
Melihat Alex yang telah masuk ke dalam kamar mandi,sherly hanya dapat menahan amarahnya,ia pun berusaha untuk mengatur emosinya,dengan menarik nafas dalam-dalam,kemudian ia keluarkan secara perlahan,agar lebih tenang.
Tiba-tiba Sherly mulai mengingat jika ia memiliki urusan penting,ia ingin memberitahu Alex tapi tidak bisa,karena Alex masih berada di kamar mandi,ia pun melihat jam di atas lemari kecil,yang menunjukan pukul sepuluh siang,jika ia menunggu Alex,sherly takut ia akan membuat ibunya itu akan menunggu lama,dan ia tak ingin jika sampai membuat ibunya menunggu terlalu lama,tak ada pilihan lagi,ia pun terpaksa untuk pergi tanpa memberi tahu Alex.
Sherly pun keluar dari kamar miliknya,ia pun berjalan menuruni tangga,setelah ia berada di lantai dasar,tak lama Rani datang menghampirinya.
“Nyonya anda ingin kemana?”tanya Rani.
Saat Sherly melihat kedatangan Rani itu, membuat Sherly merasa sangat senang, karena ia merasa tertolong,setidaknya ia akan mengirim pesan ke Rani agar Alex tidak mencarinya,supaya Alex tidak marah kepadanya,jika sampai ia keluar rumah tanpa ijin, maka itu akan membuat Alex marah.
“Saya ada urusan penting jika tuan Alex tanyain saya,tolong kamu bilang saja jika saya pergi karena memiliki urusan”ucap Sherly menitip pesan ke Rani untuk di sampaikan ke alex,dan Rani hanya mengangguk sebagai jawabannya,setelah mengatakan itu ia pun berjalan melewati Rani.
Sherly berjalan keluar mansion,setelah lama berjalan ia telah berada di luar mansion,tak lama datang sebuah mobil, dan berhenti tepat didekat sherly,tak lama Fani keluar dari mobil tersebut, dan berjalan menghampirinya.
“Anda ingin kemana?bukannya sekarang tidak ada jadwal kuliah?”tanya Fani yang telah mengetahui jadwal kuliah Sherly.
“Aku ingin ke rumah ku yang dulu,sebelum menikah dengan tuan Alex,lalu kamu mau apa ke sini?,jika tahu aku tak memiliki jadwal kuliah kenapa kesini?”tanya Sherly.
“Aku sih di tugaskan tuan Alex kesini,karena tuan Alex memerintahkan aku untuk mengantar kamu kemana pun kamu pergi,karena tuan Alex berfikir mungkin kamu butuh jalan-jalan,tapi kalau kamu ingin ke rumah kamu aku antar,ayo masuk! ”ucap Fani.
Sherly dan Fani masuk ke dalam mobil,tak lama mobil itu berjalan keluar dari mansion.
Mobil yang itu pun berjalan membelah jalanan,tak lama mobil itu sampai di depan rumah nya yang pernah ia tinggali dulu,Sherly pun keluar dari mobil dengan Fani yang juga ikut keluar.
“Kamu pulang aja duluan, kayaknya aku bakal lama di sini”ucap Sherly.
“Kamu masuk aja, aku tunggu di dalam mobil”ucap Fani menolak untuk meninggalkan Sherly.
Sherly pun hanya dapat mengangguk pelan,kemudian ia pun berjalan ke pintu rumahnya itu.
__ADS_1
Sherly pun mengetuk pintu,tak lama pintu terbuka,dan tampaklah siapa orang yang telah membukakan pintu,ialah Dewi.
Sherly yang melihat itu pun langsung berjalan ke arah ibunya dan memeluk ibunya.
“Bagaimana kabar ibu?”tanya Sherly saat melepaskan pelukan dari ibunya.
“Baik,ayo masuk!”ucap Dewi,setelah itu Dewi berjalan di depan dengan Sherly yang berjalan dibelakangnya.
Tak lama mereka sampai di sebuah kamar,Dewi pun membuka pintu kamar tersebut,dan berjalan terlebih dahulu,dan tak lama Sherly pun ikut masuk.
