
Malam harinya Jean datang ke kediaman Morin, hari ini Jean bermaksud mengajak Rey makan malam berdua, sejak mereka berkomitmen untuk lebih dekat baru kali ini mereka pergi berdua, apakah ini disebut kencan, entahlah Jean sudah senang jika Rey berada di sampingnya.
"Kau sudah datang?" Rey menyapa Jean yang sedang berbincang dengan Togar dan Indah di ruang tamu.
" Ya. Baru beberapa menit yang lalu." ucap Jean dengan raut wajah bahagia.
Rey mengambil kunci mobilnya. Tampilan yang cool dan santai membuat Jean berkali-kali memuji kesempurnaan putra bungsu dari keluarga Morin tersebut.
"Ayo, kita berangkat sekarang." Rey mengajak Jean untuk berangkat. Mereka akan makan malam di sebuah resto yang sudah dipesan Jean.
Alina yang melihat kepergian Rey dan Jean dari jendela kamarnya. Ia hanya bisa menatap kemesraan pasangan itu. Hatinya terasa sakit tapi Alina harus berpegang pada kenyataan bahwa Rey tidak mungkin memilihnya.
Alina menunduk meratapi perasaannya, entah karena kesempatan yang tidak berpihak dengan dia atau karena nasib yang tidak memungkinkan Alina dicintai dan mencintai Rey.
Aku tidak apa-apa. Aku harus tahu diri. Aku harus melupakan Rey.
***
Marissa mencoba melakukan percobaan bunuh diri. Ia meminum pil tidur dalam jumlah yang banyak sehingga sampai pagi tiba Marissa tidak bangun-bangun dari tidurnya.
Bobi asistennya mencoba menelepon ke apartemen Marissa karena bossnya itu belum tiba juga di kantornya, tetapi yang mengangkat adalah asisten rumah tangga Marissa. Ia mengatakan kalau majikannya belum bangun dari tidurnya dan melihat botol kecil bekas wadah obat tidur terletak di samping tempat tidurnya.
__ADS_1
Bobi langsung mendatangi apartemen Marissa. Setiba disana ia cepat memeriksa keadaan Marissa, Bobi memeriksa denyut nadi Marissa, denyutannya lemah hingga Bobi harus melarikannya ke rumah sakit.
"Selamat, istri anda hamil. Ibu Marissa meminum obat tidur dalam jumlah yang banyak. Over dosis. Tetapi kami sudah mengatasinya. Kandungannya baik-baik saja. Tolong bapak awasi saja, mungkin beliau stress dalam pekerjaannya." Penjelasan dokter setelah memeriksa Marissa
"Baik dokter. Terima kasih." Bobi mengernyitkan keningnya, ia tidak menyangka putri bossnya itu sedang hamil.
Berbagai pertanyaan muncul di benak Bobi. Satu yang paling membuat hatinya tidak tenang bagaimana kalau tuan besar tahu putrinya dalam kondisi seperti itu.
"Bob." Marissa memanggil Bobi yang tidak menyadari kalau Marissa sudah sadar. Sedari tadi ia bemonolog sendiri dalam hatinya.
"Nona baik-baik saja?" Bobi mendekat kepada Marissa untuk memastikan ia dalam kondisi baik.
Marissa mengangguk dan tersenyum menjawab pertanyaan Bobi.
"Iya. Kau sudah tahu. Tolong jangan ceritakan kepada papa dan mama. Semua ini kesalahanku. Aku tidak dapat menjaga diri."
" Tapi...siapa yang melakukan itu ? Apa dia tidak mengetahui atau tidak mau bertanggung jawab."
"Semua salahku. Aku yang memulai. Aku tidak akan menuntut siapa-siapa."
"Nona..."
__ADS_1
" Cukup. Aku memintamu untuk tidak memberitahu kehamilanku kepada papa dan mama, itu saja selebihnya akan ku urus sendiri."
Marissa bangkit dari tidurnya. Ia bergerak untuk turun dari tempat ia berbaring. Ia merapikan bajunya.
"Ayo. Kita pulang sekarang." Marissa mengajak Bobi pulang karena memang sudah diijinkan oleh dokter.
Bobi megikuti langkah Marissa meninggalkan rumah sakit.
"Antarkan aku ke apartemenku. Aku ingin membersihkan tubuhku dulu. Setelah itu aku akan ke kantor." ucap Marissa kepada Bobi.
***
Rey dan Jean sudah berada di sebuah restoran yang mewah, rupanya Jean membooking tempat yang romantis bagi mereka. Berada di rooftop dengan latar belakang pemandangan yang indah, menu makanan khusus pun sengaja di pesankan Jean.
" Terima kasih Jean." ucap Rey kepada Jean.
"Tidak apa. Aku hanya berusaha agar kita punya momen khusus, Rey. Sepanjang hari kita sibuk bekerja. Malam ini malam pertama kita bisa duduk berdua untuk makan malam. Mudah-mudahan ke depan kita bisa lebih sering seperti ini. Aku berharap kau meluangkan waktumu."
"Jean. Maafkan aku. Aku belum bisa seperti yang kau harapkan."
" Tidak apa. Mari kita nikmati makan malamnya." Jean tahu ke arah mana omongan Rey oleh karena itu ia cepat-cepat menyela pembicaraan Rey.
__ADS_1
bersambung