
Sehari semalam keluarga besar Zakri berada di Pulau Lae-Lae. Dan sekarang, keluarga besar itu sedang berada dalam perjalanan pulang menuju rumah masing-masing, terkecuali Fattan dan Sakia yang memilih tinggal dengan Papa Aziz untuk beberapa minggu.
"Papa, kita singgah di Apotek sebentar ya" ujar Fattan pada Papa Aziz yang sementara duduk di kursi belakang.
"Iya" sahut Papa Aziz sambil memainkan ponselnya.
"Biar Kia yang turun Kak" ujar Sakia lalu turun dari mobil. Dia kembali sambil membawa test pack yang dia sembunyikan di dalam tas kecilnya.
Fattan kembali melanjutkan perjalanan, beberapa puluh menit kemudian, mereka pun sampai di perumahan citraland hertasning.
"Kalian langsung istirahat, Papa juga mau istirahat" kata Papa Aziz berlalu masuk ke dalam rumah menuju kamar yang sejak dulu dia tempati.
Sakia dan Fattan turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah dan langsung ke kamar. Fattan mengambil handuk lalu ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Sementara Sakia menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Tak lama, pintu kamar mandi terbuka.
Cek--lek... (Pintu kamar mandi terbuka)
Fattan berjalan keluar menghampiri istrinya. "Dek, sekarang kamu masuk dan jangan lupa bawa test packnya" titah Fattan mengingatkan.
"Iya, Kak" sahut Sakia. Wanita itu mengambil test pack dari dalam tas lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tak lama di dalam, dia keluar dengan wajah yang sedikit pucat.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Fattan cemas.
"Kak, Kia nggak berani lihat hasilnya. Kia takut" jawabnya gemetar.
"Sini" Fattan meminta test pack dari istrinya.
Sakia menyerahkan test pack yang dia pegang lalu duduk di tepi ranjang. Sementara Fattan sedang berdoa sebelum melihat hasilnya. Usai berdoa, Fattan memberanikan diri untuk memastikan garis merah yang muncul, seulas senyum tercipta dengan sempurna saat dua garis merah yang selama ini mereka nantikan, kini bisa dia lihat dengan jelas. Dua garis merah, itu tandanya Sakia positif hamil, bukan sakit.
"Dek, Allah mengijabah doa kita" ujar Fattan memeluk istrinya.
Sakia terdiam sesaat, mencerna kembali kalimat yang diucap suaminya. Seketika tangisnya pecah dalam pelukan suaminya. "Kakak, Fadli benar Kak" ujarnya sambil membalas pelukan suaminya.
Fattan melerai pelukannya. "Iya. Besok pagi Kia ikut Kakak ke rumah sakit. Kita cek kandungan mu agar kita tahu, sudah berapa bulan usia janin yang ada di dalam sini" kata Fattan tersenyum.
__ADS_1
Sakia mengangguk. Dia sudah tidak sabar memberitahu Mama dan Papanya, juga Nada dan Nurin. "Nanti saja baru aku beritahu mereka" batin Sakia.
......🍁🍁......
Sore hari, Sakia masih tidur, sementara Fattan sibuk di dapur memasak. Pria itu membiarkan istrinya tidur tanpa membangunkannya. Papa Aziz mengerutkan kening saat melihat Fattan senyam senyum sambil menggoreng ikan.
"Ada kabar baik ya?" tanya Papa Aziz tepat sasaran.
"Iya, Paa" sahut Fattan tersenyum.
"Sakia hamil?" tanya Papa Aziz berbinar.
"Iya, Paa. Alhamdulilah, akhirnya Allah mengijabah doa kami" jawab Fattan kembali mengulas senyum.
"Alhamdulilah. Jadi kamu mau masak apa? Biar Papa bantu. Papa mau masak makanan untuk cucu Papa" jelas Papa Aziz antusias. Pria separuh baya itu menatap makanan di atas meja.
"Tinggal ikan. Sayur, tempe, tahu, dan sayur sudah tersaji" jelas Fattan.
Di kamar, Sakia mengerjap berulang kali, hidungnya bergerak mencium aroma harum dari arah dapur. Mata yang tadinya menatap langit-langit kamar, beralih ke arah jam dinding.
