
Selesai sudah acara wisuda Silvi, lusa ia dan Roi akan kembali ke Jakarta.
Kini Roi sudah berada di kantor perusahaan Dosroha, Togar yang menjabat direktur utama disitu.
Roi masih sibuk dengan berkas -berkas yang dipegangnya, ia memeriksa satu persatu file yang sudah diserahkan Togar kepadanya.
Tapi konsentrasinya agak buyar karena mendengar suara ribut-ribut dibalik pintu.
Dion masuk setelah mengetuk pintu.
" Maaf tuan, nona Meta memaksa ingin bertemu dengan tuan." Dion tertunduk dihadapan Roi
Meta berjalan sambil menggeser Dion yang masih berdiri di depan pintu.
" Selamat siang Roi." Meta menyapa Roi dengan senyum licik dibibirnya.
Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Roi.
Roi melambaikan tangannya kepada Dion sebagai isyarat untuk segera meninggalkan mereka berdua. Dion menundukkan kepalanya dan berlalu dari ruangan Roi.
" Katakan apa urusanmu kemari." dengan nada cuek dan dingin Roi menyapa Meta.
" Hmm..kau terlalu to the poin Roi." jawab Meta.
" Pekerjaan atau..."
" Tentang hubungan kita Roi." Meta memotong ucapan Roi
" Hubungan? hubungan apa maksudmu, bahkan aku baru mengenalmu saat ini." tanya Roi sinis.
" Jangan seperti itu Roi, bukankah kedua orang tua kita ingin agar kau dan aku menikah, lihat ini !" Meta meletakkan sebuah foto di meja Roi dan menggesernya ke hadapan Roi.
__ADS_1
" Fotoku." ucap Roi pelan
" Tante Nita yang mengirimkannya padaku." jawab Meta senang.
" Maaf...aku tahu tentang itu tapi sampai sekarangpun aku tak tertarik tentang rencana itu." Roi melemparkan kembali foto yang diberikan Meta kepadanya.
" Simpan bila kau perlu, buang pun tak mengapa hanya sebuah foto bukan? no problem." lanjutnya kemudian
" Roi." Meta sangat kesal dengan sikap Roi
" Bila kau tidak ada urusan lagi, silahkan pergi."
" Kau tahu perusahaanmu ini bermasalah, ada laporan fiktif dari data keuangannya, aku akan membawanya ke jalur hukum, agar semua tahu, perusahaanmu ini tak becus." Meta meradang ia meneriaki Roi yang terang - terang menjatuhkan harga dirinya.
Roi hanya tersenyum mendengar penuturan Meta.
Bukan malah pergi, Meta semakin marah karena Roi terlihat lebih dingin.
" Hal ini sudah kami bicarakan dengan Togar, asal kau mau menjadi kekasihku."
Roi berdiri dari kursinya, dia marah dengan Meta yang tidak mengerti maksudnya.
" Keluar."
" Roi." Meta berusaha mendekati Roi.
Dan..
" Abang..." Silvi datang dan melihat Meta dan Roi yang saling menatap dengan jarak yang begitu dekat.
" Hmm.maaf." Silvi menutup kembali pintu yang sudah dibukanya tadi, kemudian ia berlari meninggalkan ruangan Roi.
__ADS_1
Togar heran melihat Silvi berlari seperti terburu-buru.
Togar segera mengejar langkah Silvi, ia kwatir ada sesuatu yang terjadi pada Silvi.
Togar melihat Silvi masuk ke mobilnya.
" Nona..nona.." Togar terus mengejar dan meneriaki nama Silvi.
Silvi menghapus air matanya, ia tidak mau terlihat sedih di hadapan Togar.
" Ada apa ? Sesuatu terjadi dengan nona ?" Togar menundukkan kepalanya dan berbicara dengan Silvi di jendela mobilnya.
" Tidak. Tidak ada. Aku hanya datang di saat yang tidak tepat." Silvi mengalihkan tatapannya, bagaimanapun ia sangat kecewa melihat Roi dengan wanita itu.
Apakah mereka akan melakukannya, kalau aku tidak datang mungkin mereka sudah berciuman, wajah Roi ...argh....Silvi menggelengkan kepalanya.
" Nona, tuan Roi sedang ..."
" Aku tahu dia sibuk, sudahlah aku mau pulang " ucap Silvi sambil memasangkan sabuk pengamannya.
Togar hanya diam memandang kepergian Silvi, hatinya penuh tanda tanya.
" Mana Silvi ?" suara seseorang membuat Togar terkejut.
" Ampunnn...tuan aku sangat terkejut." ucap Togar berbalik melihat Roi
" Dia barusan pergi, dan..."
" Kau selesaikan urusan perusahaan dengan perempuan tak tahu malu itu. " Roi berjalan meninggalkan Togar.
Togar masih bingung apa sebenarnya yang terjadi🤔🤔
__ADS_1
"