Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
INDA. Episode 101


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Aziz merencanakan sesuatu untuk dilakukannya di malam hari. Yaitu jalan berdua tanpa membawa Fattan dan Fadila. "Tapi kasihan juga anakku jika aku tinggalkan bersama Ibu dan Papa. Bagaimana jika mereka menangis" gumamnya berpikir keras di kolam renang.


"Mas, ngapain melamun. Kesambet setan baru tahu rasa" kata Amrita mengambil tempat di kursi samping suaminya.


"Sayang, nanti malam kita pergi nonton yuk. Nonton di bioskop. Bagaimana, kamu mau nggak" ajak Aziz menawarkan.


"Hmmmm. Aku sih mau, Mas. Sejak menikah aku nggak nonton di bioskop lagi" balas Amrita. "Lalu bagaimana dengan Fattan dan Fadila?" tanyanya menatap sang suami.


"Kita bawah ke rumah Ibu. Atau kita minta Ibu tidur di sini" jawab Aziz.


"Aku setuju!!" sorak Amrita dengan girang. Akhirnya, dia bisa jalan-jalan lagi. Tugas kampus dan kesibukan mengurus suami dan anaknya, membuatnya berpikir dua kali untuk pergi bersenang senang. Kini, kesibukan kampus yang begitu menguras waktu, telah selesai. Wanita itu sudah terbebas dari segalanya. Dia tinggal tunggu jadwal wisuda saja.


...ΩΩΩ...


Pukul 18:00 PM.


Waktu yang ditunggu tunggu telah tiba. Fattan dan Fadila tengah duduk santai di sofa. Fadila mengenakan baju dress selutut dan celana legging panjang. Sementara kakaknya, Fattan mengenakan baju kous hitam dan celana cino panjang.


"Sayang. Ayo kita ke mobil " ajak Amrita. Amrita mengenakan baju tunik warna grey dan celana panjang kulot yang agak longgar warna hitam. Serta jilbab motif bunga warna grey.


"Iya, Ma" balas Fattan dan Fadila bersamaan. Kedua anak kecil itu turun dari sofa berjalan mengikuti langkah kaki Mama mereka dari belakang.


Amrita membuka pintu mobil, meminta anaknya untuk masuk ke dalam. Fattan dan Fadila pun masuk. Keduanya mengedarkan pandangan di rumah Om Aher. "Ma, baby girl belum pulang ya?" tanya Fattan.


"Belum Sayang. Besok siang baru baby girl pulang" balas Amrita lalu masuk ke dalam mobil.


Aziz keluar dari rumah mengenakan baju kemeja lengan panjang yang digulung hingga siku. Serta celana celana jins warna coklat. Pancaran kebahagiaan tampak jelas di wajahnya. "Sudah siap?" tanyanya pada keluarga kecilnya.


"Pa, kita mau ke mana?" tanya Fattan.


"Fattan dan Fadila ke rumah Nenek. Papa dan Mama ada urusan di tempat lain. Kan nggak mungkin Papa ninggalin kalian berdua di rumah" jelas Aziz.

__ADS_1


"Owww" hanya itu respon Fattan dan Fadila.


Dalam perjalanan ke kediaman Pa Sofyan, Fattan dan Fadila terus mengajak Mama dan papanya bercerita. Hingga perjalan dari Hertasning ke Daya terasa cepat. Terlebih lagi jalanan yang tidak macet. Dan kini, Aziz memarkirkan mobilnya di depan rumah mamanya.


"Ayo turun Sayang" titah Amrita setelah membuka pintu mobil untuk anaknya.


"Baik, Ma" balas Fattan lalu turun yang disusul oleh Fadila.


Fattan dan Fadila menghampiri Tante Eka dan Pa Sofyan yang sedari tadi menunggu mereka di depan pintu. "Assalamualaikum, Kakek, Nenek. Kami bermalam di sini ya. Mama dan Papa lagi sibuk" ungkap Fattan.


Tante Eka tersenyum, begitupun dengan Pa Sofyan. Sementara Aziz dan Amrita menatap anaknya dengan rasa bersalah. Ingin mengajak keduanya nonton tapi pulangnya nanti larut.


"Fattan, Fadila, Mama sama Papa pergi dulu ya. Jangan nakal dan nurut ya sama Nenek dan Kakek" kata Amrita mengelus pipi anaknya.


