
Rey sedang berkutat di dapur ia sedang sibuk menyiapkan makan siang untuk mereka berdua sumpah demi apapun memasak baru dilakoni Rey pertama sekali biasanya urusan seperti ini dikerjakan oleh asisten rumah tangganya. Sejak menjabat sebagai pimpinan di perusahaan Rey tidak lagi mempekerjakan asisten rumah tangga di apartemennya, Tomas yang mengatur semua keperluan Rey. Urusan makanan Tomas menggunakan jasa online, jadi ia membeli makanan dengan layanan pesan antar, sedangkan pakaian Rey biasanya diberikan kepada binatu.
"Sedang apa kau, Rey." Alina yang sudah bangun dari tidurnya melihat Rey sedang sibuk di dapur, ia tampak kebingungan untuk memasak makanan.
"Hmm. Kau sudah bangun. Aku ingin memasak sesuatu hanya aku bingung harus bagaimana memulainya." Alina terkekeh melihat Rey yang menggaruk-garuk kepalanya meskipun tidak gatal.
"Sini ! " Alina mendekat dan melihat apa yang disiapkan Rey untuk dimasak.
"Hanya memasak spagethi saja?" Alina mengambil alih peralatan memasak yang dipegang Rey.
Dengan cekatan Alina mencampur semua bahan-bahan, memasak adalah keahlihannya. Meski tidak lulus dari sekolah khusus Alina bisa menyiapkan berbagai jenis masakan dengan rasa yang lezat. Hanya lima belas menit masakan sudah terhidang rapi di meja makan.
Rey yang sedari tadi memperhatikan Alina memuji kecekatannya melakukan pekerjaan memasak. Rey membayangkan jika mereka benar-benar menjadi suami istri dijamin Rey akan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah menikmati masakan Alina.
"Rey ! Sampai kapan kau melamun di situ." Alina terkekeh lagi.
"Makanlah! Aku membersihkan tubuhku dulu."
" No ! Suapin aku !" Rey berjalan mendekat kepada Alina dan menarik tangannya agar duduk disamping Rey.
Alina menurut saja, memang Rey adalah tuannya pantas kalau ia harus dilayani apalagi Rey sendiri yang memintanya.
"Untuk ke depan kau harus tinggal di sini, kau harus mengurusi aku." ucap Rey sambil mengunyah makanannya.
"Tidak bisa, Rey. Bima akan mengetahuinya dan lagi pula aku tidak mau kau terlibat dalam masalahku. Kita berhubungan layaknya rekan kerja saja." jelas Alina
"Al, kenapa kau selalu menolakku ? Apa memang kau tidak tertarik denganku ?"
"Jenni lebih pantas untukmu. Status kita berbeda Rey. Jangan membuat keadaan lebih kacau. Tolong mengerti Rey."
__ADS_1
"Baiklah !" Rey menyelesaikan kunyahan terakhir di mulutnya.
"Aku mandi dulu. Setelah itu kita berangkat ke kantor." Rey menggeser tempat duduknya kemudian berdiri dan meninggalkan Alina yang masih makan. Alina tahu Rey tidak suka bila dirinya membahas tentang Bima tetapi apa mau dikata Alina harus tetap menjaga kemartabatannya dan keluarga karena ia dsn Bima akan segera menikah. Alina diam-diam merencanakan akan menyelesaikan masalahnya dengan caranya sendiri.
Rey sudah menyelesaikan ritual mandinya. Ia tidak banyak berbicara. Sambil menunggu Alina berkemas, Rey membuka tab nya, ia memeriksa beberapa email yang masuk.
Rey melihat Jean beberapa kali menghubunginya karena semalam Rey tidak memberitahu kepergiannya membawa Alina.
" Hai, Jean. Maaf aku baru menghubungimu." akhirnya Rey memutuskan untuk menelepon sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaan Alina ? Kau pergi begitu saja. Aku mencemaskan kalian."
"Alina sudah ditangani orang yang tepat. Kau tidak perlu cemas. Aku akan mengajakmu makan malam nanti, kau ada waktu?" Rey ingin meminta maaf kepada Jean karena ia sudah menyusahkan sahabatnya itu.
"Baiklah! Pukul tujuh aku menjeputmu." Rey menyudahin pembicaraannya dengan Jean.
