Istri Nakal Dokter Aziz

Istri Nakal Dokter Aziz
Boncap_14 tahun kemudian


__ADS_3

14 tahun kemudian


🎶🎶


Pagi-pagi ku terus ke dapur


Membuat kue untuk Papa dan Kakak


Mau enak apa tidak itu urusan belakang


Sekarang masak-masak dulu


Anak rajin anak rajin adalah aku


Aku... Fadila... 🎶


Fadila bernyanyi sambil membuat adonan dadar gulung. Entah sudah berapa banyak air yang ia tuang. Dilihat dari banyaknya air, sepertinya kue itu akan berantakan. Beberapa puluh menit kemudian, dadar gulung sudah tersaji di atas meja.


"Papa" Fattan melirik Papanya lalu menatap dadar gulung buatan adiknya. Dadar gulung buatan Fadila tidak pantas disebut dadar gulung karena bentuknya tidak digulung. Melainkan melebar seperti telur mata sapi.


Aziz tertegun, ingin rasanya ia putar balik dari dapur dan kembali ke kamar. "Duduk saja. Setidaknya dia sudah berusaha" bisik Aziz pada putranya.


"Coba kalian cicipi. Unti kelapanya enak loh. Aku jamin kalian akan suka dan minta dibuatkan tambah" kata Fadila dengan menepuk dadanya


Fattan dan Papa Aziz menggeser kursi lalu duduk. Mereka melirik Fadila sejenak lalu mengambil sendok. Dadar gulung buatan Fadila tidak bisa dimakan jika tidak diambil menggunakan sendok. Karena teksturnya seperti agar-agar.


"Bismilahirrahmanirrahim" Aziz mengucap basmalah lalu memasukkan satu sendok dadar gulung ke mulutnya. Begitu juga Fattan yang mencoba untuk makan agar adiknya tidak sedih.


"Unti kelapa apa ini? Kenapa asin sekali. Apa dia tidak bisa membedakan garam dan gula saat membuat unti" batin Fattan menggerutu.


"Nggak---" ucapan Fattan terhenti saat Papa Aziz lebih dulu mendahuluinya.


"Enak kok. Hanya saja unti kelapanya keasinan. Dan dadar gulung itu ya digulung, bukan seperti telur mata sapi" kata Aziz mengomentari kue buatan putrinya.

__ADS_1


"Enak apanya" batin Fattan. "Dek, kamu nggak makan?" tanya Fattan.


"Karena Papa bilangnya keasinan jadi aku nggak jadi makan. Nanti aku makan roti panggang saja. Aku buat itu hanya untuk Papa dan Kakak" jawab Fadila tersenyum.


Setelah menghabiskan dadar gulung buatan Fadila, Aziz dan Fattan kembali ke kolam renang. Mereka berencana berenang bersama selagi masih libur. Di kolam renang, Fattan bergidik dan ingin memuntahkan kue buatan adiknya.


"Papa, kenapa sih kita harus makan sekalipun nggak enak? Menyiksa perutku saja!" ketus Fattan.


"Kasihan adikmu. Dia sudah cape-cape bangun pagi hanya untuk membuatkan kita dadar gulung. Bukankah dia sudah berusaha" ujar Aziz.


"Iya juga sih" kata Fattan membenarkan.


--


Bel rumah terdengar berdentang berulang kali. Fadila yang sementara di dapur bergegas membuka pintu rumah. Dilihatnya Sakia datang membawa sayur urap daun ubi dan beberapa kue apang Bugis.


"Assalamualaikum Kakak" ucap Sakia.


Sakia tersenyum lalu masuk. Dia mengikuti Fadila ke dapur. "Kakak, Om dan Kak Fattan di mana?" tanya Sakia seraya meletakkan sayur dan kue di meja.


"Di kolam renang. Katanya sih mau berenang. Mumpung hari ini hari minggu" jawab Fadila.


Sakia mengangguk paham. Lalu mengambil piring mangkok bersih untuk memindahkan sayur yang ia bawah. "Kakak, bantu aku kerjain tugasku dong" pinta Sakia.


