Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Maaf


__ADS_3

Jenni selalu memperhatikan Rey, seperti pagi ini ia membawa beberapa makanan untuk memulihkan kondisi Rey yang mabuk berat tadi malam.


"Aku membawa makanan untukmu." Jean meletakkan tempat bekal yang dibawanya di meja. Hari ini Jean memasakkan sup kacang merah untuk Rey, Jean seorang dokter jadi ia mengetahui harus bagaimana menangani orang yang habis minum alkohol dan menjadi mabuk.


"Aku sedang tidak berselera makan. Terima kasih untuk perhatianmu, Jean. Maaf, aku sedang ingin sendiri. Bisakah kau meninggalkanku, Jean?" Rey meminta Jean meninggalkannya karena Rey tidak mau memberikan harapan palsu kepada Jean yang sudah sangat baik kepadanya.


"Makan dulu sedikit saja. Setelah itu aku akan meninggalkanmu." Jean sudah menyiapkan sup di sebuah mangkok kemudian ia berjalan menghampiri Rey.


"Ini !"


Rey menatap sup yang diletakkan Jean di hadapannya sedikitpun tidak ada keinginannya untuk mencicipi makanan itu.


"Maafkan aku, Jean. Aku sedang tidak berselera makan." Rey menatap Jean yang berdiri di sampingnya menunggu Rey memakan sup yang sudah disiapkan.

__ADS_1


Begitu dalam rasa kecewa di hati Jean melihat Rey tidak menyentuh makanannya, padahal Jean bela-belain bangun subuh untuk memasaknya.


"Baiklah. Kalau kamu tidak suka buang saja. Aku permisi dulu karena pagi ini aku berdinas." Jean menyambar tasnya kemudian meninggalkan Rey.


Tidak dapat menahan kekecewaannya Jean melampiaskannya dengan menangis di mobilnya. Sedangkan Rey masih duduk diam ia tahu kalau Jean sedang marah, ia telah menyakiti hati sahabatnya itu.


Tomas yang berada tidak jauh dari ruangan Rey mengetahui apa yang sedang terjadi dengan bossnya di dalam sana. Tadi ia juga melihat Jean meninggalkan ruangan Rey dengan langkah tergesa-gesa, timbul rasa iba di hati Tomas. Ia tahu dokter cantik itu menyukai Rey, tetapi apalah daya hati Rey sudah dipenuhi sosok Alina.


Bima membuka matanya perlahan, sinar lampu yang terang di dalam kamar itu membuat pandangannya silau. Setelah kesadarannya mulai menyatu ia mulai bergerak-gerak karena seluruh badannya terasa pegal.


Bima menatap wajah wanita yang sedang tidur disampingnya, ia tidak terkejut meskipun pergulatan tadi malam dilakukannya dengan setengah sadar, ia mengingat semua detail kejadiannya.


Cantik ! Andai saja wanita itu Alina sudah pasti aku bahagia. Sayangnya, dia bukan Alinaku.

__ADS_1


Bima menyingkapkan selimut yang menutupi tubuhnya , ia terkejut mendapati bercak-bercak merah di sprei, ia bergegas membersihkan tubuhnya di kamar mandi kemudian ia meninggalkan Marissa yang masih terlelap dalam tidurnya.


Bima tidak terlalu memikirkan apa yang terjadi antara ia dan Marissa, mereka melakukan atas dasar sama-sama mau. Bima malah menyangka kalau Marissa sudah sering melakukannya dengan pria lain karena dari gerak-geriknya ia tahu Marissa orang yang suka bersenang-senang di club malam.


Mengenai status keperawanan Marissa, Bima tidak mengambil pusing, toh mereka berdua sudah dewasa dan mereka melakukannya sudah tentu mengerti dan siap akan resikonya, dan tidak ada dalil yang bisa menjerat Bima untuk bertanggung jawab.


Tidak berapa lama setelah Bima pergi Marissa bangun dari tidurnya.


Oh...God. Apa yang kulakukan ? Marissa melihat tubuhnya yang tidak mengenakan apa pun. Ia bangkit dari tidurnya tetapi ia merasa ada rasa sakit di bawah sana.


Marissa mencoba mengingat apa yang dilakukannya tadi malam, satu persatu bayangan ketika ia sedang di club bermunculan. Marissa sadar bahwa pergulatannya dengan pria yang bersamanya tadi malam karena kecerobohannya. Marissa yang terus menggoda Bima, sehingga malam itu mereka habiskan dengan memuaskan nafsu.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2