
Malam itu Roi sengaja membawa Silvi menginap di apartemennya, alasannya tak lain dan tak bukan agar malam pertamanya tidak terganggu dengan keluarga dan sanak saudaranya, dikarenakan keluarga Chan dan keluarga Sinaga masih banyak yang belum pulang ke kotanya masing-masing.
" Kenapa harus disini sih ? Keluarga kita semuanya di rumah mami kan ?" Setelah menikah Silvi memanggil Nita dengan panggilan mami.
Roi yang baru saja membuka jasnya langsung mendekat dan memeluk pinggang Silvi.
" Hmm..Roi. Apa kau sudah..."
Belum selesai Silvi berbicara mulutnya sudah di bungkam oleh ciuman Roi. Dengan lembut dan penuh cinta Roi mencium istrinya.
Setelah beberapa detik kemudian, Silvi mendorong tubuh Roi yang membuat Roi mundur beberapa langka ke belakang.
" Why ? Ada yang salah." tanya Roi heran melihat sikap istrinya.
" Aku kepanasan, Lihat ! Kebaya dan sarung ini membuatku sesak. Ditambah lagi kau menciumku seperti orang...orang...." Silvi ragu melanjutkan kalimatnya.
" Orang apa ?" Roi berjalan mendekati istrinya itu. Ditariknya kembali pinggang ramping Silvi dan kemudian memeluknya.
" Roi..."
Sepertinya Roi sudah tak tahan untuk mencium kembali bibir berwarna merah itu.
" Sayang..." ucap Roi sambil terus mencium bibir Silvi dengan rakus.
" Aku ganti pakaian dulu, rasanya gerah dan lengket Roi." Silvi berusaha menghentikan Roi
__ADS_1
"Hmm...Baiklah ! Cepat tukar bajumu. Aku mandi dulu." Roi mengelus punggung Silvi kemudian beranjak untuk mandi.
*Argh...syukurlah dia tidak melakukannya, apa dia tidak tahu kalau badanku seperti mau remuk saja. Aku baru tahu kalau pesta pernikahan dan adat suku batak begitu rumit dan melelahkan. Kenapa sih mami dan mama masih mengikutin adat yang seperti itu. Ugh...belum lagi Roi yang langsung menginginkan malam pertama. OH God...berilah anakMu ini kekuatan.
" Sayang... Katanya mau tukar baju, kenapa malah duduk bengong gitu." Roi berdiri dihadapan Silvi dan menatap heran istrinya itu*.
" Kau sudah selesai ? Roi aku sangat lelah." ucap Silvi berpura-pura, yang diinginkannya agar suaminya tidak melakukannya malam ini.
Roi tampak kuatir melihat istrinya lemas pertanda kelelahan.
" Oh...maafkan aku." Roi duduk di tepi ranjang berdampingan dengan Silvi.
" Istirahatlah ! Sini aku bantu membukakan kebaya dan sarung songket ini." Roi bermaksud membuka kancing demi kancing yang berjejer di kebaya Silvi.
" Biar aku saja. Bisa tolong siapkan air hangat untukku ? Aku ingin berendam sebentar agar pegal seluruh tubuhku berkurang." ucap Silvi tersenyum.
" Roi ! Hati-hati ! Awas aku jatuh." umpat Silvi karena tidak siap di angkat Roi ala bridal style.
" Berapa berat badanmu? Kurasa kau harus banyak makan, aku tidak mau istriku kurus seperti kau sekarang."
" Kurus apanya ? segini itu proposional ?"
" Aku mau kau lebih berisi." goda Roi sambil mengedipkan matanya
" Dasar mesum." cibir Silvi kemudianmencubit pinggang Roi
__ADS_1
Lega, itulah yang dirasakan Silvi. Setelah berendam hampir satu jam, rasa pegalnya mulai hilang. Kini badannya mulai segar kembali.
Silvi melihat Roi sedang duduk di balkon. Ia mendekati suaminya.
" Sudah selesai ?" tanya Roi menatap Silvi berdiri disampingnya.
" Lihat ! " Roi menunjuk langit yang berhiaskan bintang-bintang kecil.
" Hmm...sangat indah." Silvi menengadah ke langit.
" Ada satu bintang yang lebih mencolok sinarnya." Roi memeluk Silvi dari belakang, meletakkan kepalanya di curuk leher Silvi, sesekali ia mengecup pipi istrinya.
" Kau adalah bintang di hatiku, meski banyak wanita lebih cantik berada di depanku, aku tak akan tergoda, kau seperti bintang yang satu itu, lebih dari yang lain." ucap Roi sambil terus mengecup pipi putih milikvSilvi.
" Kau semakin pintar menggodaku, sayang"
" Hanya kau cintaku, sayang meski aku bukan pria yang romantis, meskipun pertemuan kita tidak seindah cerita Romeo dan Juliet, ketahuilah aku sangat mencintaimu."
Silvi menatap suaminya itu. Mengelus pipinya dan tersenyum.
" Maafkan aku ! Awalnya aku terlalu kasar padamu. Sekarang aku juga mau mengatakan kalau Aku sangat mencintaimu." Silvi mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Roi perlahan.
" I Love You." ucapnya kemudian.
Roi tersenyum dan mencium kembali bibir istrinya yang begitu menggoda. Mereka saling berlomba menyesap, meluapkan rasa cinta yang selama ini dirasakan. Roi mendekap erat istrinya itu lebih erat lagi.
__ADS_1
Keduanya larut dalam gelombang asmara yang begitu indah, bintang -bintang dilangit serta sinar bulan malam itu sebagai saksi percintaan mereka.
My Endless loveđź’—