
Malam ini Roi dan Silvi sengaja berkunjung ke kediaman Michel, orangtuanya. Nita mengundang putra dan menantunya untuk makan bersama. Jarang sekali mereka bisa berkumpul seperti malam ini. Michel dan Nita orang yang super sibuk, waktu mereka habis untuk mengurusi perusahaan Michel Chan yang tidak sedikit jumlahnya.
" Bagaimana kabarmu, Roi ? " Sapa Michel setelah duduk berhadapan di meja makan. Silvi ikut membereskan peralatan makan bersama dengan Nita.
" Hmm. Seperti yang papih lihat." jawab Roi seadanya.
" Ku dengar dari Adnan kau sedang mengikuti terapi, bagaimana perkembangannya ?" Sambung Michel.
Silvi yang tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kedua laki-laki beda usia itu terkejut. Hatinya penuh tanda tanya. Roi tidak pernah bercerita sebelumnya tentang terapi.
" Sudah ada kemajuan. Hanya terkadang suasana hatiku cepat berubah, dan kepalaku sering sakit dengan tiba-tiba." jelas Roi.
" Bagaimana pendapat dokter ? Apa itu pertanda baik ?" cecar Michel.
" Hmm. Sudah ada kemajuan. Itu yang diucapkan dokter padakuu." ucap Roi.
Silvi yang sedari tadi menguping pembicaraan Roi dan Michel merasa lega. Memang akhir-akhir ini sikap Roi mengalami perubahan. Roi sudah banyak bicara kalau sedang berada di rumah. Roi sudah bisa menunjukkan perhatian kepadanya.
" Sayang. Ayo ! Duduk di kursimu. Kita makan dulu !" suara Nita membuyarkan perhatian Silvi, buah-buahan yang sedang dicucinya hampir saja jatuh karena tidak konsentrasi, pikirannya sedang tertuju pada pembicaraan Roi dengsn papihnya.
" Baik, mih." Silvi meletakkan buah-buahan yang dicucinya tadi di wastafel kemudian ia mengambil tempat duduk disebelah Roi.
Nita sudah menyiapkan piring yang berisi makanan di piring Michel, Roi, dan Silvi.
" Makan yang banyak ! Biar cucu mamih lahirnya sehat." Silvi tersenyum menanggapi perkataan mamih Nita.
" Apa kalian sudah periksa jenis kelaminnya ?" Michel ikut bertanya tentang cucunya yang masih beberapa bulan lagi berada di kandungan.
" Belum, Pih. Kami akan ke dokter setelah Roi punya waktu." ucap Silvi menatap Roi disebelahnya .
Roi balik menatap istrinya. " Besok kita ke dokter untuk periksa." lanjutnya menegaskan perkataan sang istri.
Roi menyendok sayur capcai ke piring Silvi, dan meletakkan ayam kecap ditempat yang sama.
__ADS_1
"Makan yang banyak agar baby kita sehat !" ucapnya dengan penuh perhatian.
Silvi membalas ucapan Roi dengan senyuman di wajahnya. Nita dan Michel saling tatap melihat Roi memperhatikan Silvi, Senyum di wajah Nita menyiratkan rasa haru dan bahagia bersamaan melihat perubahan pada diri Roi, ia berharap Roi akan secepatnya pulih dan kembali seperti dirinya dulu.
***
Kedatangan Indah di kediaman Silvi sangat banyak membantu. Sikap Indah yang ceria membantu menghidupkan suasana di rumah Roi dan Silvi.
Silvi sangat senang dengan kedatangan adiknya itu, hari-hari Silvi menjadi lebih berwarna, mereka sering menghabiskan waktu bersama-sama, memasak, pergi berbelanja, dan bertukar pikiran.
Malam ini Indah tidak ikut ke rumah namborunya karena Togar mengajaknya keluar. Roi dan Silvi tidak keberatan, lagipula Indah ingin berjalan-jalan melihat dan menikmati keindahan kota Jakarta.
Togar membawa Indah ke sebuah mall terbesar di kota itu. Pengunjung sangat ramai. Togar membawanya ke suatu butik yang khusus menjual berbagai macam pakaian untuk wanita.
