
Setelah sampai di ruang kerja milik Roy.
Roy pun duduk di kursi miliknya,sedangkan Sherly duduk di kursi yang berada tepat dihadapan Roy,dan hanya sebuah meja yang menjadi pembatas diantara mereka berdua.
“Bagaimana,apakah kamu telah bertemu dengan tuan Alex?”tanya Roy memulai pembicaraan,setelah ia duduk di kursi miliknya.
“Iya ayah,Sherly sudah bertemu dengannya”
jawab Sherly,kemudian ia pun hanya diam dengan kepala sedikit tertunduk,seolah ia tidak berani menatap ayahnya.
‘Entah kenapa jika aku menatap ayah,aku akan selalu merasa jika ayahnya lah yang telah merebut kebahagiaanku,dan aku tidak ingin memiliki pemikiran seperti itu,maka lebih baik saat ini untuk aku tidak menatap wajah ayah,dan semoga dengan hal itu,maka pemikiran burukku ini bisa hilang’pikir Sherly saat ini.
Sherly berusaha menguatkan dirinya,jika ia akan berusaha untuk menerima takdirnya dengan ikhlas.
“Harusnya kamu bersyukur” ucap Roy secara tiba- tiba.
Sherly yang mendengar itu,ia pun mengangkat kepalanya dan menatap kearah ayahnya,ia hanya diam menunggu ayahnya untuk melanjutkan perkataannya.
“Kalau saja kakakmu Mira itu tidak akan menikah dengan dafa,mungkin sudah ayah jodohkan dengan tuan Alex,kamu kan tahu kalau kakak kamu sangat mencintai Dafa,masa kamu tega merusak kebahagiaan kakak kamu,harusnya kamu jangan egois dong”ucap Roy panjang lebar.
Roy memang berniat menjodohkan Mira dengan Alex,tetapi karena Mira sangat mencintai Dafa jadi Roy tidak tega untuk melakukan itu.
Sedangkan Sherly tidak terlalu mendengarkan
ucapan Alex yang panjang lebar,karena yang Sherly perhatikan hanya kata 'egois', itu serasa sangat menusuk dihatinya.
'Ya! aku akui kalau aku pernah berfikir egois,aku pernah berfikir untuk menolak perjodohan ini,dan itu semua aku lakukan demi kebahagiaanku sendiri,tetapi itu tidak bertahan lama,karena aku juga memikirkan ibu,dan aku tidak bisa egois hanya demi kebahagiaan aku sendiri,karena aku tahu, bukan hanya aku yang akan sengsara,tetapi ibu juga akan ikut sengsara,dan aku tidak ingin hal itu terjadi'pikir Sherly sambil mengepal erat kedua tangannya tanpa sadar.
”Kamu dengar apa yang tadi saya katakan?”tanya Roy,yang berhasil menyadarkan Sherly dari lamunannya itu.
Sherly yang tadi hanya menatap ke arah ayahnya dengan tatapan kosong itu,ia pun akhirnya tersadar dari lamunannya itu.
“Maaf” ucap Sherly setelah sadar dari lamunannya.
Sherly tidak tahu harus berkata apa,dan Sherly juga tidak tahu meminta maaf
untuk kesalahan apa,karena yang seharusnya
minta maaf adalah ayahnya yang telah memaksa dirinya untuk menerima perjodohan ini.
Tetapi itu tidak mungkin untuk Roy meminta maaf kepadanya,karena Roy merasa ia tidak salah,justru seharusnya Sherly yang harus berterima kasih terhadap nya karena menurut Roy ia telah memilih jodoh yang terbaik untuk Sherly.
Roy yang mendengar itu,ia pun hanya mengangguk puas atas ucapan Sherly.
“Bagus,itu baru namanya anak ayah,sekarang apa yang ingin kamu minta dari ayah”ucap Roy menawarkan sesuatu kepada Sherly.
Roy melakukan itu mungkin karena ia saat ini sedang senang,karena permintaan maaf dari Sherly,dan juga ia merasa jika perusahaanya akan aman dengan adanya perjodohan ini.
__ADS_1
Sherly yang mendengar itu,ia pun hanya diam.
Karena Sherly saat ini sedang berfikir untuk menerima atau menolak tawaran ayahnya.
“Mobil mungkin itu yang kamu butuhkan” ucap Roy menawarkan kepada Sherly sebuah
mobil,karena Sherly hanya diam saja.
Sherly yang mendengar itu,ia pun menggeleng kan kepalanya,karena ia sudah memiliki motor sebagai kendaraanya.
Lagipula Sherly juga belum bisa mengendarai mobil sendiri.
“Lalu apa yang kamu inginkan?”tanya Roy lagi.
“Kebahagiaan”ucap Sherly tiba-tiba mengutarakan keinginannya.
Sontak Roy yang mendengar ucapan Sherly itu,ia pun langsung menatap
heran ke arah Sherly.
'Aku bukanlah tuhan yang dapat menjamin kebahagiaan' itulah yang ada dalam kepala Roy
“Bukan untuk Sherly,tapi untuk
ibu”ucap Sherly menjawab keheranan
Tetapi sepertinya Roy masih tidak mengerti akan maksud dari ucapan Sherly.
