
Mall Nipah
Ditempat inilah Aziz dan istrinya berada. Jalan berdua sambil bergandengan tangan seperti pasangan lainnya. Bahagia? tentu saja bahagia namun ada rasa rindu akan anak-anak mereka. Boleh dikata belum cukup satu jam anak-anak dititip pada sang Nenek. Dari lantai satu hingga lantai tiga mereka kunjungi. Setiap tempat pasti diabadikan dengan foto bersama.
"Mas, tolong foto aku" pinta Amrita yang sementara sudah berada di lantai satu.
Aziz tersenyum lalu mengambil ponselnya. Rasanya pria itu menyesal mengajak istrinya jalan-jalan di Mall. Belum cukup lama mereka di Mall tapi memory ponsel Aziz sudah hampir penuh.
"Apa seperti ini jalan berdua sama istri di Mall. Setiap sudut dijadikan background. Aku tidak mau mengajaknya ke Mall Panakkukang. Bisa nggak sampai rumah kalau kayak gini" batin Aziz tersenyum sambil mengambil gambar istrinya.
"Sudah Sayang. Ayo kita cari minuman dingin. Aku ingin minum yang dingin-dingin" kata Aziz mengajak istrinya meninggalkan Mall Nipah.
"Mas, kalau kita mau beli makanan usahakan kita makan di rumah ya. Aku nggak bisa makan makanan enak tanpa anak-anak" ujar Amrita menggandeng tangan suaminya.
"Iya" balas Aziz tersenyum.
Aziz dan Amrita ke parkiran lalu masuk ke dalam mobil. Mobil perlahan keluar dari tempat parkir menuju jalan raya. Tujuan mereka yang kedua yaitu ke Pantai Losari. Duduk berduaan sambil memandangi lautan dan ditemani minuman dingin.
Dalam perjalanan menuju Pantai Losari, ponsel Amrita berdering. Tertera nama Ibu pada panggilan video di aplikasi Whatsapp. Dengan segera Amrita menjawabnya. Terlihat Fattan dan Fadila sedang berada di dalam kamar bersama Nenek dan Kakek mereka.
"Mama, jangan jemput kami ya. Kami mau bermalam di sini" kata Fattan.
"Besok juga jangan. Kami mau ikut Kakek jalan-jalan di----" Fattan tak melanjutkan kalimatnya. Anak kecil itu lupa nama tempat yang mereka akan datangi besok.
"Grand Mall Maros" sambung Fadila.
__ADS_1
"Nah, di situ. Yang disebut adik ku" ujar Fattan tersenyum.
"Sampai jumpa Mama, Papa. Bye bye" ucap Fadila lalu memutuskan panggilan video tanpa mengucap salam.
Ting... satu notifikasi masuk di ponsel Amrita. Amrita membukanya lalu membaca pesan tersebut.
"Assalamualaikum. Maaf mantu Ibu, salamnya dikirim lewat pesan. Fadila memutuskan secara mendadak jadi nggak sempat mengucap salam. Selamat bersenang senang ya mantu kesayangan Ibu (Smile cium)" Tante Eka.
"Hahahahaha. Mas, Ibu dan Papa itu lucu ya. Aku bahagia memiliki Ibu dan Papa mertua seperti mereka. Udah baik, pengertian dan perhatian pula. Berasa seperti aku ini anak kandung mereka" ungkap Amrita tersenyum bahagia.
"Hahaha" tawa Aziz pecah. "Kamu belum ngerasain jadi anak kandungnya. Andai kamu berada di posisiku, kamu akan masuk rumah sakit jiwa" sambungnya membuat Amrita mengerutkan kening.
"Kenapa bisa?" tanya Amrita penasaran.
"Saat TK, aku ke sekolah menggunakan pakaian wanita. Sampai aku wisuda TK. Saat SD, aku ke sekolah seperti laki-laki tapi di rumah seperti perempuan. Aku selamat karena Fakri sudah lahir jadi dia yang kembali diperlakukan layaknya anak perempuan. Fakri si enak, hanya sampai SD saja. La aku, sampai SMP kelas dua" ungkap Aziz bergidik ngeri mengingat masa lalunya.
