
Waktu seakan dapat mengubah segalanya, begitu pun dengan seseorang yang dapat berubah,entah itu dapat merubah seseorang menjadi lebih baik, atau pun sebaliknya,
terkadang seseorang itu dapat berubah dikarena suatu hal yang pernah orang itu alami,atau memang seseorang itu sendiri yang ingin merubahnya.
Sama hal nya dengan Alex,dirinya berubah di karena kan suatu hal yang pernah ia alami,
bukan keinginannya menjadi seperti ini,atau
dapat di kata dirinya itu jahat karena menggunakan Sherly sebagai alat untuk membalaskan dendam pribadi miliknya kepada Roy.
Bukan kah itu hanya lah masalah di mereka berdua, tetapi mengapa Sherly yang menjadi korban dari keegoisan mereka berdua,tetapi entah apa yang ada di dalam isi kepala Alex,
karena Alex sangat yakin jika rencana itu akan berhasil,apabila Sherly sampai bertekuk lutut di hadapannya.
_________________________
Dan saat Alex mendengar nada permohonan dari Sherly,ia pun hanya diam sambil menatap kearah Sherly dengan tatapan yang sulit diartikan,dan hanya dirinya yang tahu akan tatapan itu.
Alex menatap Sherly dengan tatapan yang sangat dalam,seakan dirinya tahu apa yang Sherly ingin kan,ia menatap Sherly dengan wajah tanpa ekspresi,tetapi ia dapat melihat jelas dari mata Sherly yang indah,tatapan mata Sherly seakan penuh dengan 'keputusasaan' dan 'kesedihan' yang mendalam,dan Alex seakan dapat merasakan apa yang sedang Sherly rasakan saat ini.
Alex yang melihat itu pun seakan-akan tidak
memiliki tenaga untuk menolak itu,dengan
sedikit terpaksa ia pun menerima penawaran
Sherly.
“Baiklah,aku setuju dengan penawaran kamu”ucap Alex sambil menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan permintaan shetrly .
Sherly yang tadinya memandang Alex dengan keputusaan dan kesedihan yang mendalam itu,ia pun langsung mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia melihat Alex menganggukkan sedikit kepala nya.
“Benar tuan?,anda yakin jika anda tidak akan menarik kembali keputusan anda ini”ucap Sherly belum yakin akan jawaban Alex tadi.
“Iya”jawab Alex datar
“Terima kasih tuan”jawab Sherly langsung,di sertai dengan senyum manis miliknya,wajah nya terlihat cerah dan berseri-seri.
'Setidaknya aku dapat terbebas walau hanya sementara waktu' pikir Sherly terlihat senang
“Oke,berapa lama waktu yang kamu inginkan?”tanya Alex langsung,ia ingin tahu berapa lama waktu yang di inginkan oleh Sherly.
'Mungkin dengan cara memberikan dia waktu,
itu dapat memudahkan aku untuk mendapatkan hatinya'pikir alex
“Kalau boleh,saya ingin anda memberikan saya waktu satu tahun tuan,itu saja sudah cukup agar saya bisa mempersiapkan diri saya dan menerima kenyataan ini”ucap Sherly sambil bangkit dari kursi saat mengatakkan itu.
Tapi meski begitu,Sherly berusaha untuk berkata dengan sopan.
Saat Alex mendengar waktu yang di ingin kan oleh Sherly,hal itu membuat Alex mengeraskan rahangnya,dan menatap Sherly dengan tajam
'Satu tahun,itu sangat lama'pikir Alex,ia bukanlah seseorang yang sabar untuk menunggu,ia menikahi Sherly hanya untuk suatu tujuan.
'Memang dia siapa?,saya telah berbelas kasih kepadanya,tetapi dia seperti memanfaatkan kebaikan saya,seperti nya berbelas kasih terhadapnya itu membuat dia lupa diri'
pikir Alex lagi.
“Satu tahun kau bilang,itu sangat lama”ucap Alex sambil bangkit dari kursi tempat ia duduk.
“Kamu pikir kamu itu siapa hingga bisa menentukan waktu selama itu”ucap Alex dengan nada tidak suka miliknya.
Selesai mengucapkan itu,Alex pun langsung memukul meja yang ada tepat di hadapannya itu,dengan menggunakan kedua tangannya,seolah-olah ia tengah melampiaskan semua amarah yang sedang ia rasakan saat ini.