"Kenapa belum mandi?" tanya Fattan yang mau naik ke kamar.
"Kakak, apa Papa yang memasak?" tanya Sakia cemas.
Fattan tersenyum. "Kakak yang memasak. Tadi Papa mau bantu, tapi sayangnya, semua menu makan malam sudah tersaji. Yuk ke kamar, kita mandi lalu shalat berjamaah" jelasnya.
...🍁🍁...
Setelah shalat isya, Aziz mengajak anak dan menantunya untuk makan malam. Mereka dengan sengaja makan di pukul delapan malam, alasannya hanya satu, masih kenyang. Di meja makan yang masih pada tempatnya, Sakia melirik Papa mertuanya lalu melirik suaminya. Fattan yang merasa ditatap oleh istrinya, pria itu membuka percakapan.
"Setelah makan baru kita bahas" kata Fattan. Usai makan malam, Fattan membantu Sakia mengangkat piring kotor. Setelah itu mereka menemui Papa Aziz di ruang keluarga.
"Selamat ya, Nak" ucap Papa Aziz tersenyum.
__ADS_1
"Mulai sekarang kamu harus banyak istirahat. Kan ada pegawai di butik dan di restoran jadi biarlah mereka yang bekerja. Kamu cukup tunjuk satu orang di butik dan satu orang di restoran, yang kamu percayai, untuk memantau pekerjaan pegawai yang lain. Mulai sekarang, kamu nggak boleh terjun ke dapur ataupun membersihkan rumah. Papa akan mencari dua orang ART. Satu memasak, dan satu membersihkan rumah" jelas Papa Aziz.
"Papa nggak mau kamu seperti Mama kamu. Papa tahu, kematian adalah takdir yang sudah ditetapkan. Tapi tetap saja, sampai hari ini, Papa masih menyalahkan diri Papa sendiri. Papa membiarkan Mama kalian melalukan tugas rumah sekalipun saat itu dia masih kuliah dan sementara mengandung. Papa nggak mau kamu kenapa-napa, Nak. Menurutlah jika kamu menyayangi Papa mertuamu ini" sambung Papa Aziz.
"Bagaimana, Dek?" tanya Fattan.
"Kia mengikut. Lagian, keputusan yang Kakak dan Papa buat juga demi kebaikan Kia kan" jelas Sakia.
......🍁🍁......
Esok hari, Sakia dan Fattan sudah berada di rumah sakit dan sudah mendaftar. Kini mereka berada di ruangan dokter kandungan, Namanya Dokter Nurma.
"Baru kali ini datang cek up?" tanya sang dokter.
"Iya, Dok" jawab Sakia.
"Kapan terakhir haid?" tanya Dokter Nurma lagi.
"Tanggal 3 bulan 2, Dok" jawab Fattan.
Dokter mengulas senyum. "Suami yang baik" imbuhnya. "Apa keluhannya?" tanya Dokter lagi.
"Tidak ada, Dok. Dia tidak merasa mual, ataupun ngidam. Begitu juga dengan saya, saya tidak merasa pusing atau ngidam" lagi-lagi Fattan yang menjawab.
Dokter mengangguk paham. Lalu melihat kalender yang di atas meja kerjanya. "Sekarang tanggal 21 bulan 4" gumam sang dokter.
"Kenapa Bapak baru membawa istri Bapak ke rumah sakit?" tanya Dokter menatap tajam Fattan. Ya, tatapan itu berani diperlihatkan karena dokter tersebut adalah rekan kerja Fattan. Sama-sama Dokter, tapi Fattan dokter Umum sementara Dokter Nurma adalah Dokter kandungan.
"Saya yang tidak mau ke rumah sakit, Dok" jawab Sakia.
Dokter Nurma tersenyum. "Ayo ikut saya" ajak Dokter Nurma meminta Sakia naik dan berbaring di atas hospital bed yang ada di ruangan Dokter Nurma.
Usai melakukan pemeriksaan, Sakia dan Dokter Nurma kembali duduk di kursi masing-masing. Dokter Nurma menatap Fattan lalu menatap Sakia.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya?" tanya Fattan serius.