Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
mari kita berpisah


__ADS_3

Setelah menyelesaikan segala urusan yang berhubungan dengan perusahaan Rey dan Alina akhirnya akan pulang ke Medan.


Roi dan Silvi bahagia melepas kepulangan adiknya, masalah antara Alina dan Bima juga dengan Arnold sudah mendapat titik terang, semuanya dapat terselesaikan sesuai keinginan mereka. Roi juga sudah menyelesaikan pekerjaannya yang berhubungan dengan perusahaan dan PEH. Ia telah menunjuk beberapa orang yang berkompeten untuk melanjutkan dan mengurus perusahaannya.


" Sayang, besok kita akan pulang ke Medan. Apa kau sudah mempersiapkan semuanya." Rey dan Alina sedang duduk di depan televisi, mereka menikmati waktu bersantai setelah beberapa hari mereka disibukkan urusan Rey dengan perusahaannya.


" Hmm. Semuanya sudah beres." Alina mengangguk sambil memasukkan keripik kentang ke mulutnya, matanya sedang asyik menonton drama korea di salah satu chanel televisi.


Rey memeluk kekasihnya itu dari samping. Sekarang lega rasanya, persoalan satu-satu sudah terselesaikan. Rey berencana akan secepatnya meminta Alena kepada papanya agar mereka secara resmi membentuk satu keluarga yang sah secara agama dan negara.


***


" Tolong ijinkan aku masuk. Aku ingin bertemu dengan Marissa." Bima berteriak memanggil-manggil nama Marissa, sementara para pengawal Hadi terus menghalanginya untuk masuk menemui putri boss mereka.


" Jangan buat keributan di sini. Tinggalkan tempat ini sekarang."


Bobi yang sedang berjalan menuju ruangannya mendengar suara ribut-ribut dari luar. Beberapa karyawan berbisik-bisik melihat Bima meneriaki nama pemimpin perusahaan dimana mereka bekerja.

__ADS_1


Bobi penasaran dan ia berjalan keluar jngin memastikan apa yang terjadi di halaman perusahaan.


" Bobi. Tolong katakan pada Marissa, aku ingin menemuinya." teriak Bima ketika Bobi menunjukkan dirinya di hadapan Bima dan para pengawal tuan Hadi yang bersitegang.


Bobi menatap Bima dengan wajah dingin, sesekali ia menarik nafasnya, meruntuki kebodohan Bima yang jelas-jelas menolak nonanya dihadapan tuan Hadi.


Bobi tidak membalas ucapan Bima, ia mengambil ponselnya dari saku celana, kemudian ia mengambil foto Bima, kemudian mengirimkannya kepada Marissa, tidak lupa ia menuliskan beberapa kalimat di sana.


Dia ingin bertemu dengan nona, bagaimana ?


Dengan cepat ia beranjak dari tempat duduknya, seperti orang yang terburu-buru ia berjalan dengan cepat.


" Ada apa dengan dia ? Pergi begitu saja." monolog Hadi dalam hatinya.


Marissa sudah tiba di mana Bima berada. Ia menatap Bima.


" Ada apa lagi kau kesini ?" Marissa bertanya dengan ketus.

__ADS_1


Melihat situasi yang kurang kondusif Bobi memerintahkan agar para pengawal yang menghalangi Bima segera pergi.


Bobi ikut pergi bersamaan dengan pengawal, ia memberikan ruang kepada Bima dan Marissa agar bisa membicarakan masalah mereka.


" Kau mau meninggalkan aku ?" selangkah demi selangkah Bima berjalan mendekat kepada Marissa.


" Hmm. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Bukankah kau sudah menolakku? dan ini yang kesekian kalinya. Ku kira memang tidak ada cinta untukku, terlalu naif aku berharap, terlalu tinggi anganku tentang kita. Kenyataannya memang kita harus berpisah. Aku akan melanjutkan hidupku. Jadi, mari kita berpisah." dengan suara yang terdengar gemetar Marissa meluapkan semua isi hatinya.


" Apa yang kau ucapkan. Aku tidak ingin kita berpisah. Bukankah kau sudah berjanji padaku?" Bima memegang kedua lengan Marissa.


Marissa menundukkan kepalanya, ia menyesali setiap kebodohannya yang berharap pada cinta Bima.


" Aku akan pergi. Semuanya sudah selesai." ucap Marissa. Ia tidak tahan lagi untuk tidak menangis di hadapan Bima.


😰😰😰


bersambung

__ADS_1


__ADS_2