Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 70


__ADS_3

Aziz melirik Aher sebelum ia keluar dari ruangan sahabatnya. Aziz tahu, bagaimana rasanya ditinggal orang yang kita cintai. Sakit, itulah yang pasti dirasakan. "Aher, aku ke kelas satu dulu" ujar Aziz lalu pergi.


Aher mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Madania. Namun gadis itu tak kunjung menjawab panggilan telepon dari Aher. Aher menghela napas kasar, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.


"Belum juga menikah, dia sudah mengabaikan panggilanku. Bagaimana jika dia sudah menikah, sudah pasti dia akan memblokir nomorku" gumam Aher dengan sedih.


"Sekalipun aku ditinggal nikah, aku masih punya tanggung jawab. Lebih baik aku berkunjung di ruangan pasien. Melihat mereka akan menggerakkan hatiku dan menuntun bibirku mengukir senyum" sambung Aher kemudian berdiri dan menghela napas dalam-dalam.


"Semangat Aher!" gumamnya dengan tegas kemudian mengambil alat stetoskop dan keluar dari ruangannya. Sepanjang jalan, Aher terus menyanyikan lagu pasti ku bisa.


Aher masuk dalam ruangan kelas satu. Masuk bukan memeriksa kondisi pasien melainkan hanya menebar pesona agar ia bisa tersenyum. Aziz yang berada di ruang kelas satu menatap senyum sahabatnya yang mulai ceria.


"Ada apa dengannya? Ya sudahlah, melihat dia bahagia itu jauh lebih baik" batin Aziz. Kemudian menghampiri pasiennya.


"Pagi Bu, bagaimana keadaan hari ini? Oh ya, sepulang dari rumah sakit, jangan lupa jaga kesehatan ya. Ingat, sering makan makanan yang kaya serat" jelas Aziz pada pasien yang nanti sore akan pulang.


"Baik, Dok" balas sang pasien yang umurnya sekitar dua puluh tujuh tahun.


"Terima kasih, Dok" ucap seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu pasien.


"Sama-sama, Buk. Saya permisi dulu ya" balas Aziz kemudian pamit dan pergi mengecek kondisi pasien lainnya.


"Hallo adek. Bagaimana keadannya hari ini? Apa masih terasa sakit?" tanya Aziz pada pasien kedua yang seminggu lalu menjalani operasi.


"Alhamdulilah. Sekarang jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya, Kak" balas sang pasien dengan senyum manisnya.


"Alhamdulilah. Rutin minum obatnya ya, biar cepat sembuh" ujar Aziz lalu menatap perawat sejenak. "Tolong ganti botol infusnya, cairannya tinggal sedikit" pintah Aziz pada perawat yang kini berdiri di sampingnya.


"Baik, Dok" balas sang perawat wanita.


Aziz keluar dari ruangan kelas satu. Saat melewati ruangan kelas dua, ia melihat Aher sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter. Seulas senyum tersungging di bibir Aziz. "Alhamdulilah. Aku tidak perlu mencemaskan dirinya lagi" gumam Aziz.


--


Sementara di kampus, Amrita dan teman sekelasnya sedang mendengarkan penjelasan materi yang dibawakan oleh Dosen dari Fakultas lain. Dosen pengampu mata kuliah Bahasa Indonesia yang bernama Ibu Erli.

__ADS_1


"Materi kita sampai di sini dulu. Jangan lupa pelajari cara menyusun Daftar Pustaka" ujar Ibu Erli


"Baik Bu..." balas semua mahasiswi dan mahasiswa bersamaan.


"Assalamualaikum" Ibu Erli mengucapkan salam sebelum keluar dari kelas.


"Waaalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu" balas semua mahasiswi dan mahasiswa bersamaan.


Amrita mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada suaminya. Tak menunggu lama, Aziz membalas pesan darinya. Dia dan Aziz pun berbalas pesan hingga dosen kedua masuk ke dalam kelas.


"Mas, jangan lupa makan makanan yang tadi Mas bawa. Ingat, perut harus terisi saat menjalankan tugas. Takutnya Mas jadi pasien bila Mas tidak makan (Smile tertawa)" Amrita.


