Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
Rey pulang.


__ADS_3

" Apa kalian semua sudah tidak waras ? Aku sudah besar. Aku bisa menyelesaikan masalahku sendiri." Rey berteriak marah, ia tidak mau pindah ke Medan seperti perintah papanya.


Beradu tatapan dengan tiga pasang mata yang menginterogasinya, Rey kesal. Andai malam itu ia membiarksn saja Marissa mabuk di club tentu masalahnya tidak serumit ini.


" Kau harus pulang sekarang !" Silvi menegaskan perintah sang papa kepada Rey.


" Tidak."


" Rey !" spontan Togar dan Roi menyebut nama Rey bersamaan.


" Kami akan mengantarmu pulang." Roi meneruskan perkataannya. Silvi mengangguk memperkuat perkataan Rey. Tidak ada pilihan lain adiknya itu harus menghadap sang papa ke Medan.


" Bagaimana dengan kuliahku ? Kerjaku ?"


" Aku sudah mengurusnya." Togar meletakkan semua berkas kepindahaannya dari Jakarta ke Medan.


" Pekerjaanmu sudah ada yang menghandel." lanjut Togar kemudian.


Dengan pasrah akhirnya Rey mengikuti kemauan papanya, berhadapan dengan Roi dan Togar ia kalah telak, secara fisik kedua kakak iparnya itu tinggi dan besar layaknya bodyguard, secara pikiran mereka jauh lebih memahami dunia bisnis dan permasalahannya, dan satu lagi di tangan mereka urusan cepat selesai entah apa yang dilakukan mereka. Rey belum memahami trik-trik mematikan di dunia bisnis. Ia harus banyak belajar asam garam dari kedua kakak iparnya itu.


Rey mulai menyusun pakaiannya di koper, Ia tidak akan membawa semua barang-barangnya. Ia memastikan akan kembali ke apartemennya itu cepat atau lambat.


*


Sementara Marissa sedang berbicara kepada orangtuanya tentang permasalahannya dengan Rey. Marissa mengaku bahwa ia tidak pernah melakukan hal yang disangkakan Rey kepadanya. Ia juga mengutuki orang yang sudah usil melakukannya.


" Kita akan mempergunakan kesempatan ini untuk menjebak, Rey." Hadi sang ayah mulai memikirkan rencana licik.


Hadi mengambil ponselnya ia akan menelepon calon besannya itu. Ia akan bersandiwara tentang berita yang menimpa putrinya.


"Bisa kita bertemu secepatnya ?" Dengan senyum sumringah Hadi menunggu jawaban calon besannya itu.


" Nanti aku kabari. Kami sedang ada urusan keluarga." Morin tidak mau gegabah, semarah-marahnya ia pada Rey, ia akan tetap meminta penjelasan dari putranya itu. Dan sebejat-bejatnya Rey, ia adalah darah dagingnya maka ia memutuskan membicarakannya dulu dengan keluarga besar Sinaga.


Raut wajah kecewa terbersit dari raut muka Hadi. Jawaban yang didengarnya tidak sesuai dengan harapan.


" Bagaimana, Pa ? Apa orangtua Rey setuju ?" Marissa bertanya kepada papanya, ia berharap keluarga Rey setuju dengan rencana papanya.


" Tunggu saja. Mereka masih sibuk." Hadi meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, ia tahu dan coba mengerti bahwa Morin Sinaga adalah pengusaha besar dan tentu mempunyai agenda yang padat dalam pekerjaan dan keluarganya.

__ADS_1


Marissa menarik nafas berat, entah kenapa nalurinya berkata Rey akan menjauhinya dan akan meninggalkannya. Terbersit perasaan was-was di wajahnya jika rencana orangtuanya dan ia tidak berhasil.


*


Medan


Hampir tiga jam Rey dengan rombongan keluarganya berada di jet pribadi keluarga Michel. Nita memaksa mereka menggunakan pesawat pribadi saja karena Silvi membawa baby Al dan El bersama merrka. Alina diminta ikut untuk membantu Silvi mengasuh Al dan El, ia tidak keberatan karena mata kuliah yang diambilnya sudah selesai dan tugas-tugasnya sudah beres semua.


" Ayo." Roi menggapai tangan istrinya untuk meninggalkan pesawatnya. Ia melihat baby Al tidak bisa diam di gendongan istrinya. Al memang terlalu aktif.


Sedangkan El berada di pangkuan Alina. El terlihat begitu tenang, ia sedang tidur di pelukan Alina.


Rey melihat Alina kerepotan mengangkat tubuh El yang sedang tidur, berat badannya cepat sekali bertambah.


" Sini kubantu !" Rey mengangkat El dari pangkuan Alina, tidak di sengaja wajah mereka berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.


