
" Kau menggodaku ?" ucap Togar sambil menarik tangan Indah yang ingin berjalan meninggalkannya.
" Aku hanya tidak nyaman melihat wajahmu terlalu dekat denganku." ucap Indah sambil menggelengkan kepalanya.
Togar menggelengkan kepalanya, ia tarik nafasnya kemudian membuangnya perlahan. Dipegangnya dagu Indah sambil menatap bibirnya yang sedikit terbuka.
" Kenapa ? Kau mau marah ? Aku tidak takut." ucap Indah berani meskipun wajah Togar kelihatan tidak terima atas perlakuannya barusan yang mencium Togar tiba-tiba.
Togar menelan salivanya, melihat mata bulat yang berani menantangnya, tak tahan melihat mulut Indah yang terus berbicara, ditariknya bahu Indah kemudian perlahan diciumnya bibir cerewet itu agar bisa diam.
Setelah beberapa detik Togar menyelesaikan ciumannya, ia menatap Silvi yang juga sedang menatapnya. Togar mengusap pelan bibir wanitanya itu, yang sedikit memerah akibat ulahnya barusan.
" Ayo kita pulang !"Ucapnya berbisik di depan wajah Indah.
Togar berbalik meninggalkan Indah. Ia berjalan di depan seakan tak menghiraukan Indah dibelakangnya.
Sedangkan Indah tersenyum penuh arti, ia tahu sebenarnya Togar masih mencintainya, tapi entah apa isi kepalanya sehingga memintanya untuk melupakan hubungan diantara mereka.
Argh...kau munafik guman Indah
__ADS_1
Ia mengikuti Togar yang berjalan di depannya, ia bisa melihat bentuk tubuh Togar yang atletis, postur tubuh yang tinggi dan berisi, rahang yang tegas dan wajah yang tampan.
" Argh..." Indah memegang keningnya yang terasa sakit karena membentur dada Togar
" Melamun..." Ucap Togar melihat Indah meringis sambil menggosok-gosok keningnya.
" Apa sih ? Kau yang sengaja ." tuduh Indah
Togar tertawa, ia sudah tak bisa menahan rasa geli melihat Indah meringis sambil marah. Tadi ia berpikir Indah tak akan mengikutinya, bahkan marah karena ciumannya. Bukankah kemarin ia marah karena aku cium, jangan - jangan ia marah lagi dan tak pulang, bisa -bisa aku diomelin seharian oleh kedua orang tua itu.
Togar berbalik melihat Indah, tapi tak disangka Indah berjalan terus dan tak melihat Togar berhenti di depannya.
#####
Roi sudah siap dengan stelan kerjanya, pria itu semakin tampan dengan stelan jas dan tidak lupa dasi yang warnanya serasi sehingga menambah kharisma tersendiri dalam dirinya.
" Sudah selesai." Ucap Silvi yang baru memasangkan dasi suaminya.
" Cup...cup." Roi mencium pipi kanan dan kiri Silvi sebelum istrinya itu pergi menyiapkan sarapan untuk mereka.
__ADS_1
Silvi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan sikap Roi akhir-akhir ini yang menurut Silvi berlebihan ( orang bilang terlalu bucin )
" Cepat turun, sarapan sudah disiapkan di meja makan." ucap Silvi mengelus punggung suaminya dengan lembut, kemudian ia meninggalkan suaminya yang masih bercermin menyempurnakan tampilannya.
Tret..tret...
Ponsel Roi berbunyi, ia menatap sebentar benda pipih yang bergetar itu diatas nakas, setelah selesai merapikan tampilannya, Roi menyusul istrinya untuk sarapan bersama.
" Ada apa kau telepon pagi begini ?" Roi menjawab panggilan dari Adnan yang sudah ke berapa kali.
" Hari ini kita ada pertemuan dengan dewan direksi tuan." jelas Adnan dari seberang.
" Kau pikir aku pikun. Aku segera berangkat. Mengganggu saja. " umpat Roi sambil menutup pembicaraannya dengan Adnan.
Silvi tersenyum melihat Roi yang tampak kesal.
" Pagi-pagi sudah kesal, nanti rejekinya jauh lho.." ucap Silvi, mengambil roti bakar yang diolesi dengan selai sarikaya, serta segelas susu yang kemudian diletakkan dihadapan Roi.
" Ini sarapan dulu biar kesalnya hilang." lanjut Silvi.
__ADS_1
Keinginan Roi yang ingin berlama-lama dirumah bersama-sama istri tercintanya, kadang membuat Roi lupa bahkan membatalkan pertemuan-pertemua penting di perusahaan, itulah makanya Adnan sebagai sekretarisnya selalu mengingatkan Roi.