"Iya, Sayang. Kamu juga jangan lupa makan (Smile senyum)" Aziz


"Mas, nanti baru lanjut lagi ya. Dosen kedua sudah datang ni" Amrita


"Iya, Sayang. Semangat belajarnya. Aku mencintaimu (Smile love)" Aziz


"Aku pun mencintaimu obatku (Smile tertawa dan love)" Amrita


Berhubung sudah pukul dua belas siang, Aziz menghampiri Aher di ruangannya sembari membawa tupperware. Ia mendapati Aher berdiri di dinding kaca rumah sakit sambil memandang jauh ke kota.


"Assalamualaikum" Aziz mengucap salam kemudian masuk dan mengambil tempat di kursi.


"Waalaikumsalam" jawab Aher berusaha tersenyum agar Aziz menganggapnya bahwa ia baik-baik saja.


"Apa kau yakin ingin berbagi makanan denganku" sambung Aher meledek sambil menghampiri sahabatnya.


"Hahahaha" kekeh Aziz. Lalu membuka penutup tupperware.


Aziz dan Aher makan siang bersama di dalam ruangan Aher. Mereka makan siang dengan menu seadanya. Makan makanan yang dimasak oleh Amrita. Masakan Amrita memang lezat, hingga Aziz dan Aher menghabiskan semua makanan tanpa sisa.


"Apa kau bawa air?" tanya Aher yang saat itu ingin minum.


Aziz menggeleng kuat. Dia juga baru ingat, kalau dirinya lupa membawa botol air minum stainless steel yang sering ia bawah dari rumah. "Ayo kita cari air" ajak Aziz lalu beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Kau, kalau mengajak orang makan ya sediakan air!" ketus Aher.


"Kau juga, bukannya kau sering bawa air! Kenapa hari ini kau tidak bawa!" balas Aziz dengan nada kesal.


"Hahahaha. Aku sudah menghabiskannya" balas Aher. Aher dan Aziz berlari masuk ke salam kantin lalu membuka showcase cooler, kemudian mengambil Aqua botol kecil.


"Alhamdulilah" ucap Aziz dan Aher bersamaan, saat air di dalam botol sebagian sudah diminum.


...ΩΩΩ...


Senja mulai menampakan diri. Amrita yang tak ingin melewatkan pemandangan indah itu memilih masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya. Kemudian dia kembali ke balkon dan mulai mengabadikan momen di sore itu.


"Senja yang begitu indah" gumamnya sembari menatap hasil foto yang ia ambil. "Keindahan yang dimilikinya tak membuat semua orang menanti kemunculannya. Dan untuk mereka yang menanti keindahannya, mereka akan selalu memperhatikan waktu" sambungnya tersenyum.


Ting... satu notifikasi masuk di ponsel Amrita. Amrita membuka aplikasi watshap lalu membaca pesan yang masuk. Senyum manis seketika tersungging di wajah indahnya. Membaca isi pesan yang semua wanita suka.


"Hari ini aku lembur, jam delapan baru bisa pulang. Kamu mau aku belikan apa?"


Itulah isi pesan dari Aziz. Setelah membaca pesan dari suaminya, Amrita mulai membalas pesan indah itu.


"Iya Mas. Semangat kerjanya obat ku sayang terlope lope (Senyum love). Aku akan selalu menunggumu di rumah (Smile senyum). Oh ya, kalau bisa tolong belikan aku obat lagi (Smile tertawa)"


"Obat apa?"


"Brownis original. Belinya di Toko brownis ya Mas, jangan di apotek, nanti dilempar batu sama apotekernya. Hahahahaha"


"Hahahaha. Iya istrku yang manis, yang sekarang terlihat cantik dimataku. Obatmu akan selalu aku belikan, tapi jangan lupa, nanti malam tolong bersiap-siap. Hehehehe"


"Hahahaha. Iya obat ku sayang, pelayanan akan selalu ada"


"Oke-oke. Mas kerja dulu ya, kamu hati-hati di rumah. Assalamualaikum"


"Iya, Mas. Waalaikumsalam"


Usai berbalas pesan dengan suaminya, Amrita kembali menatap senja yang sebentar lagi akan dijemput malam. Dalam diamnya, ia bergumam dalam hati, sembari menatap langit senja yang berwarna orange ke biru biruan. "Berawal dari ciuman khilaf, berujung pernikahan dan Alhamdulilah, kini membuahkan kebahagiaan dan cinta"

__ADS_1


__ADS_2