
Marissa memutuskan pulang ke apartemennya, pikirannya sedang kacau, hatinya tidak menentu setelah bertemu dengan Bima tadi. Moodnya terbang entah kemana kalimat yang dilontarkan Bima tergiang di telinganya. Bima menuduhnya perempuan tidak benar, ia berpikiran bahwa Marissa adalah pelaku sek-s bebas.
Marissa meraba perutnya yang masih datar, disana janin Bima sedang berkembang, ia tidak memberitahukan kehamilannya kepada kedua orangtuanya. Sudah pasti papa dan mamanya semakin tidak mempercayainya bila mengetahui ia sedang hamil.
Marissa merenungi nasibnya ke depan, ia diambang ketidak pastiaan, apakah akan mempertahankan bayi yang berada di kandungannya atau harus menggugurkannya, tidak disadari air matanya berjatuhan begitu saja di pipinya.
Apakah ini hukuman bagiku karena tidak pernah mendengar nasehat papa dan mama. Aku selalu egois. Aku ingin melakukan apa yang ku mau. Oh..Tuhan. Apakah semua ini masih bisa diperbaiki. Aku tidak ingin bertemu laki-laki itu lagi. Aku ingin hidup tenang.
Marissa menangis, tubuhnya yang terasa lemah dijatuhkannya begitu saja, kini ia terduduk di balik pintu kamarnya. diapitnya kedua kaki dengan tangannya, kepalanya diletakkan diatas lutut, nalurinya berteriak, saat ini ia ingin sekali bertemu dengan kedua orangtuanya, menceritakan semua yang terjadi, tetapi kedua orangtua itu selalu sibuk memperbesar bisnisnya. Mereka mengabaikan putrinya. Mereka mengira uang adalah kunci kebahagiaan.
tret..tret..
Marissa melihat ponselnya, Mars menghubunginya, ia sedang malas mengangkatnya, dibiarkannya sampai nada panggil itu berhenti sendiri.
***
"Argh...aku lelah, Rey. Aku langsung ke kamar saja." Alina membawa semua paper bag yang berisi baju dan pakaian yang dibeli Rey di mall tadi.
Alasannya mengajak Alina hanya berbelanja kenyataannya Rey mengajak Alina makan dan jalan-jalan, hingga malam tiba merekapun baru tiba di rumah.
"Kau tidak mengucapkan terima kasih padaku ?" Rey memegang tangan Alina supaya tidak meninggalkannya.
"Sudah tentu aku berterima kasih. Kau sudah membelikan barang sebanyak ini untukku." Alina mengangkat kedua tangannya bermaksud menunjukkan beberapa paper bag yang sedang menggantung di sana.
__ADS_1
"Bukan begitu caranya berterima kasih, tapi begini." Rey menarik pinggul Alina hingga tubuh Alina mendekat kepadanya, Rey menatap Alina yang terlihat gugup.
"Rey, kau mau apa ?" Alina berbisik di hadapan wajah Rey yang jaraknya begitu dekat.
Rey menarik tengkuk leher Alina kemudian menyatukan bibirnya dengan milik Alina. Rey mencium bibir Alina dengan lembut. Melihat Alina gugup justru membuat Rey semakin gemas.
Rey menyudahi ciumannya. Ia melihat Alina diam dan menunduk, Rey meletakkan jarinya di dagu Alina, kemudian mengangkat wajah itu dengan perlahan. Rey mengusap pipi Alina yang tampak merona.
"Sampai kapan kau memperlakukan aku seperti ini, Rey." ucap Alina.
"Sampai aku...." Rey menjeda ucapannya.
" Istirahatlah ! Pasti kau sudah lelah." lanjut Rey kemudian melepaskan tangannya dari pinggul Alina.
Alina menyusul Rey ke kamarnya, entah keberanian dari mana tiba-tiba saja ia ingin jujur mengungkapkan seluruh isi hatinya.
Alina membuka pintu kamar Rey. Baru saja ia ingin memanggil Rey, ia mendengar Rey sedang menelepon.
" Kau sudah makan ?"
"Hmm. Baiklah. Selamat bekerja."
Rey meletakkan ponselnya, ia melihat Alina berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Alina, ada apa ?" Rey bertanya kepada Alina karena mungkin ia memerlukan sesuatu.
Alina hanya diam dan menundukkan kepalanya. Rey menghampiri Alina. Ia melihat raut wajah Alina seperti sedang marah.
"Kau baik-baik saja ?" tangan Rey memegang kedua lengan Alina.
"Kau mencintai Jean ?" kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Alina.
"Untuk apa kau tanyakan itu ?"
"Jawab Rey. Aku ingin tahu."
Rey melihat Alina tidak seperti biasanya, ini bukan sifat Alina, biasanya ia tenang dan terkontrol emosinya, cenderung cuek dan tidak banyak bicara.
"Kau sedang cemburu ?" bibir Rey terangkat ke atas, ini yang ingin ia lihat dari Alina.
"Jawab pertanyaanku Rey."
"Bagaimana kalau jawabanku, iya." Rey ingin mengetahui jawaban Alina
"Ya, memang ia lebih pantas untukmu." Alina membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar kamar Rey.
Seringai licik terlihat jelas di wajah Rey, Ia mau melihat seberapa kuat Alina menahan perasaannya.
__ADS_1
bersambung