
Dan saat ini Rendi yang telah masuk ke dalam sebuah gudang tua itu,ia pun langsung menghentikan langkahnya itu.
Dan tiba-tiba saat matanya menangkap sosok perempuan yang sedang diikat di sebuah kursi itu,tangannya pun langsung mengepal erat
“Lepaskan,lepaskan saya!”teriak perempuan itu,dengan nada suara parau dan lemas.
Tanpa menjawab ucapan perempuan itu,Rendi pun langsung menelepon seseorang.
“Sial!,nomornya tidak aktif”ucap Rendi kesal.
Kemudian setelah itu,Rendi pun menelepon anak buah lainnya.
“Hallo,apa kamu tahu di mana keberadaan Reon Sekarang?!”tanya Rendi dengan nada sedikit membentak.
Rupanya tadi Rendi berusaha menelepon Reon,tapi sayangnya nomor Handphone milik Reon sedang tak aktif.
“Tidak tuan,tapi waktu itu saya lihat Reon keluar dengan membawa koper besar”ucap orang itu yang merupakan salah satu anak buah Rendi,dan merupakan teman dari Reon.
“Sial!!,di mana dia sekarang!,dasar Reon sialan!”teriak Rendi marah,dan langsung mematikan sambungan telepon itu
Dan setelah itu,Rendi pun langsung menatap kearah perempuan yang sedang diikat di kursi itu,dengan tatapan matanya yang tajam.
Sementara saat ini Alex yang telah turun dari dalam mobil,ia pun segera berlari dan memeluk sosok yang sangat familiar baginya.
Sontak perempuan yang sedang di peluk oleh Alex itu,ia pun langsung menatap kearah Alex.
“Lexi”panggil perempuan itu
“Lili”jawab Alex dengan suara parau sambil memeluk Sherly.
Ya benar!,perempuan itu adalah Sherly.
“Kamu kemana saja?,aku sudah mencari mu kemana-mana tapi kamu belum ditemukan juga,tapi untunglah aku bisa menemukanmu”ucap Alex disertai nada bertanya pada Sherly.
Belum sempat Sherly menjawab,
datanglah Doni menghampiri Alex.
Dan kemudian setelah itu,Doni pun menghentikan langkahnya,dan berdiri di belakang Alex.
“Aku?,aku selama ini berada di rumah seseorang...”ucapan pun terhenti saat matanya melihat sosok Bagas,dan Bella,beserta seorang perempuan yang memakai seragam seorang dokter.
“Tuan”panggil Bagas saat sudah berada di dekat Alex dan Sherly.
Alex yang mendengar panggilan Bagas itu,ia pun menoleh,tapi saat ia hendak bicara,tiba-tiba tubuhnya sedikit oleng karena lemas.
Tapi untungnya Alex masih bisa untuk menahan berat tubuhnya itu.
“Mungkin ada baiknya kita kembali ke mansion dulu,agar tuan dapat istirahat dan makan dengan benar,karena seharian ini tuan sangat sibuk mencari nyonya Sherly,hingga mengabaikan kesehatannya sendiri,padahal ia belum makan dan istirahat sejak kembali ke sini ”ucap Doni kepada yang lainnya.
Mereka semua yang mendengar itu langsung setuju dengan saran Doni.
Setelah itu,mereka semua pun masuk ke dalam mobil masing-masing dan berjalan menuju mansion Alex.
Dan Saat ini Alex,Sherly beserta yang lainnya telah berada mansion milik Alex.
Mereka kini telah duduk di masing-masing kursi yang ada di ruang makan.
__ADS_1
Dan Setelah menyelesaikan acara makannya itu,Alex pun langsung menatap kearah Sherly.
“Sebenarnya apa yang terjadi?”tanya Alex kepada Sherly.
Sherly yang mendengar itu,ia pun diam untuk sejenak.
Tapi setelah itu,ia pun langsung menceritakan apa yang telah terjadi.
Flasback.
Saat itu,acara kelulusan telah berakhir cepat,dan tepat di sore hari.
Sherly yang telah berpamitan kepada ibun beserta kakaknya itu,ia pun kini sedang bersama Bella dan Citra untuk merayakan kelulusan mereka sambil berjalan-jalan.
