
" Kalian berpacaran ?" Silvi bertanya kepada Togar dan Indah yang baru saja tertangkap basah sedang berciuman. Silvi tidak pernah tahu kalau adiknya dengan Togar punya hubungan khusus.
Dengan malu-malu dan wajah merah merona Indah mendekati kakaknya, pertanyaan Silvi membuat keduanya salah tingkah.
" Kak...aku dan..."
" Ya ! Aku dan Indah saling mencintai !" ucapan Indah langsung dipotong oleh Togar. Ia merasa harus bertanggung jawab atas perbuatan yang mereka lakukan barusan.
Roi yang menonton televisi sambil rebahan tersenyum merasa lucu mendengar pertanyaan sang istri kepada Togar dan Indah.
Flash back
Sebenarnya tadi Silvi meminta Roi untuk membelikannya martabak telur, akhir-akhir ini ia sangat suka mengemil di malam hari, tetapi dengan alasan ingin berdua dengan istrinya, Roi meminta Silvi delivery saja.
" Sayang, Kau pesan saja ! Aku malas keluar. " Roi membujuk istrinya yang merengek-rengek minta dibelikan martabak telur.
" Tapi aku tidak suka kalau martabaknya sudah dingin, kemarin saja pesan roti bakar datangnya lama dan sudah dingin pula." jawab Silvi menarik-narik tangan Roi agar bangkit dari tidurnya.
" Gini saja ! Aku minta Togar saja yang beli, ya." Roi mengambil ponselnya dan mengirimnya pesan agar Togar membelikan martabak untuk Silvi.
Pesan masuk ! Lima menit, sepuluh menit, dan lima belas menit pesan belum juga dibalas Togar.
"Ada apa ?" Silvi melihat Roi berbicara sendiri hanya tidak jelas di dengar apa yang diucapkan Roi
__ADS_1
" Kemana perginya Togar ? Bukankah ia bersama Indah tadi ?" Roi menatap kesal ponselnya, panggilan yang ditujukan kepada Togar tidak diangkat-angkat.
" Tunggu ! Bukankah mereka ada di depan?" Silvi beranjak turun dari sofa, kemudian mencari Togar, tadi Silvi sempat melihat Indah membawakannya kopi.
Alangkah terkejutnya Silvi melihat Togar dan Indah sedang duduk berdua di teras depan mereka sedang berciuman.
Hmm..mendengar ada suara disekitar mereka, Togar dan Indah buru-buru saling menjauh. Dengan wajah heran Silvi bertanya apakah Togar dan Indah pacaran.
Flash off
Roi menemui tiga orang yang sedang saling menatap di teras rumah.
" Ada apa ini ? " Roi pura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ia merangkul Pinggang Silvi yang masih menatap heran Togar dan Indah.
" Why ? Ada yang salah dengan hubungan mereka ?" ucap Roi, kini tangannya mengelus lembut punggung istrinya.
" Aku tidak keberatan. Mereka serasi, kok." Togar mengedipkan matanya kepada Indah. Dengan memberi isyarat melalui tangan, Indah membentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya memuji sikap Roi yang berada di pihaknya.
" Ya sudahlah." Silvi masuk kembali ke dalam.
" Tolong belikan martabak untuk Silvi." Roi melemparkan kunci mobilnya yang dengan sigap ditangkap Togar.
"Kalian boleh pergi bersama." Ucap Roi tersenyum kepada adik iparnya.
__ADS_1
Indah bersorak kegirangan, mengikuti langkah Togar yang sudah berjalan di depan digenggamnya tangan Togar setelah mereka berjalan saling beriringan. Togar tersenyum dan mengacak poni kekasihnya dengan gemes.
Sementara Silvi sudah kembali duduk di depan televisi, Roi menyusulnya. Sekarang mereka duduk berdampingan sambil melihat siaran televisi.
" Kau sudah mengetahuinya ?" tanya Silvi sambil mengunyah keripik kentang di mulutnya.
" Hmm. Sewaktu di Medan dulu."
" Apa ? Sudah lama dong mereka jadian." mulut Silvi berhenti mengunyah sebentar, dahinya berkerut seakan-akan mencoba menghitung sudah berapa lama adiknya dengan Togar jadian.
" Tidak usah ragu, aku kenal siapa Togar. Dia tidak akan mungkin melakukan hal-hal diluar batasan." Roi mendekati istrinya, menarik pinggulnya hingga jarak mereka begitu dekat.
" Aku mau kau malam ini, sayang. Sudah lama kita tidak melakukannya." suara Roi memohon ditelinga Silvi, mengecup pucuk kepala Silvi kemudian turun memberikan gigitan di telinganya, aroma tubuh yang sangat disukai Roi dari sang istri menyeruak dihidungnya membuat keinginannya untuk bercinta semskin menjadi- jadi
Tidak dapat berdusta Silvi juga sangat menginginkan sentuhan-sentuhan Roi, mendekat dengan sukarela agar dijamah lebih oleh suaminya, ia memulai memberikan ciuman di bibir Roi, tidak mau tinggal diam Roi melakukan aksinya membalas ciuman sang istri, dengan posisi masih sama-sama duduk mereka saling menyesap.
" Sayang. Aku ingin melihat baby kita disini." deru nafas Roi semakin cepat tepat di depan wajah Silvi.
Silvi menganggukan kepalanya membiarkan Roi bermain di daerah dadanya, erangan-erangan kecil memenuhi ruangan itu. Televisi yang menyala di depan mereka sudah tidak dihiraukan lagi.
Hampir setengah jam mereka melalang buana, Roi sengaja bermain cepat mengingat kondisi Siivi yang sedang mengandung. Kegiatan panas mereka berakhir tepat setelah Togar dan Indah pulang dengan bungkusan martabak ditangan Indah.
bersambung
__ADS_1