Wajah Alina memerah sikapnya yang tenang tadi berubah menjadi gugup dan salah tingkah.


Setelah mengangkat El di gedongannya, ia berbalik untuk turun dari pesawat itu. Alina mengikuti dari belakang.


Togar dan Roi sedang menyiapkan kendaraan yang baru saja datang menjemput. Dua mobil sport mewah menanti tuannya untuk dinaiki. Sebelum mereka tiba di bandara Togar sudah mengatur semua keperluan mereka dengan rapi.


Alina menatap rumah yang baru dimasukinya dengan heran Memang betullah mereka keturunan Sultan. Alina berguman dalam hatinya, matanya nanar ke kanan dan ke kiri melihat semua kemewaan yang ada dihadapannya.


" Lihat jalanmu !" Alina menabrak punggung Rey yang ada di depannya.


Alina tertunduk malu, terlahir dari keluarga yang tidak punya membuat ia takjub akan tempat tinggal keluarga tuan Michell juga keluarga Sinaga yang begitu kokoh dan mewah.


" Maaf." Alina beralih kesebelah kiri Rey agar bisa berjalan karena Rey menghalangi jalannya.


Seringai di bibir Rey tampak begitu jelas, Rey gemas dengan Alina yang polos dan apa adanya.


" Rey ! " Uli memeluk putranya dengan haru. Ia tidak sabar untuk segera tahu kondisi putranya itu.


Karena El masih di gendongnya Rey hanya bisa mengelus punggung wanita yang dikasihinya itu.


Silvi, Roi, dan Togar sudah duduk di sofa berhadapan dengan Morin yang berwajah tegas menunggu kedatangan putranya itu.


Uli mengambil El dari pangkuannya, kemudian Rey mendekat kepada papanya.

__ADS_1


" Papa." Rey mendekap erat tubuh papanya.


Morin tidak bisa menahan kerinduannya kepada putranya itu meski tempat tinggal mereka sebatas Medan -Jakarta.


Morin menepuk-nepuk punggung Rey yang masih berada di dekapannya.


Ditengah-tengah kumpulan keluarga yang berada di ruang keluarga, Togar mencari istrinya. Kemana dia ? guman Togar. Pandangannya melihat ke lantai atas di mana kamar mereka berada.


Togar menarik nafas berat, dua kali dua puluh empat jam ia tidak melihat istrinya itu, di video call juga tidak diangkat. Togar berpikir apa istrinya masih marah kepadanya.


" Indah tidur di kamar !" Uli melihat keresahan menantunya itu.


Dengan ijin kepada Morin, Togar berlari kecil menemui istrinya itu. Uli tersenyum melihat Togar yang tidak bisa menahan rindunya kepada putrinya itu.


Togar mendorong pintu kamar mereka dengan pelan, alangkah senangnya ia melihat Indah tidur dalam keadaan terlentang. Kehamilannya yang berusia dua bulan menbuatnya malas dan maunya tidur terus.


Togar Menatap wajah istrinya yang begitu tenang dan damai dalam tidurnya. Togar merapikan anak rambut yang menutupi wajah istrinya. Ia menundukkan wajahnya mendekat ke bibir istrinya itu. Togar menyesap dengan lembut bibir istrinya yang selalu membuatnya candu.


" Bangun, sayang ! Aku sudah pulang." jemarinya mengusap lembut wajah Indah yang masih tertidur pulas.


Togar mendekatkan kembali wajahnya kemudian digigitnya hidung mancung Indah dan berharap istrinya itu membuka matanya.


Betul, Indah terusik dengan rasa sakit dihidungnya, ia mengira ada semut di tempat tidurnya, sebab sering kali ia membawa makanan ke kamarnya untuk dimakan.


Alangkah senang hatinya ketika dilihatnya wajah suaminya berada begitu dekat dengannya. Tanpa menunggu langsung di kalungkannya tangannya di leher Togar kemudian menyesap bibir suaminya dengan rakus.


" I miss you." Indah mengusap kedua pipi Togar yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan itu membuatnya tambah menggila untuk melanjutkan ciumannya.


Togar tersenyum melihat kenakalan istrinya itu. Ia mengimbangi permainan Indah dengan senang hati.


" Shitt." Silvi yang berada di belakang pintu mengumpat melihat adik dan suaminya sedang saling memagut.


"Bisa nggak kalian kunci pintunya jika sedang seperti itu." Indah dan Togar terkejut tanpa aba-aba mereka saling menjauh.


" Teruskan saja. Memang kalian pasangan yang paling bucin." ucapnya tersenyum meninggalkan kamar Indah.


Sebentar Togar dan Indah saling menatap kemudian mereka tertawa bersamaan.


bersamaan

__ADS_1


__ADS_2