Dan saat ini mereka berdua telah sampai di sebuah taman yang cukup jauh dari tempat kuliah mereka.
“Yah sayang banget deh sher,karena kamu jarang hadir,jadi nilai terbaik di raih oleh bella,bukan kamu lagu”ucap Citra pada Sherly.
“ya nggak apa-apa,lagian aku senang walau hanya mendapatkan nilai terbaik kedua setelah Bella,kan memang sudah sepantasnya Bella lah yang menjadi juara,karena dia sering hadir ke kamus, apalagi dia juga kan anak yang pintar”balas Sherly sambil tersenyum.
Sherly justru merasa senang akan hal itu,karena setidaknya dengan begitu ia tahu jika nilai yang ia dapatkan itu benar adanya,tanpa ada kecurangan.
Tiba-tiba di saat mereka sedang mengobrol Bagas datang menghampiri mereka.
“Nyonya”panggil bagas.
Sherly yang mendengar itu,ia pun langsung menatap kearah Bagas dengan tatapan sedikit heran.
“Saya di perintahkan oleh nona Fani untuk mengantar anda pulang,mungkin beliau saat ini sedang sibuk”ucap Bagas menerangkan.
Meskipun Fani sangat fokus terhadap pekerjaannya itu,tapi setidaknya ia sempat menghubungi Bagas yang sedang memantau Sherly secara diam-diam,untuk mengantar Sherly pulang.
“Iya nyonya,dan sebaiknya kita segera pulang”ucap Bagas memberi usul.
Sherly yang mendengar usulan Bagas itu,ia pun mengangguk setuju,karena Sherly merasa telah cukup lama berjalan-jalan di sekitar taman.
Tapi sebelum mereka melangkah,datang seorang laki-laki dengan mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya.
“Mau ke mana kalian?,kalian tidak akan bisa pulang,jadi sebaiknya kalian ikut denganku secara baik-baik,tanpa harus aku gunakan kekerasan”ucap laki-laki itu yang ternyata Reon.
Sontak Bagas yang melihat hal itu,ia pun langsung menjadi waspada.
“Anda sebaiknya bersembunyi di belakang saya nyonya”ucap Bagas pada Sherly,Bagas terlihat khawatir terhadap keselamatan Sherly.
Dan tanpa menunggu waktu lama Reon pun langsung menyerang Bagas,ia mengarahkan tinju kearah kiri,tapi berhasil dihindari oleh Bagas.
Tak ingin menyerah,Reon pun kembali melayangkan tinju kearah kanan,tapi berhasil dihindari lagi oleh Bagas
Kesal dengan itu,ia pun mengarahkan kembali tinju kearah kanan dan kiri,tapi kali ini secara membabi buta,tapi meski begitu Bagas berhasil menghindari hal itu.
Sudah berapa kali Reon mencoba untuk menyakiti dan membuat Bagas terluka,tapi malahan Bagas tidak terluka sama sekali.
‘Sial!,kenapa tidak kena juga sih,padahal aku ingin sekali membunuh dia’.pikir Reon kesal
Tiba-tiba saat Bagas melihat gerakan Reon yang berantakan karena telah di kuasai emosi,Bagas pun langsung meraih salah satu tangan Reon yang mengarahkan tinju padanya,dan setelah itu,Bagas langsung memelintir tangan itu ke belakang.
“Aww sakit,lepaskan tanganku lepaskan!”teriak Reon marah dengan nada kesakitan
__ADS_1
Sedangkan Bagas yang mendengar itu,ia seolah tak berniat melepaskan Reon.
Dan saat Bagas tahu jika posisinya sangat dekat dengan wajah Reon,dan karena rasa penasarannya itu,Bagas pun langsung menarik topeng di wajah Reon hingga terlepas.
“Reon”pekik Bagas kaget.
Reon yang melihat reaksi kaget dari Bagas,ia pun tersenyum sinis,lalu setelah itu,ia pun angkat suara.
“Iya ini aku Reon,kenapa?,kamu kaget melihat teman lama mu lagi?,dasar penghianat!”ucap Reon dengan nada ejekan penuh hinaaan,dan diakhiri dengan nada marah dan benci miliknya.
Sontak Bagas yang telah tahu jika itu Reon,ia pun langsung berjalan sedikit menjauh dari Reon,dan melepaskan pelintirannya itu dari tangan Reon.
