
Sementara Bima mencari Alina ke setiap lorong-lorong hotel tersebut. Matanya ke sana-kemari untuk mencari sosok tunangannya. Ia memeriksa toilet dan setiap sudut ruangan hasilnya nihil, Alina hilang bak ditelan bumi. Bima berusaha menghubungi ponsel Alina hasilnya sama saja tidak ada jawaban.
Bima melaporkan kehilangan Alina di hotel tersebut kepada sekuriti, ia meminta mereka membuka CCTV, Bima menggeram ketika diketahuinya seseorang membawanya ke dalam satu ruangan berselang beberapa saat Alina keluar dengan baju yang berantakan. Lama Bima memperhatikan CCTV itu, ia ingin mengetahui siapa yang membawa Alina ke ruangan tersebut. Tidak berapa lama layar di depan Bima menunjukkan seorang pria dengan postur tinggi dan berbadan besar keluar dari kamar tersebut, ia memakai masker dan topi di kepalanya sehingga wajahnya tidak kelihatan.
"Aku harus melaporkannya ke polisi". Bima semakin kesal melihat empat layar yang jelas menampilkan Alina sedang menangis berlari meninggalkan hotel.
" Hanya sebatas itu rekamannya, pak."sekuriti itu memberitahu Bima.
***
Subuh-subuh Alina tersentak dari tidurnya, ia menggerakkan tangannya untuk membuka selimut tebal yang dipakainya.
Argh....Alina terkejut melihat tubuhnya yang tidak mengenakan apa-apa, ia menoleh ke samping ada seorang pria yang tidur disampingnya. Alina berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam. Ia memalingkan kembali wajahnya untuk melihat wajah pria yang tidur dengannya.
" Rey." wajah Alina pucat pasih bayangan kejadian malam tadi satu persatu bermunculan dipikirannya.
Alina berusaha turun dari ranjang, karena bagian intinya masih terasa perih dan sakit ia susah untuk bergerak. Dengan usaha yang gigih akhirnya ia dapat bergerak pelan turun dari ranjang. Alina mencari baju yang dikenakannya malam tadi tapi ia tidak menemukannya akhirnya Alina mengambil kemeja Rey yang terjatuh di lantai, dipakainya, ia tidak mau membuang waktu berada di kamar itu, ia ingin cepat-cepat pergi, ia takut Rey bangun dari tidurnya.
Alina membuka knop pintu dengan perlahan baru saja ia akan melangkah sepasang tangan merangkul pinggangnya dari belakang, Rey sudah bangun dari tadi dan ia berpura-pura tidur agar tidak ketahuan Alina.
" Mau kemana kau?" wajah Rey sudah berada di curuk leher Alina.
"Hmm. Maaf. Ini...."
"Kau telah mencuri keperjakaanku dan kau harus bertanggung jawab." Rey masih memeluk Alina dari belakang
What? Bukannya dia yang mengambil keperawananku? kenapa pula aku yang harus bertanggung jawab. Harusnya aku yang menuntut pertanggung jawaban darimu, tuan.
"Lepaskan!" Alina berusaha melepaskan tangan Rey yang masih melingkar di pinggangnya.
"Sudah ku bilang kau harus bertanggung jawab."
"Bukannya aku yang harusnya minta pertanggung jawaban darimu?"
"Siapa yang memulai?"
"Sudah...sudahlah, anggap saja itu kesalahan." Alina menepis tangan Rey.
Rey menarik Alina hingga ia berbalik menghadap Rey, sebentar mereka saling tatap.
__ADS_1
"Kau milikku sekarang."
"Tidak. Kau tahu aku akan menikah dengan Bima." Alina berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Rey.
Rey mempererat pelukkannya kini jarak mereka begitu dekat, Alina menelan salivanya melihat tubuh Rey yang berisi dan bertelanjang dada terpampang di hadapannya, Alina menjauhkan pandangannya dari sana.
"Kalau kau menolakku, aku akan menceritakan semuanya kepada Bima dan satu lagi di dalam rahimmu itu sudah ada bibit keturunanku."
"Aku tidak peduli, Rey. Aku tidak mau menyakiti Bima. Ia sudah sangat baik kepadaku. Aku akan segera bertemu dokter untuk mengurus rahimku agar bibit keturunanmu tidak berkembang di sana. Dan kupastikan aku tidak akan hamil."
"Apa? Tidak bisa!" Rey marah karena ucapan Alina.
"Kau tidak akan kemana-mana mulai saat ini." Rey mengangkat Alina dan menghempaskannya kembali ke ranjangnya.
"Rey ! Kau benar-benar gila."
Rey mendekat dan menarik Alina kepelukkannya. Dia tidak peduli dengan penolakkan Alina yang dengan sekuat tenaga ingin melepaskan tangan Rey yang mengunci tubuhnya.
"Sudah berapa kali bibirmu ini mengucapkan kata-kata itu, hah? Aku memang tergila-gila padamu, Al." Rey mengecup bibir Alina dengan susah payah karena Alina terus menghindar.