"Iya, Ma. Hati-hati di jalan. Jangan lupa pulang Ma, Pa" balas Fattan.


"Iya, Sayang" timpal Aziz sambil mencium pipi kedua anaknya.


"Iya, Nak. Tidak datang juga tidak apa-apa" balas Tante Eka tersenyum. "Fattan, Fadila, ayo masuk Sayang. Ada Om di dalam dan ada Mbak Ima juga" ajak Tante Eka.


Aziz dan Amrita melanjutkan perjalanan mereka setelah Fattan dan Fadila sudah berada di dalam rumah. Dalam perjalanan, tangan kiri Aziz terus menggenggam erat tangan kanan istrinya. "Sayang, kamu mau berlibur di mana?" tanya Aziz.


"Nggak perlu jauh-jauh, Mas. Di kota ini juga bisa. Kita bisa ajak anak-anak juga" jawab Amrita tersenyum.


"Bagaimana kalau kita Pulau Lae-Lae. Kita kemping di sana bersama anak-anak" kata Aziz menawarkan tempat yang sebenarnya sudah lama ingin ia datangi.


"Aku setuju, Mas" balas Amrita tersenyum lebar.


Makassar Town Square


Setibanya di Makassar Town Square. Aziz dan Amrita naik ke lantai tiga dan masuk ke dalam M'Tos XXI Makassar. Amrita menunggu Aziz di tempat duduk. Sementara Aziz pergi membeli popcorn. Tak menunggu lama, Aziz pun datang dan duduk di samping istrinya. Tak lama menunggu, mereka pun masuk ke dalam bioskop.

__ADS_1


Aziz menelan saliva nya, jakunnya naik turun melihat adegan ciuman di depannya. Tidak mungkin dia melakukannya di dalam bioskop. Ini bukan di Negara luar, ini di Indonesia. Negara yang sedikit-sedikit viral. Bisa-bisa dia tranding topik di esok hari.


"Nafsu ya" bisik Amrita menggoda suaminya.


"Iya. Jangan merayuku di sini. Aku sudah berusaha untuk tetap tenang" balas Aziz berbisik.


"Hahahaha. Makanya, kalau nonton jangan menghayati adegan dewasanya. Berdiri baru tahu rasa" bisik Amrita meledek.


--


Pukul 22:01 PM


Aziz dan Amrita keluar dari bioskop. "Mas, setelah ini kita mau ke mana?" tanya Amrita sambil menggandeng tangan suaminya.


"Pergi makan setelah itu kita ke pantai Losari. Di Losari, semakin larut semakin padat pengunjung-Nya" balas Aziz tersenyum.


Amrita terus bermanja, ia mengayun ayunkan tangan suaminya. Sekali kali melirik suaminya yang nampak malu. Malu diperhatikan orang. "Abaikan saja. Toh kita hanya bergandengan tangan" ujar Amrita sedikit berbisik.


"Benar katamu" balas Aziz berusaha bersikap cuek dengan keadaan. "Sayang, apa kamu mau beli baju? Sepertinya baju tunik yang sana bagus deh" tanya Aziz sambil menunjuk baju tunik yang dipajang.


"Nggak perlu, Mas. Baju tunik ku udah banyak. Begitupun dengan baju gamis. Baju untuk di rumah juga sudah banyak. Rasanya mubazir jika aku beli dan hanya menyimpannya di lemari" balas Amrita menarik tangan suaminya.


"Ya sudah. Ayo kita makan di KFC" kata Aziz berjalan menuju KFC yang ada di lantai satu bagian depan.


Amrita duduk di kursi sementara Aziz memesan makanan untuk mereka berdua. Tak jauh dari tempat mereka duduk, Amrita melihat Hanin bersama Fakri yang sementara makan berdua. "Hanin" gumam Amrita.


"Mana dia?" tanya Aziz mengedarkan pandangannya.


"Di belakangmu, Mas. Dia sama Fakri. Kita samperin mereka yuk" ajak Amrita.


"Jangan. Bukankah kamu tahu sifat kedua sahabatmu itu. Kalau kita samperin mereka, yang ada mereka akan ikut kita ke Losari. Nanti kita nggak bisa romantis-romantisan di sana" balas Aziz sedikit berbisik.

__ADS_1


__ADS_2