Bagas sangat kenal Reon,karena Reon merupakan sahabat baiknya.
Dulu waktu kecil,saat masih tinggal di jalanan,Bagas dan Reon berjanji untuk tetap bersama,meski dalam keadaan senang atau susah.
Tapi pada suatu hari saat Alex melihat Bagas,dan menawarkan untuk kerjasama,ia pun langsung menerima itu,dan berharap kehidupannya yang susah itu akan segera berakhir,dan tak disangka Reon mendengar tentang hal itu,ia marah dan berfikir Bagas akan meninggalkannya sendiri,maka dari itu hubungan mereka itu,tiba-tiba menjadi renggang.
“Kenapa hanya diam,
kaget?,ha...ha...,gimana rasanya hidup enak?,senang ya?”ucap Reon disertai ledekannya itu.
“Reon,ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan,dulu aku juga tidak berniat meninggalkan kamu,karena aku ingin mengajak kamu untuk ikut bergabung dengan tuan Alex,tapi sayangnya kamu sudah terlanjur salah paham padaku”ucap Bagas mencoba menjelaskan.
“Aku tidak peduli akan masa lalu,karena bagiku kamu sudah tak berarti lagi”ucap Reon,dan tiba-tiba Reon mengambil pisau kecil dari sakunya.
“Serahkan perempuan yang ada di belakang mu itu”ucap Reon dengan nada mengancam.
“Tidak!,tidak bisa!,aku tidak bisa melakukan itu!!!”ucap Bagas langsung.
Tanpa di duga,Reon menusuk Bagas menggunakan pisau kecil itu.
“krak”itu bukan suara tulang,atau lebih tepatnya itu suara handphone pecah miliki Bagas yang di simpan di saku jaketnya,yang berada tepat di di depan perutnya.
“Reon,apakah pantas kamu untuk melakukan itu,aku yakin suatu saat kejahatan pasti akan terungkap,jadi berhentilah berbuat jahat,aku tahu kamu bekerja sama dengan orang yang bernama Rendi,tapi asal kamu tahu,orang yang bernama Rendi itu tidak pantas untuk menjadi tuan kamu,dan lebih baik kamu ikut denganku,walaupun kita hanya akan menjadi bawahan dari tuan Alex,tapi setidaknya dia akan menganggap kita seperi keluarganya sendiri”ucap Bagas disertai nada memohon.
Tapi setelah itu,Bagas langsung mengambil handphone miliknya yang telah retak dan rusak itu.
Dan tanpa diduga Bagas pun langsung membuang handphone itu,secara sembarangan.
“Bodoh!,meskipun kamu mengatakan itu,aku tetap nggak akan mau ikut denganmu”ucap Reon kembali menusuk kembali ke arah perut Bagas.
Sedangkan bagas hanya diam,ia tak berani melawan,karena tak ingin menyakiti sahabatnya itu.
Dan Reon yang melihat Bagas hanya diam,dan terlihat masih kuat,ia pun langsung merasa takut jika Bagas akan menyerangnya.
Dan tanpa menunggu lama,Reon yang melihat Citra yang memiliki jarak cukup jauh dari Bagas itu,ia pun langsung menghampiri Citra.
“Jangan mendekat,atau dia akan aku bunuh”ancam Reon sambil menodongkan pisau kearah leher Citra.
“Citra”Teriak Sherly dan Bella bersamaan.
Bagas yang melihat itu,ia merasa sedikit menyesal karena tidak terlalu memperhatikan posisi Citra,karena yang ia pikirkan hanya keselamatan Sherly.
Dan saat Sherly hendak berjalan maju,tapi Bagas langsung mencegahnya
“Jangan nyonya!,kita jangan mendekat ke sana,saya tahu Reon bukan orang yang hanya bermain-main dengan ucapannya itu,lebih baik kita jangan gegabah”ucap Bagas menjelaskan.
__ADS_1
Sherly dan Bella yang mendengar itu,mereka pun hanya diam dan tak tahu harus berbuat apa-apa.
Tiba-tiba Reon berjalan ke arah sebuah mobil yang ia bawa,dan langsung membawa masuk Citra,setelah itu mobil pun berjalan pergi.