Jatuh Cinta Dengan Paribanku

Jatuh Cinta Dengan Paribanku
menangis


__ADS_3

Setelah beberapa hari Roi benar-benar pulih fisiknya, namun tidak demikian dengan ingatannya, Roi belum bisa mengingat apa pun. Sikapnya dari hari ke hari terkesan semakin dingin. Roi lebih banyak diam dan merespon pertanyaan apa adanya. Michel dan Nita kadang-kadang merasa terpukul dan tak berdaya atas kondisi putranya itu.


Demikian halnya dengan Silvi, keberadaan Roi memang dekat dengannya tetapi sikapnya tidak seperti dulu, Roi terkesan menghindar dari Silvi. Hal ini membuat Silvi sangat tersakiti ditambah lagi kondisinya yang lemah melewati masa-masa ngidam yang terbilang parah. Untunglah mamih Nita dan papih Michel selalu menguatkannya.


Dukungan dari keluarga besarlah yang membuat Silvi semangat menjalani hari-hari yang sangat berat untuk dilaluinya, setiap kali bertemu Roi, ingin rasanya ia memeluknya dan menceritakan semua yang dirasakannya saat ini, pada siapa lagi ia akan berbagi kalau tidak dengan suaminya. Tetapi perasaan itu harus ditahannya entah sampai kapan.


" Roi ! Kau sudah rapi." Silvi bangun dari tempat tidurnya bermaksud ingin menolong Roi memasangkan dasinya sebelum berangkat bekerja dan suaminya itu akan selalu menggodanya dan memberikan ciuman di pipi dan bibirnya. Itu dulu ketika Roi belum hilang ingatan.


" Sini aku pasangkan." Silvi ingin mengambil dasi yang sudah berada di tangan Roi.


" Tidak perlu ! Aku bisa memakaikan sendiri." Roi menepis tangan Silvi dan memakaikan dasi di lehernya dengan cepat.


Tangan Silvi yang terulur ingin membantu Roi masih menggantung di udara, di gigitnya bibirnya untuk menahan air matanya yang sudah memaksa untuk keluar.


Silvi membalikkan tubuhnya ia kembali duduk di ranjang, ia membelakangi Roi. Ia tak ingin Roi mengetahui ia sedang sedih.


" Terima kasih ! Kau sudah perhatian padaku. Aku ingin berangkat bekerja." Silvi mendengar Roi membuka pintu dan pergi meninggalkannya.


Sebuah kalimat yang membuat rasa sakit hatinya bertambah. Lagi-lagi Silvi harus memahami bahwa Roi memang masih belum pulih.


Setiap pagi Adnan akan menjemput Roi untuk berangkat bekerja. Michel belum mengijinkan Roi menyetir mobil sendiri.


" Apa Silvi salah satu perempuan yang dijodohkan mamih denganku ?"

__ADS_1


Adnan tahu bosnya itu bertanya kepadanya, Adnan menarik nafasnya, mulutnya enggan menjawab pertanyaan Roi.


" Adnan "


" I...Iya...tuan."


" Apanya iya ?"


" Maksud saya. Iya saya dengar tuan. Silvi adalah pariban tuan. Tuan sangat mencintainya." jawab Adnan dengan cepat.


Roi menarik nafas kasar. Ia mencerna apa yang diucapkan Adnan.


Betulkah aku mencintainya, tetapi mengapa aku tidak bisa merasakan sesuatu bila di dekatnya, justru aku merasa asing dengannya.


Adnan memperhatikan tuannya itu dari kaca spion, ia melihat Roi sibuk memainkan tab ditangannya.


Silvi memeriksa kembali penampilannya di depan cermin. Ia memakai makeup diwajahnya tanpa berlebihan.Siang ini ia akan membawakan makanan siang untuk suaminya, ia harus kuat dan sabar dengan sikap Roi.


Tubuhnya sedikit mengurus mungkin karena keinginan untuk makan dan minum masih belum normal. Mual muntahnya berangsur-angsur mulai berkurang, mungkin pengaruh obat anti mual yang diberikan dokter kepadanya.


Setelah selesai dengan tampilannya, Silvi mengambil tentengan yang sudah disiapkannya untuk sang suami tercinta. Silvi akan mengantarkan makan siang untuk Roi.


Disinilah Silvi berada sekarang, di perusahaan dimana suaminya bekerja.

__ADS_1


" Nyonya." Adnan menyapa Silvi yang akan masuk ke ruangan Roi.


" Aku boleh masuk ?"


" Tentu saja nyonya."


Silvi membuka pintu dengan perlahan. Ia melihat Roi sedang sibuk memeriksa file-file dihadapannya.


Bahkan ia tak menatapku.


" Selamat siang suamiku." Sapa Silvi berjalan mendekati Roi ke meja tempat ia bekerja. Tidak lupa ia menunjukkan senyum termanisnya di hadapan Roi.


Roi hanya menatap Silvi sepintas, kemudian ia mengalihkan pandangannya untuk memeriksa kembali file-file dihadapannya.


"Aku sedang sibuk. Apa kau perlu sesuatu ?" ucap Roi yang masih sibuk dengan berkas-berkas di meja kerjanya.


" Hmm. Bukankah sudah waktunya makan siang ? Aku memasak untukmu."


" Letakkan saja disitu. Sekarang pulanglah ! Pekerjaanku banyak. Jangan mengganggu !"


Adnan yang sedari tadi berdiri di depan pintu merasa tidak tega melihat Silvi yang masih berdiri menatap sang suami yang mengabaikannya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.


" Nyonya. Letakkan disini !" Ucap Adnan berusaha mencairkan suasana yang terlihat kaku dimatanya.

__ADS_1


" Baiklah ! Setelah ini aku akan pergi berbelanja. Makanlah nanti ! Aku sudah lelah memasaknya." Silvi berjalan keluar dari ruangan Roi dengan rasa kecewa.


bersambung


__ADS_2