Alex sangat marah saat Sherly mengatakan waktu yang di inginkannya itu,Alex mengaggap hal itu seakan-akan sebuah bentuk 'penolakkan secara tidak langsung'.
Alex yang merasa tidak terima akan hal itu,dan entah itu hanya disebabkan karena emosi semata,atau karena kekuatan pukulan Alex,meja tersebut pun langsung terbelah menjadi dua seketika itu juga.
"Brakkk!!!!" bunyi meja itu terbelah menjadi dua.
Sherly yang melihat itu pun,ia sempat tersentak kaget,ia berusaha menghindar ke arah samping agar tidak terkena meja kayu yang telah terbelah dua itu.
Sherly pun menatap kearah Alex.
Di saat Sherly melihat tatapan yang diberikan oleh Alex,Sherly pun sempat mundur beberapa langkah karena refleks,tak lama setelah itu,punggung nya pun menyentuh tembok,
badan Sherly sedikit gemetar antara kaget, bercampur rasa takut,karena tatapan yang di berikan oleh Alex saat ini penuh intimindasi,
seakan-akan tatapan itu dapat langsung,
menghanguskan jiwa serta raga Sherly saat itu juga.
Sherly tidak tahu harus berbuat apa.
'Apakah aku telah berbuat salah?'pikir Sherly,ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sherly tidak tahu bahwa keinginannya tadi,itulah yang membuat Alex marah dan merasa tersinggung,karena ucapan Sherly telah melukai harga diri Alex.
“Ke...napa tuan?,apakah saya salah bicara?”tanya sherly,nada suaranya sedikit bergetar.
Sherly takut ia telah menyinggung Alex,dan itu akan berimbas terhadap keluarganya,terutama ibunya.
Alex pun tiba-tiba tersadar saat Doni menepuk pundaknya dari arah samping,ia juga seakan sadar jika dirinya sudah
membuat Sherly takut terhadapnya.
Alex pun menarik nafasnya dan berusaha untuk menenangkan emosi nya.
‘Harusnya aku tidak membuat dia takut,karena itu akan sulit untuk mendapatkan hatinya’ batin Alex merasa kesal dengan dirinya sendiri.
Alex takut karena emosinya sesat,hal itu justru akan sulit untuk membuat Sherly bertekuk lutut kepadanya.
“Oke,aku hanya akan memberi mu waktu satu Minggu,terserah kamu mau atau tidak, karena keputusan itu bukan berada di tangan mu”ucap Alex mutlak,dengan sedikit meninggi.
Alex berkata seperti itu untuk menyadarkan Sherly,agar tidak berharap lebih saat dirinya memberikan kesempatan untuk melakukan penawaran.
Karena Alex tidak pernah memberikan kelonggaran atau penawaran kepada siapa pun,termasuk kepada lawan bisnis atau musuh-musuhnya,kecuali dirinya memiliki rencana tertentu.
“Baik.. tuan”jawab Sherly sedikit bergetar,karena kaget bercampur rasa takut.
Sherly tidak mempunyai pilihan lain
selain pasrah dan menerima keputusan Alex.
Di saat tidak ada hal yang ingin Alex bicarakan,Doni pun bangkit dari kursi nya dan menyerahkan sebuah bolpoin kepada Sherly yang masih berdiri.
“ Nona,walaupun tuan sudah memberikan keringanan kepada anda,tetapi surat nikah yang saat ini anda pegang,tetap harus anda tanda tangani,agar anda tidak memiliki kesempatan untuk lari dari perjodohan ini”ucap Doni setelah memberikan bolpoin kepada Sherly.
Sherly yang mendengar itu,ia hanya dapat tersenyum mengejek di dalam hatinya untuk dirinya sendiri.
'Memangnya aku bisa lari kemana,kalau pun aku bisa lari,mungkin aku sudah lari saat ini juga,tapi aku tidak bisa' pikir Sherly.
Bukan tanpa alasan Doni memaksa sherly untuk menandatangani surat nikah tersebut,
karena itu telah mereka persiapkan dengan
matang.Karena tanpa Sherly ketahui,setelah pembicaraan antara dirinya dengan ayahnya itu.
