
"Kau serius dengan perkataanmu?" Bima menatap wajah Marissa yang pipinya terurai air mata.
Marissa tidak menanggapi pertanyaan Bima. Ia sudah tidak ingin berlama-lama berada di depan Bima, itu hanya membuatnya semakin terluka.
" Lepaskan tanganku." Marissa menepis tangan Bima dengan keras.
" Jika kau ingin meninggalkan aku, itu tidak akan berhasil." Bima menarik tangan Marissa ketika ia ingin berbalik dan pergi menjauh dari Bima.
Kini Marissa berada di pelukkan Bima. Wajah mereka berhadapan dengan jarak yang begitu dekat.
Tidak ada satu kata pun terucap dari bibir dan mulut kedua-duanya. Hanya ada tatapan yang saling mengunci.
Bima merangkul erat tubuh Marissa. Ia selama ini mencoba untuk menguji hatinya, setelah mendengar kabar dari Bobi bahwa Marissa akan pergi meninggalkan Indonesia, ada perasaan takut kehilangan dalam diri Bima. Ia takut bila akan kehilangan wanita yang benar-benar mempercayakan hidupnya kepada Bima.
"Aku tidak mau kehilanganmu." Bima berbisik di telinga Marissa sambil terus mendekapnya.
"Apa? Mak...sud..ku, kau serius dengan apa yang kau ucapkan barusan?" Marissa mendorong sedikit tubuh Bima agar ia bisa menatap matanya, ia mencari kesungguhan di sana.
Bima mengangguk mengiyakan pertanyaan Marissa. Bima menarik kembali tubuh Marissa kepelukkannya.
" Hm. Apa kalian tidak malu menjadi tontonan mereka ?" senyum samar terbit begitu saja dari wajah Bobi yang coba menggoda Bima dan Marissa.
Marissa tertunduk malu. Bima tersenyum menanggapi ucapan asisten Marissa.
__ADS_1
" Terima kasih, bro." Bima menyapa Bobi
" Mari kita temui papamu. Aku akan memintanya untuk merestui hubungan kita."
Marissa melebarkan matanya menatap Bima, tidak disangka keputusan Bima diluar dugaannya.
" Ada apa?" Bima menatap Marissa yang masih menatapnya dengan heran.
" Maaf. Ku kira aku salah dengar."
" Tuan Hadi ada di dalam." Bobi memberitahu Bima kalau bossnya itu masih berada di ruang meeting.
" Bim...Aku takut papa tidak menyetujui permintaanmu." suara Marissa kedengaran begitu galau.
" Sebelah sini." Bobi berjalan di depan membawa Bima yang begitu bersemangat untuk bertemu tuan Hadi.
Kini mereka berada di sebuah ruangan segi empat yang membawa mereka menuju lantai 8 tempat pemimpin perusahaan bekerja.
" Tanganmu gemetar dan dingin. Why?" Bima melihat Marissa begitu gelisah.
Bobi tahu apa yang dipikirkan Marissa, ia khawatir tuannya itu tidak merestui hubungannya dengan Bima.
"Tenangkan dirimu." Bima mengusap kepala Marissa.
__ADS_1
Bobi yang melihat sikap Bima merasa bahagia, ia tahu nonanya itu skan tahluk oleh cinta Bima, hanya Bima lah yang dapat mengarahkan Marissa untuk berubah.
"Argh. Perutku sakit." Marissa meringkuk sambil memegang perutnya.
Bobi dan Bima hampir bersamaan memegang tubuh Marissa.
"Kita ke rumah sakit sekarang." Bima langsung mengalihkan lift ke lantai bawah.
Setelah keluar lift Bima mengangkat tubuh Marissa di gendongnya ala pasangan pengantin.
Wajah Marissa tampak pucat, sambil meringis ia menahan rasa sakit di perutnya.
Segera Bobi melarikan mobil yang di setirnya dengan cepat. Bima memegang tangan Marissa memberi kekuatan agar Marissa bertahan.
Syukurlah rumah sakit tidak begitu jauh dari perusahaan milik keluarga Marissa.
" Dokter cepat tolong istri saya." Bima meneriaki dokter yang belum memeriksa Marissa.
" Baik pak." demi mendengar teriakan Bima dokter itu cepat bergegas menemui Marissa dan Bima.
Ayoo...tebak...kira-kira Icha kenapa ya ????
Bersambung
__ADS_1