
Malam ini Marissa terpaksa tinggal di rumah, kebiasaannya bersenang-senang di club harus dihentikan, Bobi mengancam akan membeberkan semua yang terjadi padanya, termasuk kehamilan nya kepada kedua orangtua Marissa.
"Akh..! Aku jenuh seperti ini." Marissa kesal karena tidak bisa kemana-mana, bekerjapun ia sedang tidak bersemangat.
Tidak sengaja Marissa menyaksikan pertemuan tiga orang yang di kenalnya dengan baik, tiga orang yang benar-benar membuatnya muak dalam urusan percintaan.
Marissa mengepalkan tangannya, ia teringat akan kehamilannya, disentuhnya dengan pelan perutnya yang masih rata, sebenarnya ia berharap Bima mau mengakui baby yang sedang berkembang di rahimnya, tapi mau dibilang apa, harapannya terlalu tinggi, Bima malah menolak dan menghinanya habis-habisan.
"Ayo, kita menikah. Aku akan bertanggung jawab sampai anakmu lahir. Hanya sebatas hubungan di atas kertas, Icha." Mars menawarkan pertolongan pada Marissa, hal itu sudah berulangkali diucapkan Mars.
Apa aku menerima saja tawaran Mars? Agar aku bebas melakukan keinginanku?
Marissa menimbang-nimbang rencananya, ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, ia sudah di titik jenuh sekarang, ia akan memakai Mars untuk memuluskan rencananya.
yap...aku akan menghubungi Mars, aku akan memintanya bertemu mama dan papa.
Marissa mencari ponselnya di dalam tas, ia mencari nomor kontak Mars, sesaat ia ingin memencet tuts bergambar telepon keraguan terbersit di pikiran Marissa.
Bagaimana kalau papa dan mama meminta Mars menikah dengannya. Oh no...aku tidak mau jadinya seperti itu. Tidak ada pernikahan hanya...??
Marissa bingung dengan rencananya. Akhirnya ia meletakkan kembali ponselnya.
tok...tok...
"Masuk."
"Anda belum makan, nona."
__ADS_1
" Bobi. Aku tidak mau makan itu." Marissa menolak makanan yang sudah disiapkan Bobi di piring.
"Aku ingin makan mie instan."
"Nona, kita tidak punya stok makanan seperti itu." Bobi heran mengapa Marissa meminta makanan yang sama sekali tidak pernah mereka makan.
"Pokoknya aku tidak mau itu, jauhkan dariku. Cari mie instan sekarang." Marissa menjadi mual melihat steak yang dibawa Bobi.
"Baiklah ! Ayo, kita keluar mencari makanan itu." Bobi mengalah, ia meletakkan makanannya kembali di meja, ia berjalan mengambil jaketnya.
Marissa mengikutinya dari belakang.
Setelah mengendarai mobilnya, mereka tiba di suatu cafe yang menyediakan makanan seperti yang diinginkan Marissa.
"Nona, anda yakin makan makanan ini? Anda sedang hamil, tidak baik untuk perkembangan janin."
Jauh di sudut ruangan lain, Bima tidak sengaja melihat keberadaan Marissa, Bima melihat Marissa datang ke cafe dengan Bobi.
Bima melihat Bobi begitu memperhatikan Marissa, mereka berdua terlihat begitu dekat, entah kenapa Bima merasa tidak terima melihat kedekatan Bobi dan Marissa.
"Apakah nona sudah selesai ?"
"Hmm. Terima kasih, Bob. Kau memang paling baik sedunia." Marissa memeluk Bobi hanya sebagai ungkapan terima kasihnya saja.
Melihat hal itu hati Bima semakin panas. Ia mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia berjalan menghampiri Marissa tapi itu yidak mungkin karena ia dan Marissa tidak punya hubungan apa-apa.
"Saatnya kita pulang, nona harus istirahat."Bobi mengurai pelukan Marissa yang membuat ia sedikit gugup.
__ADS_1
"Seperti katamu." Marissa bangkit berdiri karena Bobi sudah mengajaknya pulang.
"Tunggu sebentar. Aku ke toilet dulu ya." Marissa meninggalkan Bobi.
Marissa merapikan tampilannya, ia merasa agak pusing dan mual.
Akhh...aku pusing dan mual. Apa aku keracunan makanan tadi ? Marissa memijit-mijit keningnya sebentar.
Marissa berjalan keluar dari toilet. Ketika ia hendak berjalan seseorang menghalangi langkahnya.
"Kau?" Marissa menatap heran Bima ada di depannya.
" Minggir, aku mau lewat." Marissa tidak menghiraukan Bima yang menatapnya.
Bima masih tidak bergerak dari tempatnya membuat Marissa kesal.
"Apa kau sudah tuli ?" Marissa meradang.
Bima menatap Marissa yang sedang marah di hadapannya.
"Berapa banyak lagi laki-laki yang akan kau ajak bersenang-senang ? Apa kau tidak merasa kalau harga dirimu itu terlalu murah ? Malam ini aku ingin menyewamu. Berapa aku harus membayarmu ?" mata Marissa semakin melotot.
Tanpa menunggu jawaban dari Marissa Bima menarik tangannya dan membawanya pergi.
" Tunggu !" bariton Bobi menghentikan langkah Bima yang menarik paksa Marissa.
bersambung
__ADS_1