
Terhitung seminggu Roi dan Silvi mengarungi bahtera pernikahan mereka. Semuanya terlihat begitu manis, maklum...dapat dikatakan mereka tidak melewati masa pacaran seperti kebanyakan pasangan yang sudah menikah.
Roi yang merupakan sosok yang dingin dan tegas dalam pekerjaannya, sangat berbeda bila bersama dengan istrinya di rumah.
Seperti pagi ini Roi rela bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, subuh-subuh ia sibuk mencari tutorial memasak roti bakar layaknya di restoran ternama. Roi ingin membahagiakan istrinya dengan caranya.
Roi tersenyum melihat dua helai roti yang baru diangkatnya dari pemangang roti, sekarang ia akan menyiapkan telur mata sapi, potongan tomat, dan sehelai daun selada. Ta...da...selesai. Roi tersenyum melihat roti hasil buatannya. Seumur-umur ia baru melakukan pekerjaan seperti ini.
" Mudah mudahan roti ini rasanya enak, argh...apakah ini namanya romantis, entahlah aku harus banyak belajar tentang sikap romantis, karena aku tidak pernah menjalin hubungan cinta dengan perempuan manapun" ungkap Roi dalam hatinya
" Sayang..." Kini Roi sudah berbaring disamping istrinya yang masih tertidur lelap. Ia memiringkan tubuhnya dan menyanggah kepala dengan tangannya, sambil mengelus pipi istrinya ditatapnya wajah cantik istrinya dengan tersenyum.
" Sayang...bangun, kita sarapan dulu." Roi mencubit gemas hidung mancung Silvi.
" Hmm.. " Silvi menggeliat, perlahan ia membuka matanya dan melihat Roi yang ada disampingnya sambil tersenyum.
" Jelek begini bangun tidur." ucap Roi menggoda istrinya.
__ADS_1
Wajah Silvi merona kemudian membalikkan badanya dan menutupi wajahnya dengan selimut, bersembunyi dari Roi.
Roi bergeser mendekat kepada Silvi, kemudian ia menyusupkan tangannya ke bawah leher Silvi untuk dijadikan penyangga kepalanya. Tangannya yang satu lagi menarik tubuh Siivi mendekat.
Cup
" Kiss morning sayang." ucap Roi.
" Sudah siang. apa kau tidak bekerja ?" tanya Silvi yang ingin mengalihkan tatapan Roi kepadanya.
" Aku boss nya, lagipula untuk apa kau menanyakan itu ha ? Kau sudah bosan melihatku di sini." jawab Roi masih terus menatap istrinya. Ia mendekatkan wajahnya mengecup hidung mancung Silvi.
" Apa tamu bulananmu sudah berhenti sayang." Rupanya usai pesta pernikahan, Roi sudah tidak ssbar ingin melakukan hubungan intim dengan Silvi, tapi apa hendak dikata tamu bulanannya datang di waktu yang tidak tepat.
Silvi menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Roi. " Tidak apa. Pergilah mandi aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita." ucap Roi melepaskan pelukkannya dari Silvi.
" Apa kau kecewa Roi ?" Silvi merasa Roi sedikit kecewa karena belum bisa mendapatkan haknya setelah menikah.
__ADS_1
" No. Kita bisa melakukannya ketika tamu bulananmu itu pergi." kekeh Roi menarik pelan hidung Silvi yang sedari tadi membuatnya gemes.
####
Kediaman Morin
Togar menunggu Leo dan Karissa selesai sarapan bersama dengan anak dan menantunya. Sesekali ia melihat Indah yang sama sakali tidak melihatnya. Ya..Indah sengaja membuang mukanya jauh-jauh dari Togar.
" Permisi, aku akan memeriksa kembali mobil dan barang-barang ayah dan ibu." ucap Togar dan bergegas meninggalkan mereka.
Leo mengangguk mengiyakan perkataan Togar.
" Indah kau temani Togar mengantarkan opungmu ya nak." Morin meminta putrinya itu untuk menemani Togar di perjalanan mengantarkan kedua orangtuanya pulang ke Samosir.
" Kalian menginaplah sehari disana, pergi langsung pulang itu melelahkan." ucap Uli kepada putrinya.
Morin juga setuju, selama ini ia melihat hubungan Togar dan Indah dekat dan baik sehingga ia tidak ragu untuk melepas putrinya itu jalan berdua.
__ADS_1
bersambung