
Sementara di sudut ruangan lain Robert, Mary, dan David mendengar pertengkaran mereka.
" Sepertinya Silvi sedang cemburu ma." Robert berbisik ke telinga istrinya.
Mary hanya menganggukkan kepalanya, sekarang ia mengerti duduk permasalahannya. Bukan tak saling cinta, tetapi keduanya belum bisa mengungkapkannya guman Mary dalam hati.
" Ma, Pa, kalau begini terus , bagaimana mereka bisa menikah ? " David ikut nimbrung bisik-bisik dengan kedua orang tuanya.
" Sepertinya mamamu ini perlu turun tangan membereskan masalah ini." Ucap Mary dengan percaya diri.
" Argh...mama, biarkan saja mereka dulu, biar mereka bisa mengeluarkan uneg-unegnya." menarik tangan Mary yang mau mendekati Silvi dan Roi.
Robert mengiakan ucapan anaknya sambil menggelengkan kepalanya kepada Mary. Agar Mary tidak mengganggu Roi dan Silvi.
" Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Kau bahkan merusak hubunganku dengan Edi, sekarang kau dengan perempuan genit itu, apa kau sudah puas menyakitiku? " suara Silvi sambil menangis
" Silvi. Kau salah paham. Aku..."
" Tidak perlu menjelaskan apapun padaku, toh hubungan kita hanya karena perjodohan, Ntah apa yang terjadi setelah pernikahan nanti." Silvi menghapus air mata yang jatuh di pipinya.
" Sekarang katakan apa keinginanmu ? Aku akan membicarakannya kepada orang tua kita."
" Kita jalan masing-masing dan jangan mengurus urusanku begitupun aku."
__ADS_1
" Baiklah. Aku setuju.Setelah papih dan mamih pulang aku akan membicarakan hubungan kita." Roi pergi meninggalkan Silvi, Ia merasa kecewa dan sakit hati atas keinginan Silvi.
" Dan besok aku tidak akan bekerja lagi." ucap Silvi kepada Roi, sebelum Roi hilang di balik pintu.
Roi hanya berhenti sebentar mendengar ucapan Silvi, kemudian ia kembali melangkahkan kakinya tanpa menoleh kepada Silvi.
Silvi berlari ke kamar yang sudah disiapkan Mary untuknya.
"Opung..." Silvi berlari merangkul Mary yang berdiri di pintu kamarnya.
" Sayang, tenangkan hatimu, jangan menangis lagi, Istirahatlah !"Mary mengusap-usap punggung cucunya itu.
👀👀👀👀
Roi memarkirkan mobilnya, malam ini ia kembali ke apartemennya.
Diletakkannya kunci mobil diatas nakas.
Bruukkk..ia memukul meja kayu di depannya.
Ia telah keabisan akal menghadapi Silvi.
Ingin sebenarnya ia mundur dari semua permasalahan ini.
__ADS_1
Tapi...hatinya berkata lain, Ia tidak rela bila Silvi meninggalkannya.
Direbahkannya kepalanya di sofa, matanya memandang kosong jauh ke langit-langit rumah.
Tret...tret....Ponsel di sakunya berbunyi.
" Mamih." suara itu lemah, tidak ada gairah di sana.
" Ada apa denganmu Roi ? Kenapa? Kau sakit sayang ?" bertubi-tubi pertanyaan Nita kepada Roi.
" Aku sedang tidak baik mih."
" Roi ! Dengarkan mamih, kau bertengkar lagi dengan Silvi."
" Dia tidak menginginkan aku, kami sepakat tidak akan menikah."
" Diam kau Roi ! Biar mamih yang mengatur semuanya."
" Kenapa sih mamih nga mau mengerti, kami tidak saling cinta, kami tidak mungkin menikah mih."
" Simpan saja omong kosongmu itu, bila kau tidak mencintainya, mana mungkin kau seperti ini sekarang.Sudahlah! Besok mamih akan pulang, mamih akan mengurus semuanya."
Roi meletakkan ponselnya tidak bersemangat.
__ADS_1
Dia memikirkan apa lagi yang akan dilakukan mamihnya, sebenarnya ia tak tega melihat raut kecewa di wajah Nita, itu tak mungkin, Roi sangat menyayangi mamihnya itu, bila pernikahannya dengan Silvi gagal, Roi dapat memastikan orang yang paling tersakiti adalah mamihnya. Nita berusaha terus agar dirinya dan Silvi dapat menikah.
Arghhh...Roi berteriak dan menarik rambutnya dengan kedua tangannya.