Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Lho kok 2


__ADS_3

Pukul tujuh tepat di aula hotel kepunyaan keluarga Michell sudah sangat ramai, banyak undangan yang sudah hadir, mereka datang dengan tampilan yang sangat elegan.


Tak ketinggalan Silvi, Ia datang dengan tampilan yang sangat menawan, tubuhnya yang di balut dress cantik berwarna dusty pink, ditambah make up minimalis, Silvi kelihatan manis.


Michell dan Nita tampak sibuk menyambut para undangan yang berdatangan, Roi berdiri mendampingi orang tuanya.


Silvi sangat terkejut, Roi ada di sana. ya..berdiri bersama dengan orang tuanya, ia ingin sekali menghindar dari Roi, kalau bisa memilih ingin rasanya Silvi pulang saja, tapi ia tidak menginginkan Michel dan kecewa. Dalam keadaan seperti ini Silvi sangat merindukan mamanya atau indah adiknya yang bisa diajak membicaraksn masalah hatinya sekarang.


Silvi melihat Roi sedang menatapnya, senyum di bibirnya membuat hati Silvi geram, Ia masih ingat foto-foto Roi dan Ester yang dikitimkan kepadanya.


Sekilas Silvi melihat Roi berjalan kearahnya, pada saat ini Silvi benar-benar tak ingin berbicara dengan Roi. Silvi berusaha menghindari Roi, ia berjalan ke arah lain agar tidak bertemu dengan Roi.


Roi masih mengikuti Silvi yang berjalan di depannya, hatinya bertanya-tanya serpertinya Silvi berusaha menghindarinya, bukankah kemarin hubungan mereka semakin membaik, Roi menggelengkan kepalanya, dan tidak sengaja ia menabrak seseorang.


" Tuan Roi maaf saya menabrak tuan, Tuan Michel mencari tuan, ada beberapa rekanan bisnis yang ingin bertemu." perempuan itu adalah Ester. Ia terbata- bata karena terburu-buru berjalan mengejar langkah Roi


Silvi menatap Roi dan Ester yang sedang berbicara,ntah apa yang mereka bicarakan, ekor mata Silvi tidak pernah lepas dari sosok perempuan itu.


Roi berbalik, Ia pergi menemui orang tuanya. Silvi merasa sangat kecewa, Ia berbalik dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari tempat itu.


Adnan selalu memperhatikan gerak-gerik Silvi dan Roi, Ia menyampaikan semua yang dilihatnya kepada Nita.


Silvi terburu-buru, Ia berjalan tanpa menoleh kebelakang, yang ada di benaknya sekarang adalah pulang, baru saja kakinya melangkah keluar dari gedung hotel tersebut, tiba-tiba


" Silvi." seseorang menarik tangannya.


" Kau, brengsek ! laki-laki tak punya hati." pecah sudah tangis Silvi, dadanya naik turun menahan emosinya.

__ADS_1


" Lho kok....ada apa denganmu ?" ternyata orang yang menarik tangan Silvi adalah Roi.


" Jangan sentuh aku, aku tidak ingin bersandiwara lagi, aku minta kau menjauh dariku." Silvi berteriak.


Roi semakin tidak mengerti, apa sebenarnya yang telah terjadi.


" Tunggu..tunggu ! jelaskan padaku, aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau seperti ini ?" Roi menahan Silvi dengan memegang kedua pundaknya.


Praakkk


Satu tamparan mendarat di wajah Roi.


" Aku membencimu Roiiiiii !" emosi Silvi semakin menjadi.


Roi menjamah pipinya yang baru saja ditampar oleh Silvi. Roi mulai sadar ada yang tidak beres dengan Silvi.


" Turunkan...turunkan aku, Aku nga mau bersamamu lagi." Silvi berteriak-teriak sambil memukuli lengan Roi.


Roi terus berjalan, ia tak menghiraukan teriakan Silvi.


" Roi...kau mau bawa aku kemana hah !"


Roi sudah sampai di depan mobilnya, pak Anton tergopoh-gopoh melihat kejafian di depannya.


" Tuan..nona "


" Buka pintunya." suara Roi tegas dan dingin.

__ADS_1


Roi menghempaskan tubuh Silvi di jok belakang mobil.


" Pak Anton, bapak bisa pulang sekarang, ini untuk ongkos." Roi mengèluarkan selembar uang kertas berwarna merah dan menyerahkannya kepada pak Anton.


" Hmmm. Terima kasih tuan muda." tanpa banyak basa-basi lagi, Anton meninggalkan Roi dan Silvi. Ia melihat sepertinya ada masalah diantara mereka.


Roi menatap Silvi yang duduk dan menangis di jok belakang mobil. Roi menarik nafas karena hatinya sedang tidak baik.


Roi duduk di samping Silvi. Ia membiarkan Silvi yang masih menangis.


" menangislah bila masih ingin menangis, mungkin dengan begitu hatimu sedikit tenang." ucap Roi


Lama mereka berdua terdiam, Roi tidak ingin meminta penjelasan dari Silvi, ia menyenderkan kepalanya di kursi jok, tangannya meremas -remas rambutnya, ada keraguan di hatinya, mengapa hubungannya dengan Silvi seperti ini.


" Kau sudah agak tenang ?" Roi akhirnya memulai pembicaraan, ia tak kuat melihat keadaan Silvi seperti itu.


Silvi hanya diam dan membuang mukanya agar tidak melihat wajah Roi.


Roi menarik tubuh Silvi dan membawanya kepelukkannya.


" Tolong jelaskan apa yang terjadi selama aku keluar kota." ucap Roi dengan suara merendah dan lembut


Silvi tidak menolak pelukkan Roi, ada rasa bahagia dihatinya ketika Roi memeluknya. Ia meletakkan kepalanya di dada bidang Roi. Roi tak berhenti menciumi pucuk kepala Silvi, Ia melakukannya agar Silvi bisa tenang.


" Aku merindukanmu sayang." Roi berbisik ditelinga Silvi.


Silvi tersenyum di pelukkan Roi.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2