“Cobalah agar ayah mencintai ibu,dengan begitu ibu pasti akan bahagia,bahkan bukan hanya ibu yang bahagia,Sherly pun juga akan ikut bahagia”ucap Sherly panjang lebar, menjelaskan maksud ucapannya tadi.
Roy yang mendengarkan itu,ia pun menatap tajam ke arah Sherly untuk sesaat.
“Itu tidak bisa”ucap Roy mutlak.Ia
pun hanya diam dan mulai menyandarkan kepalanya di kursi yang sedang ia duduki,sambil membayang tentang perjodohan antara ia dan Dewi dulu.
Roy dan Dewi menikah atas desakkan kedua orang tua mereka,Roy yang awalnya menikah
hanya agar Mira dapat merasakan kasih sayang seorang ibu.
Tetapi setelah 1 tahun menikah tiba-tiba orang tua Dewi ingin memiliki cucu sendiri dari pernikahan dewi dan Roy,dan mereka juga mengancam akan membawa Dewi pergi jika keinginannya tidak terpenuhi,dan Roy yang mendengar itu,ia pun terpaksa menyetujui itu karena ia tidak ingin Mira menderita tanpa kasih sayang seorang ibu.
Dan meski pun Dewi telah melahirkan Sherly yang merupakan anak kandung dari Roy,tapi tetap saja Roy masih bersikap dingin terhadap Dewi.
Karena Roy hanya mementingkan Mira dan lebih sayang terhadap Mira,dan Sherly pun tidak terlalu di pedulikan oleh Roy.
“Kenapa tidak bisa ayah,bukan kah Sherly sudah berkorban untuk keluarga ini,tidak bisa kah ayah mengabulkan keinginan Sherly”ucap Sherly panjang lebar,seakan berusaha menyadarkan Roy dari lamunannya itu.
__ADS_1
‘Aku telah berusaha untuk
menerima perjodohan ini,dan yang aku inginkan hanya ingin agar ayah mengabulkan keinginanku ini’pikir Sherly
Dan Roy yang mendengar itu, ia pun mulai membetulkan posisi duduknya.
Kemudian setelah itu,Roy pun menatap ke arah Sherly yang saat ini tengah menatapnya.
Seolah tatapan Sherly itu bermaksud meminta penjelasan kepadanya.
“Baiklah,akan ayah usahakan” ucap Roy tiba- tiba.
Sherly yang mendengar itu, tiba-tiba matanya berkedip beberapa kali untuk memastikan jika ini bukan mimpi.
“Benarkah ayah?,ayah janjikan nggak akan menarik kembali perkataan ayah ini?”ucap Sherly menegaskan bahwa ayah nya tidak berbohong atau pun menarik kembali perkataanya.
Meski ayahnya itu hanya berkata untuk berusaha mencintai ibunya,tapi Sherly sudah merasa senang,setidaknya ayahnya akan belajar untuk mencintai ibunya,entah itu akan berhasil membuat ayah nya benar-benar mencintai ibunya,atau tidak,setidaknya ayahnya telah mencoba membuka hatinya untuk ibunya.
Sherly bertanya sambil menatap lekat ke arah ayahnya, dan kemudian Roy pun hanya mengangguk lemah sebagai jawabanya.
Sherly yang melihat itu,ia pun tersenyum senang,dan Sherly mencoba meyakinkan bahwa itu bukanlah mimpi,kemudian Sherly mencubit lengan kirinya menggunakan tangan kananannya dengan sedikit keras,agar ia lebih yakin.
“Akhhhh”Sherly mengaduh sakit saat merasakan cubitannya yang terlalu keras.
Tetapi setelah itu,Sherly pun tersenyum cerah, seakan ia tidak merasa sakit akibat cubitannya yang sedikit keras tadi.
Sedangkan Roy yang melihat itu,ia hanya diam tidak tahu harus merespon apa,tetapi di dalam hatinya itu,ia juga merasa sedikit lucu terhadap perilaku anaknya.
Tiba-tiba Sherly sadar akan kelakuannya itu,ia pun hanya bisa tersenyum canggung untuk menutupi rasa malunya.
‘Malu-maluin banget aku ini,kayak anak kecil saja kamu sherly,mana ayah liatin aja lagi dari tadi’ batin Sherly yang hanya mampu tersenyum,dan mencoba untuk bersikap bisa saja.
Suasana diantara mereka cukup lama hening,tapi tak lama Sherly pun akhirnya angkat suara.
“Ayah kalau begitu Sherly pamit dulu”ucap Sherly yang ingin cepat cepat keluar dari ruangan itu,dan Roy hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Sherly pun keluar dari ruangan tersebut dengan perasaanya sedikit campur aduk,antara senang dan malu.
Senang karena Sherly berharap setelah pembicaraan antara ia dan ayahnya tadi,
ibunya akan bahagia.
‘Semoga saja setelah ini kesedihan ibu yang selama ini ia alami itu akan berakhir’ batin Sherly dengan penuh harap
Sebenarnya Sherly juga merasa malu karena ingat kelakuannya tadi.
Tetapi yang jelas wajah Sherly terlihat berseri-seri saat keluar dari ruangan ayahnya.
__ADS_1