Dewi pun berjalan ke sebuah sofa yang ada di kamar miliknya,kemudian ia duduk.
“Ayo duduk sayang!”ucap Dewi.
Sherly pun duduk disamping ibunya.
“Ada apa Bu?,katanya ibu memiliki sesuatu yang ingin ibu katakan ke sherly”ucap Sherly sambil menatap ke arah ibunya.
“Ibu dengar kamu menampar kakak kamu?”tanya Dewi dengan lembut.
“Ibu Sherly melakukan itu,karena Sherly merasa gak terima di fitnah sama kak Mira”jawab Sherly.
Sebelum Dewi berkata kembali,tiba-tiba pintu
kamar di buka dengan kasar,dan tampak lah Roy yang membuka pintu tersebut dengan kasar.
Roy berjalan menghampiri Sherly dengan wajah yang menakutkan,kentara di wajahnya ia sedang sangat emosi.
“Mas kenapa ada disini? bukannya kamu tadi ke kantor?”tanya Dewi.
__ADS_1
“Kenapa?kamu gak suka? aku pulang karena ada dokumen yang ke tinggalan,tapi ternyata Sherly ada disini!!!”ucap Roy marah.
Kemudian Roy langsung menarik tangan Sherly agar bangun,ia pun berjalan keluar dari kamar sambil mencengkram tangan Sherly,dengan Dewi yang meminta agar Roy melepaskan cengkeraman tangannya dari tangan Sherly.
Tak lama mereka pun sampai di ruang tengah,Roy pun melepaskan cengkraman tangannya dari tangan Sherly.
Sherly yang di perlakukan seperti itu hanya diam,tetapi sebenarnya ia sangat marah atas perlakuan ayahnya.
“Kamu anak nakal,gak punya sopan santun,
beraninya kamu tampar kakak kamu!!!”ucap Roy hendak menampar Sherly,tapi sebelum itu Sherly pun menahan tangan Roy yang hendak menamparnya.
"Happp" Sherly menahan tangan kanan Roy dengan menggunakan tangan kanannya sendiri.
“Ayah Sherly menampar kakak itu ada alasannya,kenapa ayah gak pernah mau dengar penjelasan Sherly?, sebelum menampar Sherly,dan ayah harus ingat bahwa Sherly sudah menikah,Sherly sudah punya suami,dan Sherly bukan lagi tanggung jawab ayah lagi,karena Sherly sudah menjadi tanggung jawab suami Sherly,jadi ayah tak punya hak untuk menyakiti Sherly lagi”ucap Sherly sambil menatap ke arah Roy.
Roy pun menarik tangannya dari cengkraman Sherly,saat Sherly telah melonggarkan cengkeramannya.
Tak lama Mira datang menghampiri mereka,
dengan wajah yang sedikit lembab,jujur saja Sherly yang melihat itu bukan merasa puas karena telah menyakiti Mira,tapi ia malah sedikit bersalah dan iba.
“Lihat itu kakak kamu,kamu tampar dia kan? iya kan? jadi untuk apa saya dengar penjelasan kamu?”ucap Roy marah,ia berkata saat Mira berada tepat di samping kanannya,
sedangkan Dewi berada di samping kirinya dan Sherly berada di hadapannya.
“Iya Sherly akui,itu Sherly yang menampar kak Mira,tapi tolong ayah dengar dulu penjelasan Sherly,jangan hanya mendengarkan dari satu pihak saja”ucap Sherly menatap ayahnya.
“Untuk apa ayah dengar penjelasan kamu?semuanya sudah jelas,kalau kamu yang tampar mira,jadi untuk apa saya dengar penjelasan kamu?”tanya Roy menatap Sherly tajam.
__ADS_1
“Ayah selalu begitu,setiap Sherly ingin menjelaskan kejadian yang sebenarnya ke ayah,tapi kenapa ayah tidak pernah mau untuk mendengarnya?”sherly bertanya,sambil menatap kearah roy dengan tatapan sendu,antara tatapan sedih,dan terluka.
“Karena saya gak pernah percaya sama kamu,saya lebih percaya dengan anak saya mira”ucap Roy tanpa perasaan.