Malam harinya Alex langsung menelepon roy, ia menanyakan siapa yang akan Roy pilih untuk menikah dengannya,dan Sherly lah yang Roy pilih,karena Roy menolak untuk menjodohkan Alex dengan mira,dikarenakan Mira telah memiliki seseorang yang di cintai nya.
seperti surat nikah yang langsung jadi,serta beberapa pengawal khusus milik Alex,itu Doni persiapkan atas perintah Alex.
Alex melakukan itu,karena ia ingin menunjukkan kepada Sherly bahwa dirinya sangat berkuasa,dan ia dapat melakukan apa pun yang ia mau.
Mungkin Alex melakukan itu karena ia berfikir jika Sherly sama seperti para wanita yang menggilai,dan memujanya dirinya,ia juga ingin membuat Sherly terkesan akan kekuasaan dan hartanya.
Walaupun ada sedikit perubahan karena
Sherly menginginkan keringanan waktu,tetapi
itu tidak masalah.
'Sepertinya tuan memiliki sebuah rencana lain yang aku tidak tahu'pikir Doni mencoba berfikir positif atas keputusan Alex.
“Baik tuan”jawab Sherly setelah tadi cukup lama hening
Sherly pun menerima bolpoin itu,ia mulai menandatangani surat itu,dengan telapak tangan kiri yang ia jadikan sebagai alasnya, dan tangan kanannya yang ia gunakan untuk menandatangani surat tersebut dengan sedikit gemetar,karena sedikit kesulitan, bercampur rasa gugup.
Sherly pun berniat menyerahkan surat nikah yang telah ia tanda tangani itu pada Doni,tetapi Doni menyuruh untuk menyimpannya,karena masing-masing di antara Sherly dan Alex menyimpan surat nikah.
Sekarang Sherly dan Alex sudah sah menjadi suami istri,di mata hukum,walaupun mereka belum mengadakan pesta pernikahan.Tapi setidaknya mereka tidak akan tinggal bersama sebelum mengadakan pesta pernikahan.
“Jangan coba-coba tunjukkan senyuman mu itu terhadap orang lain,karena senyuman mu itu sangat jelek,dan saya takut jika orang lain melihatnya,maka akan membuat mata mereka rusak”ucap Alex secara tiba-tiba,ia tersenyum mengejek sesaat kepada Sherly.Tanpa menunggu lama,ia pun keluar dari ruangan pribadi Sherly.
Kata-kata Alex itu memiliki maksud tersembunyi,dan
Sherly tidak mengerti akan hal itu.
Melihat Alex telah keluar dari ruangan itu,Doni pun pamit kepada Sherly,dan langsung menyusul Alex yang telah keluar dari ruangan itu.
Sherly yang melihat itu,ia pun duduk dengan pandangan mata yang menatap ke bawah, tempat di mana meja tadi telah terbelah menjadi dua.
'Tak usah di tanggapin lah,anggap saja suara angin lewat'pikir shely mencoba tidak peduli kata-kata Alex barusan.
Justru Sherly saat ini hanya menatap meja tersebut dengan tatapan kosong,tatapan mata Sherly seperti sedang menerawang jauh.
Sherly pun sadar,setelah merasa puas dengan lamunannya.
‘Sudahlah mungkin sudah takdirku seperti ini ’ batin Sherly pasrah,ia pun bangkit dari kursi tersebut dan keluar dari ruangan tersebut.
Saat Sherly berada tepat di depan pintu,Rika
__ADS_1
salah satu karyawannya atau dapat di bilang
seperti teman dekat Sherly saat di toko,ia pun datang menghampiri Sherly dengan wajah yang cemas.
“Sherly ada apa,tadi aku dengar kayak ada seseorang yang marah-marah di ruangan kamu,apalagi ada suara meja yang di pukul keras,kamu gak apa-apa kan,apa mereka nyakitin kamu?”tanya Rika setelah sampai di hadapan sherly,ia bertanya dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
Mereka berdua terlihat seperti teman,bukan seperti karyawan dan bos,karena Sherly menyuruh Rika untuk manggil namanya langsung,tanpa embel-embel bos agar lebih akrab,itu menurut Sherly.
“Enggak kenapa-napa kok”balas Sherly mencoba tersenyum,agar Rika tidak curiga.