Rey mengapit tubuh Alina dengan kedua kakinya, tangannya memegang tengkuk leher Alina agar Alina tidak bergerak-gerak yang justru membuat hasrat Rey bangkit kembali.
"Asal kau janji tidak pergi dari sini."
" Tapi, itu tidak mungkin. Bima pasti mencariku dan bagaimana dengan ayahku, ia dalam bahaya."
"Ceritakan apa yang terjadi denganmu semalam! Aku melihat kau di halte dengan pakaian yang berantakan, dan siapa yang memberimu obat itu." Rey melonggarkan pelukkannya kini ia menatap Alina dengan penuh rasa iba. Di rapikannya rambut Alina yang berserakkan di keningnya, ia mengagumi kecantikan Alina, di usapnya bibir merah yang baru saja diciumnya, bibir itu masih basah dan terus menggoda.
Cup...
Rey kembali mendaratkan ciumannya di bibir Alina, Rey melakukannya dengan lembut, Alina hanya diam, ia memejamkan matanya dan menikmati ciuman yang diberikan Rey.
"Kau menikmatinya?" Rey melepaskan pagutannya dan menarik hidung Alina, senyumnya terbit begitu saja melihat Alina diam dan menikmatinya.
"Hmm." Alina membuka matanya, wajahnya memerah melihat Rey menatapnya dengan jarak yang begitu dekat.
"Pakai bajumu, Rey."
"Kau tidak tahan melihatnya !" Rey terkekeh melihat Alina menunduk malu.
__ADS_1
"Jadi ceritakan yang tadi malam." ucap Rey kemudian.
Alina mulai menceritakan semua yang terjadi padanya malam itu. Rey begitu serius mendengarkannya. Di sela-sela ceritanya Alina sesunggukkan mengingat pria itu hampir saja mencelakainya dan terbayang bagaimana nasibnya ke depan yang pastinya tidak akan mudah dilewati rencana pernikahannya dengan Bima pasti akan membawa masalah, apakah Bima dapat menerima dirinya yang tidak suci lagi, dan Alina tidak dapat membayangkan tanggapan keluarga Bima kepadanya. Belum lagi tanggapan rekan kerjanya dan orang lain.
"Mars bertemu denganmu tadi malam?" Alina mengangguk sambil mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Tidak ada hubungannya dengan pria itu, Rey. Ini urusan ayahku dengan dia. Ia mempunyai dendam yang belum terbalaskan dengan kami."
"Aku tidak mau membawa kau dalam masalahku. Biarkan aku pergi! Semua yang kita lakukan adalah kesalahan yang tidak disengaja. Malam itu aku dikuasai oleh obat." Alina mengangkat wajahnya dan menatap Rey sambil memohon agar ia diijinkan pergi.
Melihat air mata Alina yang berjatuhan di pipi Alina ada perasaan tak tega di hati Rey. Ia menangkup kedua pipi Alina dan mencium kembali bibir ranum yang basah dengan air mata Alina.
"Aku cinta kamu, Al."
"Apa?"
"Kenapa otakmu terlalu bodoh membaca perasaanku. Dari dulu aku sudah mencintaimu." Rey menjentikkan jarinya di kening Alina.
"Aduh...sakit, Rey."
" Bagaimana denganmu? Apa kau tidak punya rasa denganku yang kaya dan tampan ini?"
"Tidak sama sekali.Aku..."
"Stop ! Jangan katakan dihadapanku lagi kau mencintai Bima."
Senyum di wajah Rey hilang begitu saja, Ia melepaskan Alina dari pelukkannya. Ia berbalik dan beranjak dari ranjangnya.
"Rey ! "
Kedua tangan Alina mendekapnya dari belakang, Rey berhenti dan berbalik menatap Alina. Mulut mereka saling diam tapi mata mereka berbicara. Rey menangkup pipi Alina dan mengusap bibirnya degan ibu jarinya. Alina menaikkan tubuhnya dengan cara berjinjit kemudian ia memberikan kecupan di bibir Rey.
Rey melotot tidak percaya Alina berani melakukannya, kini kedua pasang mata mereka sedang beradu, jantung Alina berdetak begitu cepat, wajahnya merona, Alina mengalihkan tatapannya karena Ia tidak berani menatap Rey.
Rey menarik rahang Alina dan mencium bibirnya dengan begitu menggebu-gebu, kali ini Alina membalasnya meskipun sangat kaku karena ia tidak pernah melakukan sebelumnya. Sosok Reylah yang pertama sekali mencuri keperawanan bibirnya.
Pagi itu kejadian semalam terulang lagi, mereka berdua bergelut di ranjang yang sama, kali ini mereka melakukannya dengan sadar. Alina tak berhenti mendesah, miliknya sudah tidak seperih yang dirasakannya malam tadi. Begitu juga Rey dengan semangat ia memberikan kenikmatan kepada Alina. Pagi ini mereka melakukannya dangan kesadaran penuh mereka lupa kalau di depan mereka akan terjebak masalah yang rumit setelahnya😀
bersambung
__ADS_1
"