Togar mengitari butik itu sambil memperhatikan baju-baju yang bergantungan.
" Berikan itu ! "
" Ambilkan yang warna merah itu."
Sebentar saja tas plastik yang dipegang Togar sudah penuh dengan berbagai model baju wanita.
" Untuk siapa sebanyak itu ?" tanya Indah berbisik disamping Togar.
" Tentunya untuk wanita yang disebelahku. Orang yang aku cintai." goda Togar sambil mengedipkan matanya.
Togar menggenggam tangan Indah, menariknya ke kamar pas yang telah tersedia untuk mencoba baju-baju yang sudah dipilihkannya untuk Indah.
Satu persatu Indah mencoba baju yang ada dihadapannya. Semua baju yang dipilihkan Togar terlihat elegan, modelnya mengikuti perkembangan jaman dan cocok di tubuh Indah yang langsing.
Tok...tok...
Togar mengetuk pintu kamar pas dimana Indah berada. Sudah hampir dua puluh menit Indah belum juga selesai mencoba baju-baju tadi.
__ADS_1
" Kau sudah selesai ? " tanya Togar dari balik pintu.
Indah membuka pintunya. " Tolong tarik seletingnya. Kenapa susah sekali ?" pinta Indah
Togar masuk ke dalam, ia bermaksud membantu Indah membukakan seleting baju yang sedang dicobanya.
" Rambutmu nyangkut diseletingnya." ucap Togar sambil mengangkat rambut Indah.
Dengan tidak sengaja Togar melihat punggung yang putih dan mulus milik Indah. Sleting baju yang terbuka hanya separuh memperlihatkan sebagian punggung milik kekasihnya itu.
Togar menarik nafas, ia diam sambil menatap tubuh Indah dari belakang, dengan ragu-ragu dielusnya punggung putih milik Indah, kulit yang sangat halus membuat Togar tergoda untuk memberikan kecupan disana. Dilingkarkannya kedua tangannya memeluk Indah dari belakang, dihirupnya aroma tubuh Indah yang khas.
" Hmm." Deheman Indah menyadarkan Togar dari perbuatannya. Dibalikkannya tubuh Indah dan kini berhadapan denganya. Dipandangnya kekasihnya yang terlihat begitu cantik dibalut dress bercorak bunga kecil-kecil sedang berdiri dan terus menatapnya.
Kedua tangan Togar masih melingkar di pinggang Indah, jarak yang begitu dekat membuat keduanya tergoda untuk melakukan sesuatu. Togar mendekatkan wajahnya, manik hitam milik Indah tidak lepas menatap Togar.
Entah siapa yang memulai, kini bibir mereka saling bertautan, saling berlomba menyesap. Togar mendorong tubuh Indah kebelakang sekarang posisinya terkunci oleh tubuh Togar yang tinggi dan besar.
Togar memperdalam ciumannya, ditangkupnya kedua pipi Indah, dilumatnya bibir tipis nan merah yang selalu menggodanya. Kali ini Indah tidak mau pasif ia membalas ciuman Togar setelah mengalungkan kedua tangannya di leher sang kekasih.
" I Love You." ucap Togar ketika tautan bibir mereka sudah berhenti.
Indah memeluk Togar dengan erat, diletakkanya kepala di dada Togar.
" I love you too." ucapnya pelan dan terdengar jelas ditelinga Togar.
Ketukan dibalik pintu menyadarkan mereka kalau sekarang mereka berada di sebual mall tepatnya di kamar pas satu butik ternama.
Dengan saling tatap mereka tertawa pelan, sudah dipastikan itu adalah salah satu pramuniaga butik itu.
" Sebentar mbak, belum selesai." jawab Indah agar pramuniaga itu tidak curiga dengan mereka.
Togar mengacak pelan poni lurus Indah, menarik hidung mancung kekasihnya.
__ADS_1
" Ayo ! Kita ke kasir sekarang." Indah membereskan baju-baju yang sudah dicobanya, memasukkan kembali ke dalam tas berbahan plastik yang dipegangnya. Saling menggenggam tangan mereka menuju kasir.
Bersambung