
"Masuklah!" Bima mempersilahkan Marissa masuk ke apartemennya.
Marissa memandang setiap sudut ruangan di apartemen Bima, semua peralatan dan perabotan tertata rapi, bersih dan ruangannya juga wangi.
Ruang tamu dipenuhi dengan buku-buku tebal yang tersusun rapi. Sejenak ia terbayang dengan apartemen tempat ia tinggal, berantakkan. Marissa menggelengkan kepalanya, ia malu bila mengingat keberadaannya sebagai wanita yang amburadul dan semau gue.
"Hanya ada satu kamar tidur, disana." Bima menunjukkan satu ruangan yang tidak begitu besar kepada Marissa.
"A..aku..tidur dimana?" Dengan ragu Marissa bertanya kepada Bima.
"Jauhkan pikiran kotormu ! Kalau kau tidak menggodaku malam itu kita tidak perlu seperti ini." Bima berjalan menuju kamarnya.
Marissa menelan salivanya, ucapan Bima ada benarnya bila malam itu pikirannya waras dan tidak menggoda Bima urusannya tidak akan sepanjang ini.
"Melamun." Bima menjentikkan tangannya di kening Marissa.
Marissa terkejut bercampur malu. Bima menatapnya, Marissa menundukkan kepalanya wajahnya terasa panas.
Arghh...sebenarnya ia cantik, Alina lembut, ramah dan kalem, kalau ia berantakan, cerewet dan seenaknya, tetapi mengapa akhir-akhir ini aku tidak senang bila ia bersama dengan pria lain.
"Kau mau makan sesuatu ?"
"Tidak. Aku mau istirahat."
"Istirahatlah. Aku masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan." Bima mengambil laptopnya kemudian membawanya ke sofa, ia ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda siang tadi.
Marissa kelihatan bingung, ia hendak berbicara memberitahukan kepada Bima kalau ia tidak mungkin tidur dengan pakaian yang dipakainya. Marissa melirik Bima yang sedang serius didepan laptopnya. Marissa memilih diam, ia pergi ke toilet untuk membersihkan wajah dan menggosok giginya.
Akh...semua barang-barangnya tertata rapi, singguh ia pria idaman. Marissa tersenyum sendiri dihadapan cermin membayangkan sosok Bima. Bima memang pria teratur dan pembersih.
__ADS_1
"Aku tidak punya baju wanita disini. Ambil saja pakaianku di lemari untuk kau pakai tidur. Besok aku membelikan..." Seperti memahami jalan pikiran Marissa, Bima menawarkan pakaiannya untuk dipakai Marissa.
"Tidak perlu, Bobi akan menjemputku besok. Aku hanya malam ini saja tidur di sini." potong Marissa.
Bima menatap Marissa dengan tajam.
" Kau lupa kesepakatan damai kita ?"
" Apa kata orang kita tinggal satu atap tanpa ikatan. Aku menjaga privasimu." balas Marissa
Bima menutup laptopnya dan berjalan menghampiri Marissa.
"Kau harus tinggal di sini. Satu lagi aku tidak mau melihatmu bersama dengan asistenmu itu lagi."
" Tapi...dia bekerja untukku. Dan..."
Bima sudah tidak ingin lagi mendengar ocehan bibir Marissa.
Ia menarik pinggang Marissa hingga tubuhnya jatuh di dada bidang Bima kemudian ia menempelkan bibirnya di bibir merah Marissa. Ia mencium dengan lembut bibir kenyal itu.
Marissa terpaku, ia hanya bisa diam mendapat serangan dari Bima yang tiba-tiba.
"Sekarang istirahatlah." Bima melepaskan tautan bibir mereka.
" Jangan bicara lagi." ucapnya menatap bola mata Marissa.
Bima mengambil satu buah kaos dan celana pendeknya dari lemari untuk diberikan pada Marissa.
" Tukar pakaianmu agar tidurmu lebih nyaman."
__ADS_1
Marissa masih diam, angannya masih memikirkan dan menikmati apa yang dilakukan Bima barusan.
" Ada apa? Apa kau akan terus berdiri di situ ?" Marissa terkejut dan langsung mengambil pakaian yang diberikan Bima tadi. Ia bergegas mengganti pakaisnnya di toilet.
Dia tidak seliar malam itu, cantik... ya...ia sangat cantik bila gugup seperti tadi.
" Hmm. Bi..bima." Marissa menyapa Bima yang sudah duduk kembali di sofa.
" Tidurlah ! Aku tidur di sini nanti." Bima menepuk sofa yang sedang di dudukinya memberitahu Marissa bahwa ia akan tidur disitu nanti.
" A...a...aku.." Bima menghernyitkan dahinya.
" Ada apa ?" Bima mendekat kepada Marissa ia kawatir sesuatu terjadi pada Marissa.
" Boleh aku...." Bima menunggu Marissa menyelesaikan kalimatnya.
Marissa mendekat kepada Bima kemudian ia menaikkan tubuhnya dengan cara sedikit berjinjit di hadapan Bima dan ia mengecup bibir Bima dengan pelan.
" Selamat malam." Marissa beranjak ke tempat tidur. Sebenarnya ia malu melakukannya tapi entah kenapa nalurinya berkata lain.
Bima tersenyum samar, perasaannya seperti melayang, *apakah ini tandanya cinta ?.
bersambung.
* Hai...hai...hello
aku mau menyapa semua yang sudah membaca novelku ini.
bagaimana ? mudah-mudahan kalian terhibur ya...dan tak bosan-bosannya aku meminta.
__ADS_1
kasih like, vote dan komenya ya...
😀😀🙏🏻*