"Cakap. Jadi kamu itu, sekalipun kamu salah, Ibu dan Papa akan membelamu. Nggak apa-apa. Toh Ibu dan Papa juga menyayangi aku" jelas Aziz tersenyum.
"Mas, bagaimana kalau kita berangkatkan mereka ke Makkah. Selagi kita masih punya rezeki. Lagian uang kamu masih banyak. Dan uang ditabunganku bisa kita gunakan untuk masa depan anak-anak" ujar Amrita memberi saran.
"Sayang. Aku itu mau-mau saja. Selama itu kamu yang minta. Memang sih aku anak mereka. Aku harus berbakti pada kedua orang tuaku. Tapi sekarang kondisinya berbeda. Aku nggak mungkin mengambil keputusan sendiri. Sekarang aku sudah menikah. Aku nggak bisa berbuat sesukaku tanpa persetujuan darimu. Jika memang kamu ridho memberangkatkan Ibu dan Papa ke Makkah maka aku pun akan jauh lebih bahagia" jelas Aziz.
"Ya Allah, Mas. Memberiku makan dan minum, serta tempat tinggal yang nyaman. Itu sudah membuatku bahagia. Aku nggak mau jadi menantu yang pelit. Percuma uang kita banyak tapi kita nggak bisa membawa orang tua kita ke Makkah" balas Amrita.
"Terima kasih Sayang. Sepertinya aku harus berterima kasih pada Ibu karena sudah menjebak kita. Andai malam itu Ibu tidak menggendong mu dan membaringkanmu ke hospital bed bersamaku. Maka kita berdua tidak akan menjadi pasangan suami istri" ungkap Aziz.
__ADS_1
"Hahahaha" tawa Amrita pecah. "Sebenarnya aku sudah tahu, Mas. Ibu mengatakannya padaku saat kita sudah menikah. Ibu dan Papa minta maaf dan akupun nggak menyalahkan mereka. Bahkan sekarang, justru aku harus berterima kasih pada mereka" sambungnya tertawa lepas.
"Astaghirullah... kita sudah lewati Pantai Losari" ujar Aziz menggeleng. Kini keduanya berada di depan Pelabuhan Kapal Laut (Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar).
"Ya sudah, Mas. Kita balik ke rumah saja. Daripada harus mutar lagi kan jauh" ucap Amrita.
Aziz memutar balik arah lalu melanjutkan perjalanannya menuju MTC Karebosi. Keduanya memilih pulang ke perumahan. Anggap saja keduanya sedang patroli jalan dari Jalan Urip hingga Jalan Nusantara dan kembali ke rumah yang berada di Jalan Tun Abdul Rajak.
Perumahan Citraland nomor A19
Setibanya di perumahan. Aziz dan Amrita keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Lalu mendudukkan bokong mereka di sofa yang berada di ruang tengah. Melihat rumah yang terasa sunyi membuat pasangan itu saling tatap. Tiba-tiba mereka merindukan kedua anak mereka.
"Mas, aku rindu anak-anak" ujar Amrita cemberut.
"Aku juga merindukan mereka. Kamu dengar sendiri tadi. Mereka nggak mau dijemput. Kamu tahu sendiri bagaimana Ibu dan Papa. Sudah pasti mereka dirayu hingga nggak mau dijemput" jelas Aziz.
"Cukup kali ini saja kita tidur beda rumah rumah. Aku nggak bisa jauh dari anak-anak" ucap Amrita dengan sedih.
"Ya sudah. Ayo kita ke kamar istrahat. Aku sudah mengantuk" ajak Aziz.
Amrita beranjak dari sofa. Lalu disusul oleh Aziz. Keduanya pun berjalan menuju kamar dan merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur ukuran king size.
"Mas, malam ini kita mau ibadah apa nggak? Kalau nggak aku langsung tidur nih. Kalau mau ayo kita mulai" tanya Amrita serius.
"Hahahaha. Kamu mulai pandai berinisiatif sekarang. Tambah cinta deh" balas Aziz tersenyum lebar. "Ayo kita mulai dari dasar" sambungnya mengajak.
__ADS_1
Aziz dan Amrita kembali memadu kasih. Setelah selesai, keduanya bergegas ke kamar mandi untuk mandi junub. Usai mandi junub, keduanya kembali ke tempat tidur untuk istrahat hingga subuh menyapa.