“Eh itu para pengunjung gimana rik?” tanya Sherly,mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh,mereka semua sudah pada pulang”jawab
Rika,ia tahu bahwa Sherly sedang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan,dan ia juga tidak ingin bertanya kembali.
'Mungkin itu privasi'pikir Rika,memaklumi sikap Sherly yang tidak ingin cerita kepadanya.
“Yaudah kalau gitu aku pulang duluan ya rik”pamit Sherly,ia berkata sambil menepuk pundak Rika pelan.“yang semangat kerja nya ya rik”lanjut Sherly lagi sebelum berjalan pergi.
Di luar toko.
Sherly yang melihat motornya itu,ia pun langsung menaiki dan menyalakan motornya untuk membelah jalanan.
Hari ini Sherly ingin langsung pulang ke rumahnya,padahal biasanya jika
ia pulang dari toko,ia akan pulang di saat sore menjelang malam,tetapi sekarang ia pulang cepat,mungkin karena masalah yang Sherly
hadapi tadi,seakan menguras semua emosi
dan tenaga Sherly.
Sherly pun langsung memasuki rumahnya di saat ia telah menyimpan motor nya itu.Dan pada saat ia berada di ruang tamu,Sherly melihat Mira sedang duduk di kursi panjang,sambil bergelayut manja di tangan seorang laki-laki yang berada tepat di sampingnya.
Sherly yang melihat itu,ia pun berusaha abai dan hendak melanjutkan langkahnya,tapi tiba-tiba suara Mira berhasil menghentikan langkahnya.
“Sherly”panggil Mira cukup keras.Tapu meski begitu,ia berkata dengan suara yang terdengar lemah dan lembut,mungkin karena menjaga perilakunya di hadapan laki-laki yang ada di samping nya.
Sherly yang mendengar itu,ia pun langsung berbalik dan menatap kearah kakaknya.
“Iya,ada apa?”tanya Sherly langsung.
“Kamu habis dari mana?”ucap Mira dengan
nada yang terdengar seolah-olah ia peduli
terhadap sherly.
Sherly tahu kalau Mira berpura-pura peduli terhadap dirinya karena ada laki-laki itu,Mira
ingin terlihat baik di hadapan lelaki itu yang
bernama Dafa,ia merupakan tunangan
sekaligus calon suami Mira,dan mereka akan segera menikah sebentar lagi.
“Habis jalan-jalan kak”jawab Sherly langsung.
Sherly tidak memberi tahu bahwa dirinya mempunyai toko kue,karena jika ayah dan kakaknya Mira tahu mereka akan marah,karena merasa malu.
Sedangkan Sherly juga sengaja tidak memberi tahu ibunya,karena pasti ibunya akan khawatir jika ia sampai kecapean.
“Oh jalan-jalan,yaudah kamu cepat mandi, nanti kita ngobrol bareng ya”ucap Mira di akhiri sebuah senyum penuh akan kepalsuan.
“Maaf kak,Sherly gak bisa,soalnya Sherly capek banget”jawabnya memberi alasan.
Sherly tahu apa maksud dan tujuan Mira mengajaknya mengobrol.
“Sherly ke kamar duluan ya,sekali lagi maaf ya kak” lanjut Sherly sebelum Mira sempat berbicara.
Selesai mengatakan itu,Sherly berbalik dan mulai melangkah kakinya menuju kamarnya
tanpa menunggu Mira berbicara kembali.
Sedangkan Mira yang saat ini hanya diam sambil memandang punggung Sherly dengan tatapan permusuhan untuk sesaat tanpa sepengetahuan dafa.
Dan Dafa yang kini ada di samping Mira,ia juga ikut diam tak bergeming menatap punggung Sherly,dengan tatapan yang sulit di artikan.
Setelah punggung Sherly tak terlihat lagi oleh mata Mira,ia pun menoleh dan menatap ke arah Dafa.
Mira melihat Dafa yang masih memandang ke arah depan,padahal punggung Sherly
sudah tidak nampak lagi.Ia yang tahu arti tatapan Dafa itu langsung mengepalkan tangannya karena marah.
‘Awas kamu Sherly,lihat saja nanti,akan ku buat kamu menderita karena hanya aku yang boleh bahagia’ batin Mira marah,dengan tangan yang mengepal erat.
__ADS_1