
Hubungan Silvi dan Roi semakin membaik, Roi berusaha memahami Silvi yang sedang menjalani hari-hari di masa kehamilannya, tak terasa kandungannya memasuki bulan ke empat, mual dan muntah sudah hilang, sekarang ia bisa makan dengan leluasa, semakin bertambah usia kandungannya, Silvi pun semakin agresif, dia tidak tahan berlama-lama diam di rumah, berbelanja di mall ia bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk belajar memasak mengisi kekosongan waktu yang membuatnya kesal.
Seminggu yang lalu, Uli memberi kabar kepada Silvi bahwa Indah akan menghabiskan liburannya di Jakarta. Indah merindukan kakaknya, Silvi. Terakhir ia bertemu dengan kakaknya waktu Roi mengalami kecelakaan.Meskipun mereka sering saling kontak, Indah merasa bertemu langsung lebih enak, bisa memeluk kakaknya, dan bisa pula bertukar pikiran.
*
*
" Kau ?" mata Indah melotot melihat seorang pria duduk disampingnya, tak lain adalah Togar.
" Jangan bilang kau mengikuti aku." menggeser duduknya agar menjauh dari Togar.
Togar menatap Indah yang mengambil jarak darinya, dihelanya nafasnya, tidak mengubris omongan wanita yang masih menatapnya dengan mulut komat kamit, tingkah Indah malah membuat Togar terkekeh dalam hati.
" Jaga bibirmu ! Bila kau terus bicara sendiri, orang menganggapmu kurang waras." kekeh Togar yang membuat Indah makin kesal.
Ia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, jam keberangkatan tujuan Jakarta masih setengah jam lagi, daripada berhadapan dengan pria menyebalkan yang berada di depannya, Indah memilih untuk bermain games di gaweinya.
Sangkin asyik dengan gamenya, Indah tak menyadari kalau seorang pria duduk disampingnya, berada diantara ia dan Togar.
" Permisi. Aku mau duduk disini." ucap pria itu kepada Indah.
" Hmm." jawab Indah tanpa menoleh sedikitpun karena games yang dimainkannya sedang seru-serunya.
Togar dengan jelas melihat Pria itu menatap Indah dengan tatapan memuja, kecantikkan seorang Indah tak dapat dipungkiri, wajar jika para pria yang pertama sekali menatapnya akan tertarik dengan kecantikkannya.
" Kau mau ke Jakarta ?" sapa pria itu agar Indah melihatnya.
Indah melihat ke samping kanannya, tak ada orang. ia menoleh ke sebelah kirinya, ada seorang pria duduk menatapnya.
__ADS_1
" Kau menanya ku?" ucapnya sambil menujuk dirinya. Dan pria itu mengangguk.
" Ya." jawab Indah cuek. Kemudian ia melanjutkan bermain games kembali.
Melihat pria itu memandang Indah terus menerus, Togar yang sedari tadi diam mulai beraksi.
" Maaf. Bisakah anda pindah ke sebelah sana." kini Togar berada dihadapan pria itu, ingin rasanya ia mencongkel kedua mata pria itu, yang tak berhenti menatap wanitanya.
Eeh..eeh...tunggu dulu itu hanya tanggapan sepihak dari Togar, sejak memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Indah, hubungan mereka hanya sebatas saudara. Leo dan Karissa sudah menganggap Togar bagian dari keluarga Sinaga.
" Dia wanitaku." ucap Togar kemudian agar pria itu cepat menyingkir dari sebelah Indah.
Dengan mata melebar Indah menatap Togar, ia tak menyangka Togar berkata seperti itu. Melihat Indah melototkan matanya, Togar tak mengubrisnya, ia duduk dengan santai di sebelah Indah setelah pria itu dengan terpaksa bergeser dari duduknya.
" Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya melakukan tugasku. Kakak menitipkan mu padaku." bisik Togar ditelinga Indah.
" Terserah apa tanggapanmu."balasnya dengan cuek.
" Bersiaplah ! Pesawat kita akan berangkat." Togar melirik jamnya yang sudah menunjukkan jam keberangkatan mereka.
Togar mengambil alih troli yang di tangan Indah, kemudian di dorongnya, dengan tangan yang satunya di genggamnya tangan Indah. Awalnya Indah merasa keberatan dan berusaha menarik tangannya dari genggaman Togar, semakin berusaha melepaskan tangan Togar, semakin kuat Togar mengenggamnya.
Setelah menduduki tempat duduk yang sudah ditentukan di pesawat yang mereka tumpangi, Togar melepaskan genggamannya.
" Kenapa sih, kemana-mana harus bersamamu ? " tanya Indah dengan wajah masam melihat sikap Togar seenaknya.
" Karena memang harus begitu." ucap Togar membalas tatapan Indah
" Jadi....ucapanmu tadi, maksudnya apa ?"
__ADS_1
" Ucapan apa ?"
" Itu...kau bilang aku wanitamu."
" Hmm. Kau keberatan?" ucap Togar, entah kapan wajahnya berada di hadapan Indah.
" Ng..ng...jelas saja aku keberatan. Aku..."
Dengan sekali tarikan di dagu Indah, Togar berhasil membungkam mulut cerewet Indah dengan ciumannya. Disesapnya dengan lembut bibir ranum yang akan selalu menjadi candu baginya.
Togar melepaskan tautannya, tangannya masih berada di dagu Indah, di usapnya bibir yang masih basah bekas ciumannya tadi. Cantik ! Puji Togar dalam hati, ingin rasanya ia berlama-lama memandang wanita yang sedang diam dan memejamkan matanya yang berhadapan dengannya.
Indah membuka perlahan matanya yang terpejam, menatap Togar yang juga sedang menatapnya.
" Kau milikku." bisiknya dihadapan Indah.
Indah merenggut mendengar pernyataan Togar, dengan wajah manyun ia bertanya.
" Jadi, bagaimana hubungan kita sekarang ? Kau yang meminta hubungan kita berakhir. Sekarang kau...kau...mengatakan aku milikmu." ucap Indah setelah menepis tangan Togar dari dagunya.
" Bukankah semuanya sudah jelas ?"
" Mak...maksudmu, ki..ki.." Indah tak mengerti, kata jelas menurut Togar maksudnya seperti apa.
" Bisakah kau tidak berisik ? Aku mau istirahat." ucap Togar, ia menyusupkan tangannya memeluk pinggang Indah, merebahkan kepalanya di bahu Indah, dan memejamkan matanya, mengambil waktu beristirahat sebentar selama dalam penerbangan.
Senyum bahagia terbit begitu saja di wajah Indah. Tidak dapat diucapkan dengan kata-kata rasa bahagia yang menyelimuti hatinya jujur ia masih sangat mencintai Togar.
bersambung
__ADS_1