
Marissa meratapi nasibnya ke depan, miris...dirinya kini terpuruk dalam kekecewaan, penolakkan seorang Bima terhadap dirinya membuat ia berjanji atas dirinya dan anak yang dikandungnya harus kuat, tidak bisa lemah, mengalah pada keadaan berarti gagal.
" Aku akan tetap menjagamu sayang. Meskipun ayahmu jelas-jelas menolak kita." Marissa mengelus pelan perutnya.
Marissa harus kuat, ia harus bangkit, dan ia harus bisa melewati masa-masa sulit ini.
" Nona. Sebentar lagi ada meeting. Tuan Hadi bermaksud mengumumkan rencana kepindahan nona ke Singapura." Bobi menyapa Marissa. Bobi mengetahui nonanya itu dalam kebimbangan.
" Aku akan segera kesana." Marissa menjawab Bobi dengan tidak bersemangat.
" Baiklah ! Tuan menunggu nona." Bobi berbalik ingin meninggalkan Marissa.
" Bobi. Hmm. Apakah kau tidak bertemu dengan Bima. Maksudku....apakah ia tidak berusaha ingin bertemu denganku ?" Marissa masih berharap Bima menyadari kekeliruannya dan memutuskan untuk mencarinya.
"Maafkan aku nona. Keputusan nona sudah tepat. Jangan harapkan lagi bajingan itu." Bobi geram mendengar nonanya menyebut nama Bima.
__ADS_1
Marissa hanya menganggukan kepalanya pelan, memang ia terlalu bodoh mengharapkan Bima. Penolakan Bima sudah jelas menunjukkan ia dan bayinya tidak diterima.
Sementara Hadi dan beberapa kepala bagian di perusahaannya sudah berkumpul di ruang rapat. Mereka menunggu putri pemilik perusahaan itu hadir di ruang rapat.
Sesekali Hadi menarik nafasnya. Ia tahu tidak mudah bagi putrinya itu untuk menghadapi masalah yang terjadi pada dirinya.
" Selamat siang semua." Marissa menyapa semua orang yang sudah hadir di ruang rapat. Bobi mengikutinya dari belakang.
Marissa mengambil tempat duduk yang sudah disiapkan baginya, ia duduk berdampingan dengan Bobi.
Hadi tampil ditengah-tengah rapat, ia menjelaskan panjang lebar tentang perusahaannya di Singapura dan akhirnya ia memberitahu kepada semua bahwa Marissa akan diangkat jadi pemimpin untuk memimpin salah satu perusahaannya di Singapura, Marissa akan pindah dan segala tugasnya akan diserahkan kepada Bobi.
Sementara Bima sedang melamun diruangannya. Ia memikirkan tentang Marissa. Kedatangan Bobi yang memukulnya dengan tiba-tiba kemarin membuat ia berpikir kalau Marissa sangat terpukul dalam keadaannya saat ini.
Tidak sedikitpun terbersit dalam hatinya untuk menyakiti wanita itu bahkan ia ingin agar Marissa tetap tinggal bersamanya, tapi atas dasar apa ? Bima masih bimbang dengan keberadaan bayi yang dikandungnya.
__ADS_1
Tergiang di telinganya ucapan Mars yang menyumpahinya karena tidak mengakui janin yang dikandung Marissa adalah darah dagingnya.
" Ini adalah kesempatan terakhirmu. Cepat temui nona Icha. Karena ia akan meninggalkan negara ini."
Satu notifikasi dari Bobi yang masuk di ponsel Bima.
Apa ? Marissa akan meninggalkan negara ini. Apakah Bobi hanya mengertak saja atau memang betul Marissa akan meninggalkannya.
Bima bergegas keluar dari kantornya. Ia sedikit berlari seperti orang yang diburu sesuatu. Ia ingin memastikan Marissa masih berada di kantornya.
Bima membawa mobilnya dengan kencang, perasaan kawatir tiba-tiba merasuki hati dan pikirannya.
Sambil mengendarai mobilnya Bima mencari-cari alasan yang tepat bila ia ingin membatalkan keberangkatan Marissa nanti.
Sementara di ruang rapat tinggal Marissa dan Hadi, mereka sama-sama diam. Baru saja Hadi mengumumkan bahwa perusahaan yang dipimpin Marissa sudah diserahkan kepada Bobi, kini ia hanya menunggu waktu keberangkatannya esok hari.
__ADS_1
" Icha. Apa ada yang ingin kau katakan ?" Hadi melihat putrinya itu tidak seperti biasanya, Marissa yang cuek, Marissa yang tidak peduli, dan Marissa yang semaunya, kini putrinya itu lebih banyak diam seperti memendam sesuatu.
Bersambung