
Persiapan pesta sudah seratus persen. Tinggal beberapa jam lagi Rey dan Alina akan mengucapkan janji sehidup dan semati.
Kediaman Leo dan Karissa sudah dipenuhi oleh sanak saudara, sebagian besar datang dari luar kota. Morin dan Nita terlihat sibuk mengurus pesta pernikahan Rey dan Alina.
Adat batak sangat kental dalam pesta Rey dan Alina. Ketika Togar dan Indah menikah mereka juga meakukan ritual seperti yang dilakukan dalam pesta pernikahan Rey. Pasangan Roi dan Silvi juga sama.
Subuh jam enam pagi, Alina sudah ditangani oleh seorang ahli kecantikkan yang profesional. Dandanannya akan di serasikan dengan baju pengantin bernuansa adat batak nantinya.
Sedangkan dikediaman Leo dan Karissa juga aktivitasnya hampir sama, beberapa ahli kecantikkan di datangkan untuk mendandani semua keluarga.
Rey tampak sangat serasi dengan stelan jas hitamnya, kulit yang putih bersih menambah kharisma pada dirinya, ditambah lagi dengan postur tubuh tinggi dan berisi membuat kegagahannya begitu tampak.
Pukul sepuluh waktu setempat akan dimulai prosesi pernikahan di gereja, Alina diantar oleh Radit dengan beberapa orang sahabatnya ke tempat kediaman Leo karena pengantin pria berada disana.
"Sayang, You look so beatiful." Rey begitu memuja calon istrinya itu karena tampak sangat cantik.
Alina hanya tersenyum menanggapi ucapan Rey, diambilnya tangan Rey kemudian di genggamnya, Alina merasa gugup sesungguhnya ia sangat asing dengan adat istiadat suku batak.
"Kenapa tanganmu begitu dingin?" Rey mengusap-usap jemari tangan Alina.
" Aku gugup."
Rey merangkul Alina dengan tangan kanannya.
__ADS_1
" Hampir semua pasangan pengantin seperti itu. Wajar kok." Rey menghibur Alina.
"Ingin rasanya aku cicipi bibir merahmu itu." Rey melihat lipstik di bibir Alina yang warnanya merah menyala.
"Jangan macam-macam Rey, nanti make up ku berantakan." tegas Alina pada Rey.
***
Pertemuan Hadi, Marissa dan Bima pun akhirnya terjadi. Bobi mengatur semua hingga acara pertemuan Hadi dengan calon menantunya bisa berjalan lancar.
" Pesan yang kalian mau." rupanya Bobi sengaja tidak memesan makanan, ia ingin agar ada komunikasi antara tiga orang yang sedang bersiteru.
Marissa mengambil buku menu yang baru saja diletakkan Hadi di meja.
" No. Kau harus makan dulu. Kamu sedang mengandung, baby kita pasti ingin makan nasi." Bima memesankan nasi beserta lauk pauknya untuk Marissa.
Marissa menelan salivanya, Bima sangat berani bersikap seperti itu di depan papanya.
"Hm. Apa kalian sudah memesan makanannya?" suara deheman Hadi membuat Marissa tertunduk .
"Sudah pa." Bima menjawab dengan senyum dibibirnya.
Hadi mengeryitkan dahinya mendengar Bima menyebutnya Pa.
__ADS_1
Hadi menggelengkan kepalanya, ia berusaha bersikap tegas dihadapan Bima.
"Hm. Mari makan dulu!"
Melihat sikap tuan Hadi, Bobi yang duduk terpisah dan tidak jauh dari tempat duduk ketiga orang yang sedang saling bersitegang itu tersenyum samar, ada perubahan sikap Hadi, sekarang tampak lebih tenang dan sabar.
Marissa merasa canggung melihat sikap ayahnya dan Bima yang terlihat kaku.
Selesai makan mereka mulai berbicara.
"Pa. Bima mau bicara." Marissa memberitahu papanya.
"Hm. Mau bicara apa?" Hadi menoleh kepada Bima.
"Pa. Saya serius mau menikah dengan Marissa. Tolong restui kami, pa." dengan percaya diri Bima memohon kepada Hadi.
Lama Hadi baru menjawab pernyataan Bima.
"Apa aku bisa mempercayaimu? Kau tidak akan menyakiti putriku lagi nantinya?"
"Pa. Aku berjanji akan menyayanginya seumur hidupku." keseriusan Bima melunturkan ketakutan Hadi akan perlakuan Bima kelak bila putrinya sudah menikah dengannya nanti.
bersambung
__ADS_1