
" Kenapa ia harus ikut kita, beb ? Bukankah ia adik tingkat kita?" Marissa bertanya kepada Rey yang merasa heran kenapa ia membawa perempuan yang tidak dikenalnya masuk ke dalam mobil, sesekali matanya menatap Alina yang duduk di jok belakang menundukkan kepalanya.
" Jangan berisik !" bentak Rey yang masih menahan marahnya mendengar Marissa masih saja bertanya, telinganya sakit mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
" Beb, Aku butuh penjelasan ! Kau malah banyak diam dan membentakku. Apa maksud semua ini."
Alina menarik nafas berat, menggelengkan kepalanya, dua orang yang duduk di depannya membuatnya sangat kesal
" Dia pelayan di rumah keluargaku, dan aku harus mengantarnya ke rumah kak Silvi." Jelas Rey agar Marissa tidak merengek-rengek lagi menanyakan siapa Alina.
Ha...ha...ha...Tawa Marissa langsung meledak.
" Seorang pelayan ? " Marissa memicingkan matanya melihat penampilan Alina.
Kalau dipikir-pikir memang ia cantik sih. Tetapi mana mungkinkan Rey suka sama cewek kampungan seperti dia
Alina tertunduk, ia malas melihat seorang Marissa yang menertawakannya, Alina mencoba membandingkan dirinya dengan Marissa, jauh berbeda, matanya nanar menatap pakaian yang dipakainya, tidak sebanding dengan baju Marissa yang kelihatan bagus dan menarik, sebenarnya ia tidak perlu merasa kecewa ataupun marah dengan sikap kedua orang yang berada di hadapannya.
" Beb. Kenapa harus diantar sih ? Dia kan bisa pulang sendiri." suara Marissa masih terus bertanya.
"Sekalian aku ada perlu dengan kak Silvi." Jawab Rey dengan cuek.
" Kebetulan dong, Aku ikut ya. Aku ingin melihat baby kembar kak Silvi." Dari ucapan-ucapan Marissa sepertinya ia sudah sangat dekat dengan keluarga Rey. Alina menarik nafas berat.
Kehidupan seseorang tidak selalu di bawa, seperti roda pedati suatu saat akan berada diatas. Alina menyemangati dirinya sendiri.
Setelah memarkirkan mobilnya, Alina langsung turun, meninggalkan Marissa dan Rey yang masih duduk di bangku masing-masing.
" Tuh...Lihat ! Pelayan tidak ada sopannya sama kita."
__ADS_1
" Bisa enggak kamu tidak banyak komen tentang dia." Rey membuka pintu mobilnya, rasanya kesabaran Rey diambang batas. sedari tadi Marissa tidak henti-hentinya mengatai Alina.
" Rey. Kamu ini kenapa sih ? Dari tadi bawaannya bete terus. Aku yang selalu disalahin. " Marissa cemberut memanggil Rey yang ingin meninggalkannya begitu saja.
Malas dengan omelan Marissa, Rey meninggalkan Marissa. Entah kenapa akhir-akhir ini Marissa terlalu cerewet, biasanya ia tidak pernah mau mengurusi orang lain.
" Beb. Tunggu." Marissa berlari mengimbangi langkah Rey yang sudah di depan lift.
Sesampai di kediaman Silvi, ia melihat Alina yang sudah berganti pakaian sedang bermain dengan Al dan El, tidak sedikitpun ia menoleh kepada Marissa dan Rey, sebenarnya ia tidak ada urusan dengan kedua orang itu, tapi entah apa masalahnya Rey tadi langsung menariknya untuk ikut brrsamanya Bila tahu seperti ini lebih baik ia ikut bersama Mars pulang.
Marissa melihat kedekatan Al dan El dengan Alina, hatinya sedikit ciut, Alina tidak canggung dengan pekerjaannya, ia melakukannya dengan senang, dan itu membuat Marissa cemburu dengan keberadaan Alina di tengah-tengah keluarga Silvi
" Hei. Marissa." Sapa Silvi melihat Rey dan Marissa datang ke rumahnya, Marissa baru saja mematikan ponselnya karena tadi ada yang meneleponnya, ia melihat Marissa berdiri memandang Alina dengan Al dan El yang sedang bermain diatas permadani.
" Hai. Kak Silvi." Marissa memeluk Silvi dengan senyum yang membuatnya kelihatan tambah cantik, setelah cipika cipiki mereka mengambil tempat duduk di sofa.