"Iya. Nanti Kakak bantu. Sekarang kamu pulang ambil buku tugasmu. Setelah makan dan mandi baru Kakak bantu kamu" kata Fadila tersenyum.


"Terima kasih, Kak. Aku ambil buku dulu" ucap Sakia dengan girang. Sakia baru berumur tiga belas tahun. Dia lahir saat Fadila dan Fattan ulang tahun keempat. Dan kini, Fadila dan Fattan berumur tujuh belas tahun dan Sabila Putri Ahmadenar berumur lima belas tahun.


...---...


Setelah mandi dan mengenakan pakaian, Aziz dan Fattan menghampiri Fadila dan Sakia yang sedang mengerjakan tugas Sakia di ruang keluarga yang berada di lantai satu. Fattan duduk di kursi depan televisi. Sementara Aziz duduk di samping Fadila.


Fadila melirik Papanya. Wanita itu tersenyum melihat Papanya. "Papa" panggil Fadila sambil mengukir senyum.

__ADS_1


Aziz mengerutkan kening menatap putrinya. "Kenapa? Pasti ada maunya ini" tuding Aziz menyelidik.


"Papa pernah baca Novel tentang sugar dady nggak?" tanya Fadila.


"Belum pernah. Kenapa memangnya?" tanya Aziz.


"Tapi Papa tahu kan arti sugar dady?" tanya Fadila tanpa menjawab pertanyaan Papanya.


"Iya, Papa tahu. Memangnya kenapa?" balas Aziz lalu bertanya lagi.


"Aku punya teman cewe namanya Asmi, dia sangat cantik. Dia satu kelas denganku. Dia juga cerewet dan aku jamin Papa pasti suka bila melihatnya. Papa mau kan jadi sugar dady? Aku jodohkan Papa dengannya ya" jelas Fadila dengan mata berbinar. Wanita itu terlalu terobsesi dengan novel yang tua-tua keladi, alias tua-tua suka daun muda.


Fattan yang sementara nonton siaran ikan terbang, pria itu menghentikan kegiatanya lalu menatap Papanya. Begitu juga Sakia yang menatap Om Aziz. Fattan dan Sakia menunggu jawaban dari Papa Aziz.


Aziz menyentil jidat Fadila. "Jangan aneh-aneh. Kalau Papa mau menikah sudah dari dulu Papa menikah" kata Aziz menggeleng menatap putrinya yang bisa-bisanya menjodohkannya dengan daun muda.


"Alhamdulilah" ucap Fattan dan Sakia bersamaan. Mereka lega mendengar jawaban dari Papa Aziz.


"Kenapa Alhamdulilah. Harusnya Kak Fattan dan Sakia setuju dong" kata Fadila menatap aneh Sakia dan Fattan.


"Atau begini saja Pa. Bagaimana kalau Papa jodohkan aku dengan Om-Om yang lumayan berisi dompetnya. Tapi Om-Om yang baik. Yang bisa shalat lima waktu" kata Fadila tersenyum lebar.


"Papa punya teman, umurnya Enam puluh tahun. Dia lima waktu kok. Apa kamu mau dijodohkan dengannya?" tanya Aziz. Pria itu ingin menjahili putrinya.


"Aku nggak mau!! Enam puluh tahun terlalu tua!" ketus Fadila.


"Katanya nggak apa-apa kalau Om-Om, asalkan lima waktu. Kok malah protes umur" ujar Aziz menggeleng.


"Mau yang Om-Om bukan berarti yang udah tua bangat. Yang beda lima belas tahun gitu, atau sepuluh tahun, atau dua puluh tahun. Pokoknya yang nggak terlalu tua" kata Fadila.


"Ada. Beda dua puluh tahun sama kamu. Tapi dia duda anak enam. Apa kamu mau?" tanya Aziz. Pria itu mulai mengikuti alur pembicaraan putrinya.


"Nggak jadi!!" kata Fadila cemberut.

__ADS_1


__ADS_2