Di balik pintu Alina mendengar pembicaraan Rey dengan Jean. Hatinya sedikit cemburu. Ia merasa tidak terima Rey pergi dengan Jenni.
"Aku sudah siap ! Kita berangkat sekarang ?" Alina menyapa Rey yang masih fokus memainkan tabnya.
Rey mengangkat kepalanya dan melihat Alina yang sudah berdiri di hadapannya. Rey terpaku melihat Alina begitu cantik meskipun hanya memakai kaos dan celana pendek miliknya
"Kau ke kantor seperti itu ?"
" Aku tidak menemukan bajuku. Aku akan pulang dulu ke rumah. Dan pakaian ini akan ku kembalikan setelah aku cuci."
Rey menarik nafas berat, ia tahu Alina benar-benar serius akan menjauhinya. Rey hanya menganggukan kepalanya, kemudian ia beranjak dari duduknya meninggalkan Alina yang masih berdiri ditempatnya.
Alina mengekori Rey dari belakang sekarang mereka sudah duduk berdua di mobil. Rey enggan memulai pembicaraan, mobil sudah melaju di jalan raya kedua-duanya masih diam. Alina sangat canggung melihat sikap Rey yang seperti itu.
__ADS_1
"Rey, apa kau marah?"
"Kau mau turun dimana ?"
Alina terdiam ia tertunduk menahan air matanya jawaban Rey sangat ketus membuat hatinya terluka.
"Turunkan di sini saja ! Aku akan naik kendaraan umum ke rumahku." Alina membuang mukanya menatap pemandangan keluar karena kedua kelopak matanya terasa panas, ia tidak ingin Rey melihatnya menangis.
Rey menepikan mobilnya. Alina membuka pintu mobilnya tapi tidak bisa. Rey belum membukanya.
"Rey, bukakan..." Alina terkejut Rey menarik tengkuk lehernya dan mencium bibir Alina. Rey melakukannya dengan lembut ia berharap Alina membalas ciumannya.
Akhirnya Alina membalas ciuman Rey, diletakkannya kedua tangannya di pinggul Rey, ia memeluk Rey, ia terbuai dengan ciuman yang diberikan Rey.
"Aku mencintaimu, Al. Bisakah kau tidak menjauhiku? Aku berjanji akan menjagamu." Rey menangkup kedua pipi Alina.
Alina menatap Rey, ia melihat Rey tidak berbohong permintaannya terdengar sangat serius.Tidak dapat menahan rasa gembira dihatinya perlahan Alina mendekatkan dirinya dan mencium bibir Rey. Alina begitu agresif sebenarnya benih-benih cintapun sudah dirasakannya sejak Rey menciumnya pertama sekali saat mereka masih kuliah tetapi pada waktu itu Alina berusaha membuang jauh-jauh rasa itu karena Rey sudah mempunyai Marissa.
Alina tidak tahu penyebab berakhirnya hubungan Rey dan Marissa ia hanya mendengar kabar kalau mereka berdua terlibat permasalahan besar sampai membawa keluarga besar kedua belah pihak. Lama Alina tidak bertemu dengan Rey karena ia melanjutkan studinya di luar negeri membuat Alina benar-benar melupakan Rey dan mengubur dalam-dalam perasaannya kepada Rey.
" Katakan kau juga mencintaiku, sayang." Rey memohon kepada Alina disela-sela ciuman mereka.
Alina melepaskan bibirnya dari bibir Rey dan ia menatap kedua manik hitam Rey. Sejenak ia tersadar kalau ia tidak bisa memberi harapan kepada Rey, ia mengalihkan pandangannya dan Rey tidak tinggal diam diraihnya tubuh Alina dan dibawanya kepelukkannya. Alina merasakan bahwa Rey sangat mencintainya entahlah Alina harus menjawab apa sekarang statusnya tunangan Bima dan beberapa minggu lagi mereka akan menikah sedangkan hatinya memang lebih memilih Rey.
"Rey. Berikan aku waktu untuk memikirkannya." Alina mengangkat wajahnya dan kembali menatap Rey.
Rey menggelengkan kepalanya ia mengusap pipi Alina.
"Dengan cara apapun aku akan memilikimu." ucap Rey dihadapan Alina.
__ADS_1
Alina terkejut mendengar pernyataan Rey, ia menelan salivanya. Ia berharap Rey memikirkan kembali permintaannya itu.
bersambung