Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
menggodamu


__ADS_3

" Roi. Aku sudah selesai memasak. Ayo kita makan !" wajah Silvi nongol di depan pintu ruangan kerja Roi. Ia mendekati suaminya yang masih bekerja memeriksa dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerjanya.


" Sudah. Nanti saja diteruskan. Kita makan dulu, ayo !" Silvi mengambil dokumen yang sedang dipegang oleh Roi, meletakkannya di meja. Dan menarik tangan Roi untuk ikut bersamanya ke meja makan.


" Aku bisa sendiri. Lepaskan tanganku !" Protes Roi kepada istrinya yang menarik tangannya.


Silvi berjalan terus dengan tetap memegang tangan Roi, ucapan suaminya itu seolah-olah tak didengarkannya. Akhirnya Roi pasrah dan mengikuti istrinya menuju tempat makan.


" Lihat ! Aku yang memasak semuanya." Silvi sengaja memasak makanan kesukaan Roi, ikan mas yang diarsik, matanya berbinar berharap Roi menyukai masakannya.


" Tak perlu repot seperti ini ! Kau bisa memesankan makanan untuk kita !" tanggapan yang keluar dari bibir Roi membuat Silvi sedikit kecewa.


Dulu, paribannya itu yang meminta agar memasakkan masakan seperti itu padanya.


Silvi tersenyum menyembunyikan kekecewaannya.


Lagi-lagi...ia harus mengerti ingatan Roi belum pulih.


" Duduklah ! Aku siapkan untukmu !" Silvi mengambil piring yang kemudian menyendokkan nasi kepiring Roi, tak lupa ia menyuguhkan lauk pauknya dalam wadah yang berbeda.


" Kau mau disuapin Roi ?" Silvi bertanya menawarkan diri.


Mendapat tawaran seperti itu, Roi sedikit geli.

__ADS_1


" Aku bisa sendiri." Tolak Roi, kemudian ia mengambil piring berisi nasi yang sudah disediakan istrinya, ia mendekatkan wadah tempat ikan kehadapannya. Kemudian ia mulai memakan makanan yang disediakan istrinya. Diam-diam ia menatap istrinya yang sedang makan dengan lahap, ia makan dengan menggunakan tangannya.


" Kamu jorok. Pakai sendok kalau makan." ucapnya mengingatkan Silvi.


" Hehehe. Kalau makan ini, enaknya pakai tangan." kekeh Silvi menunjuk ikan mas yang dihadapannya.


Mata Roi serasa enggan beralih dari pemandangan dihadapannya. Melihat Silvi makan dengan lahap rasanya ia sudah kenyang.


Setelah makan malam selesai Roi kembali ke ruang kerjanya, ia masih melanjutkan pekerjaannya, bisanya ia akan beranjak tidur pada tengah malam.


Sudah menjadi kebiasaannya bekerja ditemani secangkir kopi, ia bangkit dari kursi, menggerak-gerakkan tubuhnya yang terasa pegal, ia berjalan ke dapur untuk menyiapkan secangkir kopi untuknya.


" Oek...oek.." sayup-sayup Roi mendengar suara dari kamar mandi. Dengan penasaran Roi memeriksa kamar mandi mereka.


" Apa yang terjadi ?" Roi membantu istrinya untuk berdiri.


" Perutku sakit Roi." desis Silvi sambil meringis


Roi mengambil tangan istrinya, dikalungkan dilehernya, kemudian memapah Silvi kembali ke kamar.


" Apa kau salah makan ? atau keracunan makanan tadi ?" tanya Roi pada istrinya yang sedang meringis menahan rasa sakit di perutnya.


" Bantu aku berbaring ! Sebentar lagi juga baikan." Silvi mengabaikan pertanyaan Roi. Setelah Roi membantu istrinya berbaring, ia duduk dipinggir ranjang.

__ADS_1


" Terima kasih. Kandunganku memasuki bulan ketiga. Apa kau tidak ingat? Kita akan dikaruniai seorang baby. Aku seperti tadi karena dia." jelas Silvi menunjuk perutnya kemudian mengusapnya dengan lembut.


Silvi mengambil tangan suaminya dan meletakkan pedsis di perutnya.


" Kau boleh menyapa dia."


Roi terlihat gugup, ia membuang tatapannya kearah lain, ucapan papihnya tergiang di telinganya kalau Silvi sedang hamil dan mengalami masa mengidam yang parah. Roi menggelengkan kepalanya.Ia kembali menatap istrinya. Ada rasa haru menjalar di hatinya.


" Istrahatlah !" Roi mulai mengelus pelan perut Silvi. Ia menatap Silvi yang juga sedang menatapnya. Kedua pasang mata mereka seakan berbicara. Silvi menepuk kasur empuk disebelahnya, kemudian ia meminta suaminya tidur disampingnya.


" Aku ingin memelukmu. Please ! Aku merindukanmu, Roi." Silvi merentangkan kedua tangannya.


Roi semakin gugup, ia tak tahu harus berbuat apa saat ini, hatinya enggan memenuhi permintaan istrinya.


" Tidurlah ! Aku menjagamu disini." ucap Roi mengalihkan pandangannya.


Dengan sigap Silvi menarik Roi, tubuh suaminya itu rebah tepat disebelahnya. Silvi memeluk erat tubuh Roi, rasa rindu di hatinya sudah tak dapat di bendung.


Roi hanya diam membiarkan istrinya memeluknya dengan erat, ada rasa hangat dihatinya. Tiba-tiba ia merasakan ada sesuatu yang menempel dibibirnya, Roi melebarkan matanya, menatap Silvi yang baru saja memberinya kecupan.


Sesuatu yang hangat mengalir dalam kedua hati mereka, meskipun Roi masih merasa asing dengan istrinya Silvi, nalurinya berkata bahwa ia bahagia.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2