" Sudah lama tidak ketemu kak. Baby Al dan El lucu sekali ya." ucap Marissa.
" Sedikit, kak !"
Kedua wanita itu kemudian duduk bersama, bercanda. dan tertawa disela-sela obrolannya. Tidak begitu lama Silvi meminta Rey menemani Marissa ia ingin melihat Al dan El.
" Alina. Al dan El sudah bobo ?" tanya Silvi begitu melihat Alina yang berjalan meninggalkan kamar Al dsn El, akan ke kamarnya.
" Sudah, tan." Jawab Alina singkat
" Aku ke kamar dulu ya, tan." Lanjut Alina tanpa menoleh sedikitpun kepada Marissa yang duduk di sebelah Silvi.
Marissa adalah putri dari rekan bisnis Morin dan Uli, bersuku batak, cerdas, dan wanita cantik. Kesempurnaan secara fisik yang dimiliki Marissa membuat Rey tertarik ketika awal pertemuan mereka. Kebetulan berada di satu kampus yang sama membuat keduanya cepat akrab.
__ADS_1
Marissa dan orang tuanya sudah dekat dengan keluarga Rey, jadi hubungan mereka tidak mendapat halangan. Sejauh ini belum ada rencana untuk menikah karena Rey masih ingin fokus menyelesaikan studinya.
Marissa juga seorang model terkenal, dengan postur tubuh tinggi dan kulit yang putih banyak brand -brand ternama yang mengikatnya dengan kontrak pekerjaan, sebagai model dilakoninya hanya sebagai hobby saja. Ia terlahir dari orang tua yang sudah mapan, jadi materi bukan tujuan utamanya.
Setelah membersihkan tubuhnya dan mengenakan stelan santai Rey menyapa kakaknya dan Marissa yang masih ngobrol.
" Rey. Nanti tolong beliin pampers untuk Al dan El ya."
" Hmm. Nanti kak, Sekalian mau ngantarin Icha pulang." Panggilan sayang Rey untuk kekasihnya itu.
Terkadang sifat Rey memang tidak dapat di tebak, sering kali berubah-ubah, baru saja sikapnya ketus tidak lama kemudian bisa bersiksp manis kembali itu yang dirasakan Marissa. Ia sudah mengerti dan lebih banyak mengalah kepada Rey, semua itu dilakukannya karena ia sangat mencintai kekasihnya itu.
Setelah menganggukan kepalanya, Silvi kembali ke kamarnya, ia ingin memeriksa baby Al dan El yang sedang tidur.
" Kalian ngobrol dulu ya. Kakak mau lihat Al dan El." Silvi beranjak dari tempatnya duduk, ia tidak akan tenang bila Al dan El tidak dilihatnya.
Sementara Alina memilih untuk menyelesaikan beberapa tugas dari dosen, ia sedang berkutat dengan laptopnya. Ia harus bisa mempergunakan waktu sebaik mungkin agar antara tugas sekolah dan pekerjaannya di rumah tidak keteteran.
Bunyi jam yang berdentang mengingatkan Alina bila waktu sudah semakin sore, asisten rumah tangga yang bekerja di rumah Silvi sudah pulang, Alina menjeda sebentar pekerjaannya, ia bangkit dari duduknya, keluar dari kamar untuk mengambil minuman dingin.
" Alina. Kau sudah makan ?" Suara Silvi yang sedang menggendong El berada dibelakangnya.
" Sudah, tan. O ya. Al dimana, tan ? Belum bangun ?" Alina balik bertanya.
" Ada, tuh. Sedang main bersama Rey." Jawab Silvi menunjuk Rey dan Al yang sedang bermain kuda-kudaan.Sedangkan El ada di gendongan Silvi.
Silvi mengajak Alina bergabung di ruang keluarga ikut bermain dengan bayi Al dan El.
Setelah mengantar Marissa pulang, Rey kembali lagi ke tempat Silvi, pulangnya ia tidak lupa membeli pampers untuk kebutuhan Al dan El.
__ADS_1
Entah mengapa sejak melihat Alina diganggu beberapa pria, hatinya tidak terima. Itulah sebabnya Rey membawa Alina bersamanya .Mars pecinta wanita, jangan sampai Alina menyukainya, karena ia tahu sepak terjang Mars dengan wanita-wanitanya.
Entah itu perasaan suka atau tidak perasaan Rey tidak rela Alina bersama orang lain