
Roi melepaskan kemeja yang dipakainya, ia melihat Silvi sudah tidur dengan lelap, entah jam berapa istrinya itu memejamkan matanya sampai panggilan Roi tidak didengarnya.
Kini Roi sudah bertelanjang dada, pandangannya tak lepas dari Silvi yang tertidur begitu pulas, bibirnya terangkat sedikit keatas. Dipandanginya wajah Silvi yang tampak cantik malam itu. Didekatinya, kemudian menundukkan kepalanya untuk memberikan kecupan di kening Silvi.
Merasa ada sesuatu yang menyentuh keningnya, Silvi terkejut dan membuka matanya, ia takut ada orang yang masuk ke apartemen Roi tanpa sepengetahuannya. Asisten rumah tangga yang bekerja untuk Roi hanya datang pagi kemudian pulang di sore hari.
"Roi." Silvi mengucek-ngucek matanya yang enggan untuk terbuka karena baru beberapa menit yang lalu dia tertidur. Setelah matanya terbuka sempurna, ia melihat wajah Roi tepat dihadapannya, matanya langsung tertuju pada tubuh Roi yang bertelanjang dada.
Roi tersenyum dan menangkup pipi Silvi, ia mengelus pipi mulus yang sudah merona entah karena malu atau sedang bernafsu.
" Kau ketiduran. Maaf aku pulang terlambat ada beberapa file yang harus aku periksa, pekerjaanku menumpuk hari ini."
Roi memperlihatkan senyumnya. Ia belai rambut indah istri yang sangat dicintainya itu. Kemudian ia mendekatkan wajahnya lalu ia cium bibir Silvi.
" Kau belum mandi ?" tanya Silvi.
" Nanti saja. Aku ingin kau malam ini." guman Roi yang berharap Silvi mengabulkan permintaannya.
Roi menyusupkan tangannya di bawah leher Silvi, ia menarik tengkuknya kemudian menciumi bibir Silvi dengan hasrat yang menggebu.
" Please, jangan menolak lagi sayang. Aku sudah tak tahan ingin bercinta denganmu." ucap Roi penuh harap.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Roi kembali ******* bibir istrinya itu dengan bernafsu.
" Tapi aku takut Roi." ucap Silvi disela-sela ciuman Roi
" Kita belajar bersama, kau pikir aku sudah pernah melakukannya ? Sejujurnya aku juga gugup." jelas Roi melihat kegelisahan Silvi.
" Apa rasanya sakit Roi ?" tanya Silvi kemudian
" Hmm. Sedikit."
Roi sudah tidak dapat menahan gejolak di tubuhnya, ia ***** kembali bibir Silvi, lalu ia mainkan lidahnya di rongga mulut istrinya itu.
Silvi membalas ciuman Roi, direngkuhnya tubuh Roi yang berada diatasnya. Roi semakin bersemangat ia ***** dengan rakus bibir Silvi yang sudah basah karena salivanya.
Dengan tidak sabaran Roi membuka celana kerjanya, dilemparnya begitu saja, ia lepas boxer yang dipakai untuk menutupi aset berharganya itu.
Silvi terpekik meihat tubuh Roi tanpa sehelai kain.
" Kau sudah siap sayang ?" tanpa menunggu jawaban Silvi, ia sudah berada diatas menguasai tubuh istrinya itu. Ia membuang begitu saja dalaman Silvi setelah berhasil dilepasnya.
" Roi lakukan perlahan." pinta Silvi memelas.
__ADS_1
Roi kembali ******* bibir istrinya itu, ******* demi ******* yang diberikan Roi membuat Silvi ingin lebih lagi. Roi semakin menggila saat dua gundukan kenyal Silvi berada tepat di depannya, di hisapnya dengan rakus, membuat ******* Silvi lebih jelas di telinganya.
" Aku akan memasukkannya sayang, tahan sedikit." dengan perlahan aset berharga Roi memasuki Silvi.
" Roi." ringis Silvi
" Tahan sayang, sebentar lagi nih..."
" Argh..." Silvi mencengkram tubuh Roi untuk menahan rasa sakit dan perih di bawah sana.
" Kau boleh teriak sayang...jangan di tahan." Roi semakin mempercepat ritme permainnannya, rasa sakit yang semula dirasakan Silvi, kini berubah dengan rasa nikmat yang akan menjadi candu bagi dirinya.
" Argh..." mereka sama-sana teriak ketika benih-benih cinta Roi memenuhi rahim Silvi.
" Thank You darling, kau menjaganya untukku." ucap Roi ketika matanya melihat darah segar yang membekas di atas penutup ranjang mereka.
" Istirahatlah." Roi mencium kening istrinya yang tampak kelelahan.
Dan akhirnya mereka tertidur setelah melakukan penyatuan yang seharusnya dilakukan seminggu yang lalu.
💗💗💗
__ADS_1
bersambung