balik ke kamar mandi" gumamnya lirih.


Selang beberapa menit, Aziz ke luar dengan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Ia melirik sofa dan masih ada Amrita di sana. Aziz tersenyum menyeringai, ia mendekat untuk menggoda Amrita kembali.


"Belum pulang calon istriku" tanya Aziz mendekati Amrita.


"Ternyata calon suamiku ini tampan juga tapi sayangnya. Dia terlihat tua jika jalan bersamaku" kata Amrita. Ia membalas rayuan Aziz. Berharap, Aziz lah yang akan kalah. Amrita beranjak dari duduknya, dengan nakalnya, ia menarik handuk Dokter Aziz lalu kabur dari dalam kamar.

__ADS_1


"Amrita!!!" teriak Dokter Aziz.


__ADS_2